Posts

Showing posts from June, 2009

Indeksomania

Ini istilah yang baru kujumpai dalam naskah yang sedang aku kerjakan. Mungkin ini bukan istilah yang benar-benar ada, hanya rekaan pengarangnya. Dia mengajukan ini sebagai sebutan untuk orang yang terobsesi untuk mengumpulkan dokumentasi tentang segala hal semua subjek yang ada di dunia. Billy Kwan salah satu tokoh dalam buku The Year of Living Dangerously, seorang manusia cebol yang bekerja sebagai jurukamera lepas untuk wartawan ABS, menyimpan di lemari arsipnya banyak file dalam map manila yang dijuduli berbagai subjek. Dia menyimpan file tentang semua temannya, semua tokoh politik Indonesia tahun 1965-an.

Apakah ada satu kata untuk obsesi mendokumentasi? Indeksomania, mungkin? Itulah obsesi utama Billy—seolah-olah dia ingin mendokumentasikan dunia. ...dari etnologi hingga kota-kota, dari psikologi abnormal hingga Zen. (h. 100)

Liburan

Berita utama di koran PR hari minggu kemarin berjudul: "Objek Wisata Padat dan Macet." Sudah pasti, masa liburan begini. Tapi bikin sedikit jeri, ada kesempatan untuk berkunjung, jalan-jalan, tapi di mana-mana macet, berdesak-desakan, membuat kalimat 'there's no place like home' menjadi sangat terasa manisnya. Lalu, mau ngapain selama masa liburan. Masa nggak ke mana-mana.

Oh, siapa yang mendikte kita harus selalu mengaitkan liburan dengan jalan-jalan. Hanya pada waktu liburan? Ayolah, dengan situasi dan fasilitas transportasi dan pariwisata kita yang begini, saya lebih suka untuk bepergian dan jalan-jalan bukan pada masa liburan massal: ambil jeda di tengah semester, pergilah berkunjung ke berbagai objek wisata dengan lebih nyaman (meski minus atraksi yang khusus dimunculkan pada masa liburan).

Dan masa liburan sekolah bisa dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak sempat dilakukan ketika anak-anak sibuk bersekolah: menonton film-film yang t…

[cerpen] Merah

Malam ini aku mengenakan pakaian berwarna merah. Ini bukan suatu yang luar biasa jika merah adalah warna kesukaanku. Tapi tidak, merah sesungguhnya adalah warna yang paling kubenci, sejak dulu. Tak pernah sekali pun aku mengenakan warna merah pada bagian mana pun dari tubuhku, bahkan untuk lipstik aku selalu memilih rona warna ungu. Sepatu kesukaanku selalu berwarna putih, dan tas tangan tak pernah berpindah dari warna kuning. Merah adalah musuhku.

Ketika berusia sepuluh tahun, aku melihat warna merah darah di leher abangku. Seorang preman menusukkan pisau ke bagian tubuhnya yang paling genting itu setelah mereka adu mulut tentang seekor anjing yang lewat di depan warung tuak. Mereka sedang mabuk. Tak ada yang melerai mereka berkelahi, hari sudah larut malam. Tak ada orang lain yang tahu kecuali aku yang sedang duduk di teras rumahku yang tak terlalu jauh dari situ. Tirai depan warung tuak itu pun berwarna merah. Mereka tak pernah mengganti warna itu sekalipun musim mengecat menjelang …

Motivasi

Image
Motivasi adalah sebuah pertanyaan besar ketika kita ingin menumbuhkan sebuah kebiasaan. Tanpa motivasi apa yang kita lakukan dengan bersemangat pada awalnya lama-kelamaan terasa seperti tidak bertujuan. Pelan-pelan berbagai alasan akan muncul untuk menunda-nunda, mengelak, menghindar, dan akhirnya meninggalkan kebiasaan itu sama sekali.

Pertanyaan tentang itu kadang muncul dalam diriku saat akan berlatih menulis. Menulis adalah pekerjaan yang paling gampang ditangguhkan. Karena memulainya terasa berat dan sulit, meski ketika sudah dimulai semua kesulitan lenyap dan kadang malah susah untuk berhenti.

Dalam menulis, aku sudah menyingkirkan semua motivasi yang terkait dengan publikasi dan komersialisasi. Pada tingkatan yang paling mendasar, menulis bagiku adalah penyaluran energi kreatif, suatu kebutuhan yang kadang muncul dengan sendirinya. Kebutuhan untuk mengungkapkan diri, untuk mencipta.

Kemudian, aku juga suka menulis karena sangat menikmati membaca tulisan yang baik, yang berhasil…

Hening Pagi

Image
Ditemani secangkir teh hangat dan sepotong roti, aku memulai rutinitas pagi. Memeriksa apa yang harus dilanjutkan dari pekerjaan kemarin dan meluangkan waktu untuk sedikit menulis. Aku suka memulai hari dengan cara ini. Pagi yang hening segar, pikiran masih bugar, dan hari masih seperti lembaran baru yang belum lagi ternoda berbagai kesalahan dan kekecewaan. Hanya setengah jam pertama. Setelah itu, kesunyian yang megah ini akan pecah oleh berbagai suara, dan kesibukan sehari-hari akan menyergap. Waktu hening berakhir.

Apakah setiap orang butuh waktu untuk menyendiri? Begitu kamu bertanya. Aku menjawab ya, dan saat hening itu secara nyata bisa kudatangi setiap pagi. Kamu bilang, waktu menjadi wadah yang tak perlu. Betul, waktu untuk menyendiri bisa diciptakan kapan saja. Meski begitu, aku ingin masuk ke dalamnya lebih dari momen keheningan yang dihadirkan dalam pikiran di tengah keriuhan. Ya, aku tahu, tak selalu hening pagi ini bisa kumasuki. Aku memberi toleransi pada diri sendiri u…

Komentar atau tidak?

Pengalaman yang lalu-lalu menunjukkan kepada saya bahwa dibukanya peluang memberi komentar pada blog secara terbuka mengundang berbagai jenis orang jahil yang mampir di blog untuk mengisi komentar dengan iklan-iklan yang tak pantas, pernyataan cabul dan ajakan yang tidak senonoh. Itu membuat saya jera membuka blog bagi publik. Tapi itu tiga tahun lalu, ketika blogger.com barangkali masih pada tahap belajar juga sehingga mereka tidak memberikan opsi pembatasan pada pemberi komentar. Saat ini saya lihat pada bagian pengaturan ada pilihan yang memungkinkan pembatasan jenis pengunjung blog yang bisa memberi komentar. Saya memutuskan untuk menampilkan kembali kolom komentar di sini.

Sebuah Perjalanan

Aku harus keluar pagi-pagi. Tidak seperti biasa. Ada janji pertemuan yang tak bisa diubah. Buru-buru menyalakan mesin lalu melesat pergi. Aku tahu lalu lintas akan seperti neraka pagi ini, tapi aku hampir terlambat. Memasuki jalan utama, aku tidak keliru--macet.

Aku berbelok dan mengambil jalan kecil. Jalan itu membawaku masuk ke perkampungan dan melewati ladang-ladang subur. Jagung mulai matang dengan untaian rambut keemasan, beberapa pekerja sedang memanen.

Sambil menyetir, aku menyantap sarapan--tak sempat melakukannya tadi di rumah.

Jalanan berlubang-lubang, tapi aku menikmatinya hingga akhirnya kembali masuk ke jalan utama. Lampu lalu lintas di depan menyala hijau, kuning, lantas merah.

Menunggu di garis batas, aku memperhatikan sekelompok orang di pojok perempatan.

Para pekerja penggali tanah. Duduk di samping peralatan kerja mereka, cangkul dan pangkur.

Ada sekitar sepuluhan lelaki setengah baya. Wajah cokelat kehitaman terbakar matahari. Sebagiannya berpakaian rapi, kemeja dan cela…