i-Rambling

saya selalu melewati toko itu kalau mau belanja ke discount. toko sayur di pertigaan jalan, kecil dan tua. ketika melewatinya saya sempat melihat label harga yang dipasang di setiap kelompok sayuran. bawang bombay satu plastik isi enam seratus yen. timun seplastik isi empat delapan puluh yen, wortel juga seratus. terong dan labu juga. harganya lebih murah. tapi saya tidak pernah berhenti di sana.

mungkin hanya karena kebiasaan saya selalu berbelanja di tempat yang sama. discount memang toko yang lebih murah dibanding supermarket yang lain. meski untuk berbelanja di situ saya harus berdesak-desakan di tempat parkir sepeda, dan bersempit-sempit di lorong belanja karena toko itu begitu padat barang dan padat pengunjung. pada saat membayar pun harus antri panjang, apalagi di akhir pekan. saya tidak pernah keberatan dengan semua pengalaman belanja yang susah payah ini, karena saya memang membutuhkan harga yang murah dan barang yang baik.

tapi kemarin saya mendapat pengalaman belanja yang berbeda. pulang dari discount saya mampir di warung sayur tua itu untuk membeli buah plum. buah ini tidak ada di discount. waktu berkunjung ke tempat rahma tiga hari lalu saya mendapat suguhan buah ini dan jadi ingin mencicipinya lagi. saya turun, memarkir sepeda di pinggir jalan yang kosong, mengambil buah itu dan menyerahkannya kepada ibu tua penjaga toko. dia membungkus buah itu dalam kantong plastik sambil menyebutkan harganya. tak ada tambahan pajak lima persen dari harga yang tertera di atas kertas.

ada seorang lagi penjaga toko ini, seorang pria yang duduk di meja kasir. ketika saya datang dia sedang berbicara lewat telepon. barangkali anak ibu itu. saya datang disambut dengan irasshaimase seperti biasa, ketika pulang dilepas dengan sayonara dan arigato gozaimashita, ditambah lambaian tangan untuk hanifa. ketika hanifa membalas lambaian itu, mereka tertawa dan mengulangi lagi sapaan perpisahan. terasa akrab. saya bayangkan, seandainya saya jadi pembeli tetap di warung itu, setiap hari bertemu, belanja di situ pasti akan disertai obrolan panjang seperti dengan seorang kenalan dekat.

pengalaman ini berbeda sekali dengan belanja di supermarket. orang berjalan sendiri, diam, melihat barang tanpa lihat orang kiri kanan, tak ada pembicaraan dan sapaan ramah dengan pemilik toko. membayar dengan ucapan-ucapan standar dari kasir yang berjejer seperti mesin. pergi tanpa salam perpisahan yang hangat. saya tetap anonim di antara para pembelanja. pergi tanpa bekas, datang tanpa sapa. hanya satu titik di tengah lautan orang.

siapakah pelanggan di warung sayur kecil itu? pesaingnya sudah sangat dekat dan semakin menggelembung, dengan kekuatan daya tarik yang hebat. semua orang seperti tersedot untuk berbelanja ke sana. mungkin ibu tua itu sudah berpuluh-puluh tahun jualan di sana, melanjutkan usaha orangtuanya. toko itu sudah brtahan tiga generasi saat ini. pelanggannya barangkali adalah orang-orang tua yang tinggal berdekatan dengannya. pelanggan yang adalah kenalan dekat dan teman mainnya waktu kecil. berapa lama dia dapat bertahan dengan usaha itu? barangkali sepeninggal ibunya, anak laki-laki itu memutuskan untuk mengganti usaha, menyewakan pojok tanahnya kepada usaha hiburan atau properti. warung sayur kecil itu menyerah pada arus perubahan deras yang tak bisa dilawannya.

--
saya selalu merasa bahwa orangtua saya berada pada kelompok umur yang takkan pernah saya raih. bahkan di saat ini ketika saya mempunyai anak dan mengalami menjadi orangtua, saya sulit membayangkan bahwa orangtua saya pernah mengalami hidup dalam usia saya saat ini. meskipun kalau saya hitung-hitung, ibu saya berusia 29 tahun saat melahirkan saya, tapi 29 tahunnya ibu saya terasa tetap tak terjangkau oleh saya. usia mereka seolah-olah dipisahkan oleh jarak yang tidak terjembatani oleh masa sepanjang apa pun.

Comments

Artikel Baru

Dua Bulan di Langit 1Q84

Dilema Schadenfreude

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan