Postingan

Menampilkan postingan dengan label buku foto

"Gods I've Seen": Jelajah Religi Hindu

Gambar
(c) Phaidon Buku ini merupakan salah satu dari rangkaian buku-foto Abbas tentang agama-agama besar dunia. Dalam buku ini Abbas yang menampilkan unsur-unsur ritual agama seperti angin, air, tanah, dan api, sihir, spiritualisme hewan--untuk mengeksplorasi misteri agama Hindu. 

Jalan Swaterbit di KDP Amazon

Gambar
Swaterbit adalah pilihan yang sangat terbuka saat ini bagi mereka yang ingin menerbitkan buku. Teknologi print-on-demand (POD) telah membukakan kemungkinan swaterbit seluas-luasnya. Ada banyak jenis layanan yang tersedia. Di Indonesia sudah ada sejumlah usaha percetakan yang menerima pemesanan POD seperti di  sini  dan di sini . Tidak ada jumlah cetak minimal. Harga dan kualitas untuk cetak satu eksemplar, sama saja dengan cetak banyak. Demikian asas yang berlaku dalam POD. 

"Barefoot on the Beach"

Gambar
Saya baru menerbitkan satu buku lagi di Amazon.com dan Lulu.com , menggunakan platform swaterbit pada kedua situs web. Edisi Amazon dirilis pada 1 Juni 2021 dengan foto-foto fullcolor. Sedangkan edisi Lulu dirilis pada 8 Juni dalam versi foto hitam putih.  Buku ini merangkum foto-foto bertema laut yang saya ambil sejak 2012 hingga 2020 di berbagai tempat. Saya pilih judul "Barefoot on the Beach" mengikuti judul salah satu lagu Michael Franks favorit saya, yang terasa tepat dengan topik buku ini. Bila berkenan memesan, silakan klik tautan berikut:  Amazon   Lulu.com

"Jurnal Banda": Dokumenter Tanah Pala

Gambar
Banda adalah nama yang kerap muncul dalam pelajaran sejarah Indonesia. Bicara sejarah Indonesia pasti tidak bisa lepas dari membicarakan tentang Banda, karena gugus kepulauan di bagian timur Indonesia ini merupakan alasan bagi kedatangan para penjelajah laut dari negeri-negeri Barat yang kemudian menjadi penjajah. Di kepulauan inilah tempat asal rempah yang pada abad pertengahan dihargai setara emas dan menjadi komoditas penting perdagangan dunia masa itu: Pala. Banda pada abad ketujuh belas menjadi perebutan antara negara-negara adidaya di zaman pelayaran samudra: Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Belanda berhasil menguasai Banda pada tahun 1621, membantai ribuan penduduk asli. Mereka memonopoli perdagangan rempah dan mendirikan tak kurang dari dua belas benteng di kepulauan Banda, menunjukkan pentingnya posisi gugusan pulau kecil ini  sebagai penopang kekuatan ekonomi kerajaan Belanda.