Posts

Im-perfeksionisme a la Kintsugi

Image
Jujur saja.

Kadang saya melewati hari-hari dengan rasa jengah pada kapasitas saya yang serba tanggung, medioker. Pada hari-hari buruk, saya secara bawah sadar memojokkan diri sendiri dengan memperbandingkan diri dengan orang lain, diam-diam iri pada kesuksesan mereka. Saya berbicara dengan diri kecil saya dengan gemas, mencela karena tidak mengambil lebih banyak risiko ketika peluang muncul, tidak cukup berani untuk mengatakan dengan lantang apa yang sebenarnya saya inginkan, menyesali jalan yang telah saya ambil dan meninggalkan yang lain tak dijelajahi. Kepada orang-orang yang menghujani saya dengan pujian dan perhatian, saya diam-diam ingin mereka berhenti menyanjung dan mengatakan kebenaran yang pahit tentang saya yang sebenarnya.Untungnya hal ini tidak terjadi setiap hari. Pada hari-hari baik, saya berdamai dengan semua suara jahat itu, berjalan ringan dengan penerimaan sepenuh hati atas momen saat ini. Pada hari-hari baik, pikiran saya piawai meramu kata-kata pemberi semangat unt…

Pembaca dan Peminum Teh

Image
Tak ada sebiji perabot pun di ruangan itu. Hanya selembar tikar tergelar di lantai. Di atasnya terhidang teko berisi teh hangat. Beberapa buku di rak sudut.

Aku pernah ke sini lima tahun silam. Keadaannya tak jauh beda dengan sekarang. Hanya tambahan tirai pembatas ke ruang dalam. Pastilah Amir lebih butuh privasi kini, setelah dia punya istri dan di desa ini terkenal sebagai guru yang sering didatangi orang. Istrinya, Hafsah, konon adalah anak pertama kepala kampung tetangga. Aku belum pernah bertemu dengannya setelah dia menikah.

Tuan rumah sedang ke luar. Kami menunggu, duduk bersila di atas tikar. Tak ada yang bisa dilakukan. Perjalanan ke sini telah membuat kami lelah. Lima jam berjalan kaki, berganti becak, lalu berjalan kaki lagi. Hampir menghabiskan waktu seharian. Kalau bukan undangan yang tampaknya penting ini, takkan kami bersusah payah datang.


Kami menyilakan diri sendiri. Membuka bekal perjalanan dari rumah yang tinggal sedikit. Rasanya lancang kalau kami ke dapur dan men…

Pesan dari Capernaum

Image
Penderitaan orang-orang tak berdosa, apalagi anak-anak, sungguh menyakitkan untuk disaksikan. Bagi Ivan, sang ateis yang sangat logis dalam novel The Brothers Karamazov, itu menjadi alasan untuk menggugat kerahiman Tuhan, karena membiarkan anak-anak yang “belum lagi menggigit apel kehidupan” mengalami kebrutalan, diabaikan, disiksa, diperbudak, diperkosa, dibunuh. “Sungguh di luar jangkauan nalarku bahwa mereka harus menderita,” ujarnya pada Alyosha.

Bagi kita kebanyakan keadaan itu mungkin menjadi pengasah kelembutan hati, pengingat untuk selalu memihak mereka yang lemah dan tertindas. Karena kita tak bisa diam saja di hadapan penindasan, ketidakadilan, penderitaan. Ada peduli yang menjalar. “Yang tertusuk padamu, berdarah padaku,” kata Sutardji sang presiden penyair. Senada yang disuarakan William Blake dalam “Songs of Innocence and of Experience”: “Tak mungkin bisa aku melihatmu sengsara, Tanpa ikut merasa susah.Tak mungkin bisa aku melihatmu berduka,Tanpa ingin ikut melipur lara.…

Rindu Laut

Image
"Jiwaku penuh rindu
akan rahasia laut,
dan bisikan samudra luas
menjalarkan denyut menggetarkan dalam diriku."

―Henry Wadsworth Longfellow

Laut selalu memukau saya. Sebagai orang yang dibesarkan di daerah pantai—yang terdekat hanya berjarak 200 meter dari rumah masa kecil saya di Padang—tidak pergi ke pantai untuk waktu lama selalu memunculkan rasa rindu, yang mendorong saya untuk melihat-lihat lagi foto pantai. Bukan pantai indah komersial yang dikelola perusahaan wisata, yang saya rindukan adalah pantai alami terbuka yang terletak di halaman belakang rumah-rumah penduduk, tempat para nelayan kecil mencari nafkah. Pantai sepi yang jauh dari pemukiman, yang hanya bisa didatangi dengan berjalan kaki jauh menyusuri lahan-lahan kosong yang hanya dihuni hewan ternak yang dilepas liar.Cuaca di daerah pantai sering lebih dinamis, angin bisa tiba-tiba bertiup kencang, hujan deras seketika turun dan seketika berlalu. Saya teringat waktu kecil dulu kadang terbangun pukul satu atau dua ten…

Lelaki Bertelapak Kaki Angin

Image
Catatan perjalanan adalah salah satu genre favorit saya. Membaca catatan perjalanan membawa saya membayangkan serunya menempuh perjalanan jauh dengan Trans Siberia, ketegangan melewati Khayber Pass, berjumpa orang-orang yang saya tidak pahami bahasanya namun tetap dapat  berkomunikasi. Barangkali karena aspirasi eksotik muda yang tak terwujud, dan semakin sedikit kesempatan dan waktu untuk menjelajah dalam arti yang sebenarnya ke tempat-tempat yang jauh, buku catatan perjalanan menjadi pilihan saya untuk menggenapinya.

Di antara para penulis favorit saya di genre ini adalah Jon Krakauer dan Paul Theroux. Dari dalam negeri, tentu saja Agustinus Wibowo dan Sigit Susanto. Dari mereka saya mendapatkan kepuasan menjelajah negeri asing, mencicipi budaya dan tradisi yang sama sekali berbeda, tanpa harus bepergian. “Armchair traveling”, begitu istilahnya. Dan belum lama ini saya menikmati pula buku perjalanan yang tidak biasa dari Alain deBotton, The Art of Travel. Seiring menjelajahi tempat-t…