Postingan

Pukul dua

huh, terlalu gampang kalian jatuh tertidur sementara aku termenung di sini iri mendengar tarikan napas teratur dalam nyenyak yang tak kunjung hinggap di mataku kalian entah sudah di mana menapak tak berjejak di dunia tak terpeta mungkin ingin yang tak teraih siang tadi kini telah tergenggam di jemari mata kalian terkatup bibir kadang menyungging senyum, atau menegang menampakkan kecewa nyaris menangis tanpa suara atau mengeluarkan bunyi mirip sepatah kata aku hanya bisa rindu akan kelelapan yang serupa karena kantuk masih belum tiba meski jam telah berdentang pukul dua aku tahu kalau berkah ketaksadaran itu belum juga kuraih dalam satu jam ini aku takkan bertenaga memenuhi janji dengan kalian esok pagi atau untuk ikut berlari di sepanjang hari menemani kalian ke sana kemari siapa itu yang bilang agar kantuk lekas datang gerakkan ujung jari kaki berkali-kali hm, baiklah mari kucoba lagi

ASI

Waktu pemeriksaan kesehatan Rasyad usia satu bulan di rumah sakit kemarin, saya bertemu lagi dengan beberapa ibu lain yang sekamar waktu melahirkan, melihat lagi bayi-bayi seangkatan Rasyad.  Hampir tak seorang ibu pun yang memberikan asi penuh tanpa tambahan susu formula. Mereka bilang, khawatir tidak cukup, jadi mereka memberikan susu botol setelah asi.  Ibu-ibu ini tidak mendapat informasi yang benar tentang menyusui. Justru tindakan yang mereka ambil itulah yang membuat produksi susu berkurang. Penambahan susu botol setelah pemberian asi dan sikap khawatir adalah dua hal yang tidak akan membantu mereka memproduksi asi yang cukup untuk bayi mereka.  Kecukupan asi, menurut yang saya baca, bukanlah masalah kapasitas, tapi soal teknik dan keyakinan diri. Kalau si ibu mendapat makanan dan istirahat yang cukup, bisa menyusui dengan posisi yang baik, maka persediaan asinya akan cukup.  Asi diproduksi sesuai jumlah yang dikonsumsi--inilah hukum matematika dalam menyusui. Mengapa mesti ce

Transisi

Kurang dari sepuluh pekan lagi waktu untuk kembali ke indonesia. Suasana berpisah mulai terasa. Barang-barang mulai dikemasi. Lima tahun tinggal di sini, kalau dimisalkan sebuah pohon, akarnya sudah tumbuh cukup kuat. Untuk mencerabut diri dari tempat itu perlu tenaga cukup besar, tapi yang tertinggal hanya terpaksa ditinggal, akar-akar halus yang sudah menyusup terlalu kuat: perasaan yang tertinggal, kenangan yang akan dibawa dan gambaran yang akan terus melekat dalam pikiran. Menyusun satu persatu buku-buku ke dalam kardus tadi pagi, tak terelakkan menyelinap sedikit rasa sedih di hati akan mengakhiri sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Semua yang berawal akan berakhir, memang. Tapi menyongsong sebuah akhir, bagaimana pun tetap terasa menyedihkan. Menyongsong sebuah kebaruan tetap terasa gamang, karena kita tidak tahu apa yang menanti di depan. Berkemas membuat kita bisa melihat betapa hidup sering dilalui dengan menunda-nunda pekerjaan dan menumpuk barang yang tak benar-benar perl

Novel tentang Kerja

Lima novel tentang kerja pilihan Ian McEwan : Rabbit at Rest by John Updike The car salesman. The longeurs and the accountancy deceits are beautifully wrought. Rabbit's shafting by a Toyota rep, Mr. Shimada, defines a time in the 1980s of American industrial nervousness. Towards the End of the Morning by Michael Frayn The journalist. Frayn is perhaps England's greatest comic writer. Grubby, compromised hacks haven't been done better since Evelyn Waugh's "Scoop." (The book was also published with the title "Against Entropy.") The Black Cloud by Fred Hoyle The astronomer. A huge entity hovering near earth turns out to be a colossal intelligence. It's completely unimpressed by our civilization; some Beethoven sonatas hold its attention for a while. Body and Soul by Frank Conroy The musician. A wonderful evocation of a young man's mastery of the technique of the classical piano. Conroy is a fine jazz player, with a highly regarded "walking&q

Mizutani-san 水谷 澄子

Ada rasa sepi menyelinap ketika pagi ini saya menengok ke apartemen tetangga di sebelah kanan. Jendela kacanya yang tak lagi bergorden, menampakkan kamar kosong dengan dinding polos. Halaman belakangnya yang dulu penuh tanaman kini hanya tanah coklat. Tak ada lagi ajisai putih yang cantik di pojok kirinya. Tak ada lagi rumpun-rumpun bunga dan beragam tumbuhan yang sering disirami dan disianginya. Semua sudah dibersihkan, dikemas, dan dibagikan ke para peminat karena penghuninya mesti pindah rumah dua hari yang lalu. Kalau sekadar tetangga biasa saya pasti tidak akan merasakan kesan sepi itu. Penghuni apartemen ini sering berganti, selalu datang dan pergi, terutama yang di lantai dua. Meski tinggal dalam satu bangunan, kami nyaris tidak saling mengenal. Hanya nama di kotak pos yang membuat kami bisa menyebut siapa yang tinggal di kamar nomor berapa. Tapi tetangga yang satu ini berbeda. Beliau seorang nenek yang berusia mendekati delapan puluh tahun. Sejak pertama kami tinggal di apartem