Postingan

Menampilkan postingan dengan label renungan

"Memento Mori"

Gambar
"Kau dapat meninggalkan kehidupan saat ini juga. Biarlah itu menjadi penentu apa yang kau lakukan, katakan dan pikirkan."  (Marcus Aurelius) Frans Snyders, Game and fruit on a table (1625) via Wikimedia Commons  Raung ambulans lebih sering terdengar belakangan ini. Berita duka kepergian abadi kawan dan kerabat bertubi-tubi melintas di linimasa setiap hari. Maut terasa lebih dekat di masa pandemi. Kita diingatkan padanya tanpa henti. Dan, seperti penumpang kapal yang sedang dihantam badai di tengah lautan, kita mencoba bertahan dengan sekuat tenaga mencengkeram tepi. Dalam lotere nasib, kita tak tahu siapa yang akan jatuh, siapa yang akan bertahan hingga badai berlalu dan selamat menembus amuknya. 

Berjalan di Hutan

Gambar
Pikiran kita sering terpaku pada apa-apa yang mengganggu. Bergumul dengan khawatir dan prasangka. Tenggelam dalam lorong gelap pikiran kita. Hilang kontak dengan sisi diri kita yang lebih terang. Saat berjalan di dalam hutan, kita terpukau melihat indahnya cahaya di antara pepohonan; sinar matahari lembut tersaring oleh dahan dan dedaunan. Kita mulai memperhatikan detail: monyet-monyet bergantungan di batang pohon, burung berlompatan di dahan. Kita mulai melihat bentuk dan warna daun yang berbeda, ada yang runcing, bulat, lebar, sempit, hijau gelap atau agak merah. Kita jeda sejenak untuk melihat tanaman yang merambat di tanah—menyingkirkan dahan-dahan patah, buah-buah pinus, dan tumpukan daun kering, menemukan kumbang, cacing, ulat dan siput. Saat kita mulai menaruh perhatian, alam seperti tersibak di hadapan kita. Lihat, seekor semut sedang memulai petualangan meniti ranting; putik di sebatang pohon sedang melalui proses menjadi bunga; seekor kupu-kupu sedang mengembangkan sa

Pirous

Gambar
Pertengahan tahun 2016, bersama teman-teman kantor, saya berkesempatan berkunjung ke rumah A.D. Pirous di kawasan Dago. Di antara pembicaraan yang berkesan dari beliau saat itu adalah ujaran yang saya lekatkan pada potret di bawah. Maksud dari ujaran terkutip itu adalah: jangan berhenti berkarya walaupun usia telah beranjak tua. Bukti nyatanya adalah beliau sendiri. Di usia 88 tahun, AD Pirous tetap produktif berkarya dan berpameran. Terus berkarya juga menjadikan Pak Pirous tampak sehat dan tidak pikun. Otak yang aktif akan menguatkan badan. Sangat menginspirasi.

Cikored

Gambar
Jalan menuju Desa Cikored, melewati Curug Batu Templek Hari ini, Minggu 27 Januari 2019, pertama kali saya ikut mengajar di Cikored untuk kelas menulis anak-anak yang dikelola Yayasan Odesa. Lokasi baru ini letaknya jauh tersembunyi di lekukan bukit. Jalan menuju ke sana panjang berliku, naik turun curam dan terjal. Kegiatan belajar dilaksanakan di sebuah rumah kecil yang di halamannya ada kandang kambing, ayam dan kelinci, menghadap ke lembah yang ditanami sayur-mayur. Kelas hari itu dihadiri oleh delapan anak dengan rentang usia kelas 1 hingga kelas 6 SD. Biasanya jumlah peserta di kelas minggu yang baru dibuka pada Desember 2018 ini diikuti hingga dua puluh anak. Namun setiap kali pertemuan jumlahnya selalu bervariasi. Ada yang tidak datang karena alasan jarak yang jauh, ada kegiatan lain, harus membantu orangtua, sudah datang tapi pergi lagi. Dan bermacam alasan lainnya. Hari itu anak-anak belajar untuk membuat kalimat berima. Mereka bermain mencari kosakata yang memi

Yang Mengeluh dan Yang Merasa Beruntung

Apa yang menyibukkan pikiranmu hari ini? Aku kenal seorang pengeluh profesional, atau mungkin semi-profesional, karena dia tidak pernah mengirimkan surat pembaca atau menggalang demonstrasi negatif, hanya mengeluh dan menyuarakan keluhannya kepada orang-orang yang ada di dekatnya, entah secara langsung atau melalui jaringan sosial media. 

TFG

Gambar
Entah kenapa, satu kalimat ini sering terlintas dalam ingatan saya belakangan: "Setelah hilang baru terasa penting." Mengapa kalimat ini terasa begitu mengesankan? Mungkin karena pada saat kita mendengarnya, kita seolah diingatkan pada suatu kelalaian. Kebiasaan buruk. Dan kita cenderung suka pada kalimat yang mencerabut kita sesaat dari kebiasaan buruk kita. Menyadarkan. Mungkin itu menunjukkan betapa kita sering lupa dan abai pada berkah yang hadir hari ini. Taken for granted. Sesaat tersadar, namun beberapa waktu kemudian kita kembali lupa. Semoga tidak.

Mengapa Benci

Berita pelarangan kegiatan ibadah di lingkungan perumahan selama ini tidak terlalu menjadi perhatian saya. Saya membacanya di koran dengan biasa saja: sebagai pembaca yang berjarak. Mungkin karena saya belum melihatnya langsung di lingkungan saya, tidak menyentuh keseharian saya. Begitulah sampai tadi pagi, ketika pulang bersepeda, di sebuah gerbang tampak terpasang spanduk besar bertulisan, “Kami warga … tidak mengizinkan gedung … di kelurahan kami digunakan sebagai tempat peribadatan … .” Opps, peristiwa di koran itu sekarang terjadi di lingkungan terdekat saya. Seketika pertanyaan terbetik di benak, apa salahnya jika gedung itu digunakan untuk beribadat. Mereka pasti minta izin pada pemiliknya, mereka juga barangkali harus membayar, dan tentunya mengikuti aturan tertentu tentang keramaian. Toh, gedung itu juga biasa dipakai untuk acara kawinan atau keramaian lainnya. Apa bedanya? Letaknya di tepi jalan besar, bertetangga dengan kantor-kantor dan toko, jauh dari keramaian rumah pen

Mesin Ketik

Betapa jauh sudah kita meninggalkan dunia mesin ketik. Bagi saya sendiri, terakhir menggunakan alat berisik itu, kalau tidak salah, lebih dari dua puluh tahun lalu, ketika menulis tugas di kelas 3 SMA. Benda itu sendiri sekarang sudah tidak ada lagi di sekitar saya, sudah lama tidak melihatnya; kalau pun ada pasti sudah berselaput debu tebal karena tak pernah disentuh. Maka tertegunlah saya tadi pagi melihat seorang bapak tua dengan telaten memperbaiki sebuah mesin ketik tua di halaman depan rumahnya. Beberapa tungkai hurufnya terentang seperti kerangka fosil tua di padang gurun. Ringkihnya mesin itu seperti sepadan dengan kakek itu. Hmm, mungkin dia membutuhkannya untuk mengisi formulir urusan administrasi ini-itu di kelurahan, pikir saya. Tapi ada satu yang bisa saya mengerti, kenikmatan merawat barang yang dulu pernah menjadi penting, rasa senang ketika berhasil memperbaiki sesuatu yang rusak. Walaupun mesin ketik itu akan kembali menghuni pojok berdebu setelah itu, kepuasan yang di