Posts

Showing posts from February, 2017

Haiku

Image
Jepang memiliki tradisi puitis yang panjang dan mengakar. Seorang yang hidup di lingkungan kerajaan Jepang klasik harus cakap menggubah syair untuk setiap kesempatan. Orang-orang pada saat itu senantiasa menyelipkan puisi dalam percakapan dan surat menyurat. Jika dia tidak bisa menyusun puisi dengan seketika, posisinya terancam. Bisa-bisa dia dipandang sebagai seorang tidak cakap dan kasar.

Salah satu varian puisi Jepang yang terus digemari hingga sekarang dan mulai menyebar ke seluruh penjuru adalah haiku. Kepiawaian menyelipkan haiku dalam percakapan bahasa Jepang barangkali merupakan ukuran kehalusan berbahasa, sebagaimana kepiawaian orang Melayu berpantun. Haiku disebut sebagai salah satu ekspor budaya Jepang yang paling sukses.

Haiku adalah puisi singkat terdiri atas tiga baris dengan rima suku kata 5-7-5. Isi haiku biasanya mengungkap pergantian musim dan perasaan yang terkait dengannya. Setiap haiku memuat setidaknya satu kata yang merujuk pada musim atau alam.

Keunikan haiku …

Vivian Maier: Street Photographer (John Maloof)

Image
Penemuan anumerta koleksi foto jalanan milik Vivian Maier adalah sebuah cerita penting dalam sejarah fotografi. Terbilang istimewa bukan hanya karena foto-fotonya baru terungkap setelah pemotretnya wafat, namun juga karena sosok unik sang fotografer.

Vivian Maier (1926-2009) bekerja sebagai pengasuh anak di Chicago. Dia memanfaatkan waktu senggangnya untuk memotret. Objek yang menarik perhatiannya adalah adegan-adegan keseharian yang ditemukannya di jalanan barat daya kota Chicago. Bukan hanya orang, Vivian Maier juga menaruh perhatian pada detail-detail tak bergerak sepanjang pelataran kota.

Dia memotret dari tahun 1950-an sampai akhir 1990-an. Tapi sepanjang hidupnya, dia tak pernah mencuci film jepretan kameranya. Dia tak pernah melihat (dan memperlihatkan) hasil jepretannya kepada siapa pun. DIa memotret hanya untuk kesenangan sendiri. Semua gulungan filmnya hanya disimpan. Jumlah film negatif yang dihasilkannya mencapai lebih dari 100,000 lembar.

Tumpukan koleksi  film itu akhir…

Pemberontakan seorang "Freelance Monotheist"

Image
Para pemuka Katolik Roma di Inggris mungkin butuh waktu lama untuk bisa memaafkan Karen Armstrong. Tiga belas tahun setelah meninggalkan biara Holy Child Jesus, Karen yang kini terkenal sebagai komentator masalah-masalah agama di Eropa dan Amerika menulis dua otobiografi yang dengan sangat tajam mengkritik kehidupan religius di sana.

Kedua otobiogafi itu -- Through the Narrow Gate (1981) dan Beginning the World (1983) -- disebut-sebut sebagai catatan yang paling blak-blakan tentang kehidupan serba ketat di biara. Lewat kedua buku itu, mantan biarawati ini seperti menelanjangi sesuatu yang sudah lama disembunyikan di balik keengganan mengusik lembaga keagamaan yang sudah mapan.

Untold: The Stories Behind the Photographs (Steve McCurry)

Image
Label-label megah seperti "ikonik" dan "legendaris" kerap dilekatkan pada fotografer satu ini. Potret gadis Afghan yang menghiasi sampul majalah National Geographic edisi Juni 1985 membuat namanya masyhur ke seluruh dunia. Namun belakangan saya sering mendengar komentar bahwa Steve McCurry sudah melewati puncak kariernya. Tidak ada lagi foto-foto baru dengan level melebihi yang pernah dia capai sebelumya. 
Buku-buku terakhirnya  adalah daur ulang foto-foto lama dikemas dalam tema baru. Apalagi sejak kasus dugaan manipulasi foto yang pernah menimpanya. Dia seperti meluncur turun. Kabar-kabar ini membuat saya makin ingin tahu dan mengenal lebih baik fotografer asal Amerika ini. Buku Steve McCurry Untold ini adalah bacaan yang tepat untuk menjawab rasa penasaran itu.
Buku setebal hampir 300 halaman ini merentang 30 tahun karier McCurry, menampilkan memorabilia dari perjalanannya: catatan diari, potongan tiket, penyamaran, foto-foto yang belum pernah dipublikasikan, te…

Shiba Ryotaro

Image
JEPANG di masa Edo Tokugawa (1603-1867) bagaikan sebuah telaga di pegunungan, stabil dan menyendiri. Gejolak politik diredam melalui sistem kelas yang ketat, pengaruh asing dibendung dengan kebijakan menutup diri dari dunia luar.

Namun dua setengah abad yang tenteram ini akhirnya koyak oleh kedatangan empat kapal perang Amerika yang merapat di Teluk Tokyo pada 1853. Lewat kekuatan militernya, komandan Perry menuntut Jepang membuka pintu bagi Amerika. Dua dekade kemudian berakhirlah masa keshogunan yang telah berlangsung dua ratus tahun lebih itu.

Seeing Things

Image
Aperture Foundation biasanya menerbitkan buku foto serius, namun belakangan mulai menerbitkan buku-buku yang menyasar usia lebih muda dengan tema lebih ringan. Di antara terbitannya adalah This Equals That (Jason Fulford & Tamara Shopsin), Go Photo! An Activity Book for Kids (Alice Proujansky) dan Seeing Things (Joel Meyerowitz). Saya beruntung mendapatkan buku yang disebutkan terakhir di stand Aperture Foundation pada pameran buku Frankfurt tahun lalu.

Buku ini menampilkan 30 foto pilihan Joel Meyerowitz, masing-masing digunakan sebagai basis tutorial dengan tema-tema seperti: frame within frame, shadow play, new perspectives, mirror image, dst. Tema-tema ini disajikan dalam bahasa simpel seolah berbicara kepada anak sekolah dasar namun cukup mendalam untuk membukakan wawasan.

Joel Meyerowitz, fotografer kelahiran New York  1938 yang telah tampil dalam lebih dari 350 pameran di museum-museum dan galeri seluruh dunia dan telah menulis lebih dari 15 buku, adalah orang yang tepat un…