Shikibu Murasaki


Kehidupan dalam istana kerajaan Jepang zaman Heian (794-1192) sungguh tak menguntungkan bagi kaum wanita. Seperti di banyak kerajaan lainnya, para wanita keluarga raja sangat dijaga. Hidup mereka penuh aturan dan batasan. Dunia di luar istana nyaris tak mereka kenali. Mereka hanya boleh keluar ketika ada acara pesta rakyat. Pendidikan yang mereka dapatkan pun terbatas. Hanya sedikit di antara mereka yang bisa membaca dan menulis. 

Dalam suasana seperti inilah lahir novelis wanita pertama dunia, Shikibu Murasaki. Dialah penulis Genji Monogatari (Kisah Genji), karya novel pertama dalam sejarah.
 
Shikibu Murasaki menyelesaikan novel ini pada 1011. Ceritanya berlatarkan kehidupan istana Heian Kyoto pada masa itu. Murasaki bukanlah nama asli penulisnya, tetapi diambil dari nama tokoh wanita di dalam novel itu. Tak banyak yang diketahui tentang dirinya kecuali bahwa dia adalah istri Fujiwara Nobutaka, anggota keluarga aristokrat Kyoto yang wafat pada 1001. Murasaki rajin menulis catatan harian dan membuat terpesona kalangan istana dengan puisi-puisinya yang indah. Kisah Genji ditulis berdasarkan catatan harian Murasaki selama perode 1007-1010.

Novel ini disebut sebagai novel tertua di dunia. Meski telah berusia seribu tahun, ia masih memiliki daya tarik. Seorang wanita pendeta Buddha berusia 77 tahun, Jakuchi Setouchi, berhasil menulis ulang novel ini ke dalam bahasa Jepang modern. Masih relevankah novel seribu tahun itu bagi pembaca masa kini? 

"Situasi yang dihadapi pria dan wanita ketika jatuh cinta akan tetap sama sepanjang masa. Ada cemburu, ada gundah. Seorang wanita karier modern dapat merasakah derita cinta yang sama. Jadi, Kisah Genji akan tetap relevan kapan pun," jelas Setouchi.


Jakuchi Setouchi 

Edisi Inggris novel ini pernah dikerjakan oleh Arthur Waley pada 1925 dan oleh Edward Seidensticker pada 1990-an. Waley menyebutnya "novel terhebat dari Timur" dan "satu dari sedikit adikarya dunia." Novel ini pernah dicoba dihadirkan dalam bahasa Jepang modern oleh seorang penulis lain, tetapi menggunakan bahasa formal yang tidak banyak dipahami anak muda Jepang sekarang. Setouchi--yang memang sudah terkenal sebagai penulis novel yang sukses--adalah orang yang tepat untuk menangani Genji.

Cukup berat kerja yang dihadapi Setouchi ketika menggarap versi modern karya klasik ini. Selain karena novel itu sangat panjang, juga karena bahasa aslinya sangatlah rumit. Bahasa Jepang adalah bahasa yang paling banyak berubah dibanding bahasa mana pun di dunia. Sebagian besar orang Jepang masa kini kesulitan memahami karya tulis Jepang yang sudah berusia 100 tahun lebih.

Setouchi melakukan banyak perubahan pada gaya bahasa Murasaki. Pada naskah aslinya, kalimat-kalimat yang digunakan sering tanpa subjek, amat panjang, berlapis-lapis, dan mengandung nuansa kesopanan yang sangat dalam. 

"Saya menambahkan banyak subjek dalam kalimat, agar pembaca dapat membayangkan siapa yang melakukan apa. Saya juga memenggal banyak kalimat," kata Setouchi menjelaskan pekerjaannya. "Saya ingin membuat bacaan yang ringan, yang dapat dinikmati oleh anak sekolah dasar maupun orang yang berusia 90 tahunan."

Usahanya berhasil. Kisah Genji modern dalam sepuluh jilid itu hingga terjual sebanyak 2,1 juta eksemplar dalam beberapa bulan sejak terbit. Setouchi, biarawati berkepala plontos yang tinggal di sebuah kuil Buddha di Kyoto, jadi sering tampil di layar televisi nasional Jepang. Kuliah-kuliahnya divideokan dan dia juga diminta untuk bicara tentang novel-novelnya yang lain.

Janine Beichman, profesor sastra Jepang di Universitas Tokyo, mengatakan terjemahan terbaru Kisah Genji ini mencerminkan kehebatan cerita aslinya sekaligus reputasi penerjemahnya. "Setiap novel yang ditulis Setouchi laris manis," kata Profesor Beichman. "Dia berhasil membuat segalanya jadi menarik, dan orang juga sangat tertarik dengan apa yang dilakukannya."

Kisah Genji bercerita tentang petualangan cinta tokoh utamanya, Pangeran Genji adalah pria yang piawai memikat hati banyak wanita. Dia bukan pangeran yang berjaya di medan perang, tapi jago di medan asmara. Murasaki menggunakan tokoh ini untuk membawa pembaca ke dalam pelik kehidupan wanita istana. 

"Kisah Genji penuh dengan tema psikologis," kata Hideyo Udea, direktur Institur Riset Sastra Klasik Jepang di Tokyo. "Novel itu secara halus menggambarkan panggung politik dari sudut pandang perempuan."

Majalah Life memasukkan novel ini ke dalam daftar peristiwa penting dunia dalam seribu tahun terakhir. Menurut majalah itu, Kisah Genji memiliki visi feminin yang kuat. Novel itu memprotes situasi kehidupan hidup para wanita istana. Alur ceritanya penuh intrik, bahasanya halus, dan peka terhadap suasana hati tokoh-tokohnya. Kisah Genji adalah karya yang sangat modern untuk masanya. Murasaki mungkin tak pernah membayangkan, karya tulisnya akan tetap dinikmati seribu tahun setelah ia tiada.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)