The Tunnel of Chu Chi



GERILYAWAN BAWAH TANAH


Gelap. Dingin. Terowongan bawah tanah itu seakan tak berujung. Sersan Arnold Gutierrez merayap masuk. Otot-ototnya serasa beku karena cengkeraman rasa takut. Sorotan senternya menyingkap hanya beberapa meter ke depan. Sungguh ironis, pikirnya. Cahaya senter yang membantunya menghindari titik-titik perangkap dalam lorong sempit yang gelap itu, justru menjadi petunjuk bagi musuh untuk mengarahkan tembakan jitu.

Saat itu April 1966. Sudah empat bulan berlalu sejak pasukan Operasi Crimp AS diturunkan ke Vietnam. Sejauh ini belum banyak yang berhasil dilakukan 8000 tentara berperalatan lengkap itu. Viet Cong bergerilya dengan cara yang tak pernah dihadapi pasukan AS dalam perang mana pun. Mereka muncul dan menghilang dengan cepat dan misterius.

Komandan Batalion I, Letkol Robert Haldane, baru menyadari ini dalam pertempuran yang mereka lakukan di perkebunan karet pinggiran kota Cu Chi. Tentara Viet Cong yang terlihat di sela-sela pohon karet tiba-tiba lenyap dari pandangan, tanpa jejak. Beberapa meter dari pinggir kebun itu, anak buahnya dari Kompeni B pimpinan Terry Christy terperosok ke dalam sebuah parit lebar. Di situlah untuk pertama kali pasukan AS menemukan tanda-tanda fisik jaringan terowongan bawah tanah ekstensif milik Viet Cong.

Gutierrez mengambil sebatang kayu dan kawat, mengikat senternya pada kayu itu dan mengangkatnya setinggi mungkin dalam lorong beratap rendah dengan tangan kirinya. Tangan kanannya siaga dengan pisau dan pistol kaliber .22. Sersan yang sudah keluar masuk dinas militer AS sejak 1945 itu kerepotan. Tapi tak ada cara yang lebih aman. Bertumpu pada kedua sikunya, ia terus merangkak. Lututnya mulai berdarah.

Tiba-tiba dari persimpangan lorong, seorang Viet Cong menembak ke arahnya. Wajah dan kilasan senapannya terlihat jelas. Gutierrez tertegun. Ledakan senapan itu memekakkan telinga. Kepalanya serasa tertembak. Senter dibuangnya dan dia menembak membabi-buta ke arah wajah itu. Asap mesiu memenuhi udara. Pelan-pelan disadarinya, dia tidak terluka. Tapi, sekitar dua puluh meter di depan, sesosok tubuh tergeletak di tanah. Tembakannya mengena.

Dalam perjalanan kembali ke Cu Chi, Gutierrez termenung. Semua yang telah diajarkan padanya tentang perang seperti tak ada hubungannya dengan apa yang baru saja dilewatinya hari itu. Seluruh latihan infanteri, artileri, bantuan udara, dan pesawat perang canggih yang dapat mengangkut setengah divisi keluar masuk medan tempur dengan cepat--apa hubungan semua itu dengan musuh yang tak pernah terlihat nyata, yang tinggal di lubang-lubang bawah tanah, yang hanya mungkin dilawan dengan kenekatan brutal dan mengandalkan nasib mujur?[]


PERANG VIETNAM, PERANG ANTIKOMUNIS

Keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam lebih merupakan dorongan impulsif Presiden Kennedy setelah kekalahan totalnya di Teluk Pigs, Kuba. Gagal menghadang komunis di negeri Fidel Castro, Kennedy bertekad melawan penyebaran paham itu di Asia Tenggara. Vietnam Selatan, kata Kennedy, adalah "tempat unjuk kekuatan menegakkan demokrasi."

Menyusul kekalahan Prancis di negeri itu pada 1953, Vietnam dipecah menjadi dua. Ho Chi Minh berhasil mengkonsolidasi pemerintahan Komunis di utara, sementara di selatan didirikan sebuah republik independen dengan bantuan AS. Ngo Dinh Diem yang Katolik menjadi presiden pertamanya.

Negara Boneka
Diam-diam, Viet Minh, gerilyawan nasionalis yang melawan penjajah Prancis pada 1940 dan 1950-an, tidak setuju dengan pemerintahan Diem. Sekitar 90.000 tentara aktif Viet Minh berkumpul kembali di utara, sembari menarik simpati dari rakyat yang tidak suka dengan "negara boneka" buatan AS di Selatan. Mereka berharap pemilu yang dijanjikan pada 1956 akan memberi kemenangan mutlak pada Ho Chi Minh, yang akan menyatukan kembali Vietnam.


Pemilu 1956 tidak terjadi. Ngo Dinh Diem di selatan justru menjadi otoriter. Dengan bantuan senjata dan uang dari AS, Diem menjalankan negara polisi yang bertujuan membinasakan kaum oposisi, yakni semua orang yang tergabung dalam Viet Minh yang komunis.


Kota Cu Chi di Vietnam Selatan dikenal sebagai pusat aktivitas revolusioner antipemerintah. Diperkirakan sekitar tiga per empat Viet Minh yang tinggal di Cu Chi saat itu ditangkap. Sebagian dipenjara, biasanya setelah terlebih dahulu disiksa. Sebagian lainnya dipenggal di depan umum dengan guilotin, seperti kebiasaan Prancis. Pada Desember 1958, ratusan orang yang dicurigai Komunis atau pembelot diracun hingga mati di penjara Phu Loi, sebelah timur Cu Chi.


Kebencian terhadap pemerintahan Presiden Diem meningkat. Pada April 1961, Angkatan bersenjata Vietnam Selatan (ARVN) menembaki para demonstran anti-Diem di desa Phuoc Hiep, sebelah utara Cu Chi. Pemerintah Komunis di Utara kemudian membentuk Fron Pembebasan Nasional (NLF) untuk membantu perang gerilya di Selatan. Dengan bantuan secara sembunyi-sembunyi dari rakyat, serangan Viet Cong terhadap Vietnam Selatan dimulai. Sasaran pertama adalah pos tentara dan polisi. Senjata yang diperoleh dari serangan-serangan yang berhasil melumpuhkan pos militer ARVN menjadi senjata-senjata pertama Viet Cong yang kemudian ditiru dan diperbanyak oleh rakyat.


Komitmen Amerika
Kelemahan rezim Diem mulai tampak. Satu per satu desa-desa di Cu Chi dan distrik sekitarnya melucuti datasemen lokal ARVN dan secara efektif melepaskan diri dari kontrol pemerintahan Diem. Pada Agustus 1963, Viet Cong sudah menguasai Ben Suc, desa paling strategis di distrik Cu Chi.


Kekalahan militer ARVN berlipat ganda, meski mereka punya peralatan lengkap bantuan AS. Kekalahan yang paling besar efek psikologisnya adalah perusakan batalion elite ARVN, unit Macan Hitam atau Panther, di desa Duong Long, sekitar satu mil sebelah utara Ben Suc, pada 31 Desember 1963. Macan Hitam terkenal kejam. Mereka memperkosa dan merampas, bahkan konon memakan jantung Viet Cong yang mati.


Kekuatan Komunis Vietnam makin hebat. Sebelum kedatangan pasukan AS, Viet Cong sempat merayakan kemenangan mereka dengan berparade di tengah kota Cu Chi. Pada 1965, desersi ARVN mencapai angka 2000 per bulan. Pada masa-masa terburuknya, ARVN pernah kehilangan satu batalion tentara dan satu ibu kota distrik dalam seminggu. Cu Chi dan Ben Suc jadi markas terkuat Viet Cong di Vietnam Selatan. Sasaran mereka adalah reunifikasi dan kemerdekaan Vietnam yang mereka rasa telah direbut dari mereka akibat dibatalkannya pemilu 1956.


Kegagalan ARVN menahan gelombang kesuksesan Viet Cong mengundang intervensi skala penuh militer AS di Vietnam pada Agustus 1965. Presiden Lyndon Johnson, pengganti Kennedy yang terbunuh pada November 1963, memutuskan untuk meningkatkan secara radikal komitmen Amerika untuk menghentikan Komunisme di Asia Tenggara. Kongres menyetujui rencana Johnson untuk mengirim pasukan dan menjatuhkan bom di Vietnam Utara.


Menjelang akhir 1965, perang darat di Vietnam Selatan menjadi fokus utama strategi Amerika. Jenderal Westmoreland yang mengepalai Komando Bantuan Militer Amerika memutuskan untuk membangun base camp permanen di sekeliling Saigon, dekat wilayah yang dikuasai Viet Cong. Pada 7 Januari 1966, lebih dari 8000 tentara dari Divisi Infanteri I, Brigade Udara ke-173, dan Resimen Royal Australia mendarat di Cu Chi. Perang pun berkobar. Diawali dengan Operasi Crimp untuk membabat habis wilayah Cu Chi.[]


"MEREKA ITU MANUSIA TIKUS"

Empat hari setelah Operasi Crimp dimulai, pemandangan di base camp AS mulai tampak seperti setting film-film Perang Dunia Kedua. Korban di pihak AS terus berjatuhan akibat serangan acak tentara Viet Cong. Komunis-komunis itu muncul dan lenyap seperti sihir.


Suatu sore, ketika tentara AS hendak beristirahat, terdengar ledakan beberapa granat dan tembakan dari dalam kompleks base camp. Kolonel Haldane bergegas ke asal suara itu di sektor Kompeni B. Bersama Sersan Stewart Green, Haldane menemukan pintu perangkap terowongan di tengah markas mereka sendiri.
Stewart Green mengeksplorasi terowongan itu. Dia baru kembali dua setengah jam berikutnya, setelah menempuh satu setengah mil di bawah tanah. Itulah eksplorasi pertama tentara AS ke dalam terowongan bawah tanah Viet Cong.


Keesokan harinya dilakukan eksplorasi yang lebih menyeluruh. Green menemukan pintu perangkap ke tingkat kedua yang dilindungi sekeranjang granat. Di lantai dua itu terdapat sebuah kamar yang lebih rendah, berisikan catatan Kompeni D-308 Viet Cong. Mereka bahkan menemukan lantai ketiga, yang di ujungnya terowongan itu bercabang dua. Satu cabang memuat lubang keluar yang ukurannya hanya cukup untuk dilalui seorang Vietnam bertubuh kecil dengan merangkak. Cabang lain kembali ke terowongan utama yang ditemukan Stewart Green.


Penemuan ini menyingkapkan apa yang sebenarnya harus dihadapi tentara AS: mereka berhadapan dengan tentara tikus, dan harus melawan mereka di dalam lubang-lubang tikus itu.


Manual Teknis
Terowongan bawah tanah Cu Chi merupakan bagian paling kompleks dari jaringan yang--pada puncak Perang Vietnam pertengahan tahun 1960-an--merentang dari gerbang kota Saigon hingga perbatasan dengan Kamboja. Terowongan-terowongan itu menghubungkan desa-desa, distrik-distrik, bahkan propinsi. Panjangnya mencapai ratusan kilometer.

Di dalamnya dijalankan fungsi-fungsi umum seperti tempat tinggal, gudang penyimpanan, markas besar, dan hampir seluruh fasilitas yang dibutuhkan Komunis Vietnam Selatan untuk berperang. Jenderal William Westmoreland, komandan angkatan bersenjata Amerika di Vietnam dari 1964 hingga 1968, menulis dalam memoarnya: "Tak ada orang yang punya kemampuan menyembunyikan instalasi mereka di bawah tanah melebihi Viet Cong; mereka itu manusia tikus."


Awalnya terowongan itu digali sebagai tempat persembunyian Viet Minh, gerilyawan nasionalis yang melawan penjajah Prancis, pada 1940 dan 1950-an. Dengan kedatangan pasukan AS mengagresi tanah air mereka dengan kekuatan teknologi perang tak tertandingi, jaringan terowongan itu menjadi benteng pertahanan yang luar biasa ampuh.


Dari sebuah manual pembuatan terowongan yang ditemukan tentara sekutu pada 28 September 1967, diketahui betapa canggihnya Viet Cong mengembangkan teknik terowongan itu. Berulang kali manual itu menekankan bahwa fungsi utama terowongan bawah tanah adalah untuk penyerangan, bukan tempat berlindung. Jalan terowongan itu harus dibuat zigzag dengan sudut antara 60 dan 120 derajat. Tujuannya agar ledakan bom di bawah tanah tidak menimbulkan "efek yang menghancurkan" karena jalaran api ledakan jadi terhalang. Manual itu juga menentukan ukuran jalur-jalur penghubung tidak boleh lebih dari 1,2 m dan tidak boleh kurang dari 0,8 m. Ketinggian terowongan tidak boleh lebih dari 1,8 m dan tidak boleh kurang dari 0,8 m. Ketebalan minimum atas antara tingkat adalah 1,5 m--"untuk menghindari getaran yang disebabkan ledakan bom dan bunyi kendaraan yang lewat di atas tanah."


Tugas Harian
"Terowongan itu adalah segalanya bagi kami selama Operasi Crimp," kata Kapten Nguyen Thanh Linh, pemimpin batalion Viet Cong. "Setiap orang yang bisa menembakkan senjata, boleh ikut berperang. Laki-laki dan perempuan, anak-anak maupun orang tua. Kami menggunakan terowongan terutama untuk melancarkan serangan tiba-tiba dan untuk memata-matai. Pengamatan ini membantu kami memutuskan jenis perangkap apa yang perlu dipasang dan akan dipasang di mana."


"Untuk menggali terowongan itu, kami membagi kerja secara ilmiah," jelas Kapten Linh lagi. "Orang tua membuat keranjang untuk mengangkut tanah, wantia tua memasak, pemuda dan pemidi menggunakan tenaganya untuk menggali tanah. Bahkan anak-anak ikut membantu dengan mengumpulkan daun untuk menutup pintu perangkap. Peralatan yang kami gunakan adalah sekop dan cangkul tua."


Penyair dan penulis Saigon, Vien Phuong, banyak melewatkan waktunya dalam terowongan ketika perang. "Menggali terowongan adalah tugas harian kami. Selain terowongan tempat tinggal, saya punya dua atau tiga terowongan kosong lain. Jika musuh mendatangi yang pertama, atau mengebom hancur terowongan yang lain, saya masih punya satu lagi. Jadi kami harus menggali setiap hari. Tanah Cu Chi adalah campuran tanah dan pasir. Di musim hujan, tanah itu halus seperti gula, di musim kering, keras seperti batu. Kalau saya berhasil menggali tiga puluh sentimeter selama enam jam sehari, itu sudah sangat bagus. Kami menggali bertiga dalam satu kelompok. Satu orang menggali, satu mengangkat tanah, dan satu lagi membuangnya."


Mayor Nguyen Quot pernah menghabiskan waktu lima tahun hidup dalam terowongan. "Pada awalnya terowongan adalah strategi lokal," jelasnya. "Pertama-tama ditujukan untuk individu, kemudian untuk keluarga. Setiap keluarga bertanggung jawab atas terowongannya masing-masing. Kemudian rumah-rumah dalam satu desa saling dihubungkan oleh sebuah terowongan. Tak lama kemudian kami membuat terowongan yang menghubungkan desa-desa. Akhirnya terbentuklah terowongan komunikasi utama, terowongan rahasia, dan terowongan palsu. Semakin keras Amerika berusaha mengusir kami dari tanah air kami sendiri, semakin dalam kami menggali ke bawahnya."


Seiring dengan meningkatnya intensitas perang di Vietnam, distrik Cu Chi makin menjadi fokus perhatian Amerika. Dengan artileri, serangan udara, bom, semprotan zat kimia dan gas ke dalam terowongan, Amerika merajah Cu Chi. Seluruh batalion tentara Komunis tetap bertahan. Hutan Cu Chi berubah menjadi gurun, desa-desa hancur, penduduk diungsikan. Tetapi terowongan mereka tetap utuh, melindungi kaum sipil dan militer menanti kemenangan.[]



GAS BERACUN, BAU MAYAT, DAN MALARIA

Terowongan Viet Cong seperti sebuah kota bawah tanah. Di sana ada rumah sakit, toilet, kamar tidur, dan dapur-dapur umum. Ada pula teater politik, gudang militer, pusat konferensi, percetakan, lumbung padi, pemakaman sementara, bahkan ruang untuk menyembunyikan kerbau pembajak sawah yang berharga, serta--yang terpenting--bengkel pembuatan senjata, granat, dan ranjau.


Sementara tank-tank baja sekutu merayap di atas, dan bom-bom menghujani bumi, mereka aman di pelukan bumi, dalam arti harfiahnya. Di siang hari, ketika tentara Amerika bertebaran di mana-mana, tak ada suara, tak ada yang bergerak. Bumi seakan mati. Tapi begitu orang-orang Amerika itu pergi, begitu malam mulai turun, kota bawah tanah itu menjadi hidup.


Makanan dan Amunisi
Pertama-tama mereka menyalakan dapur Dien Bien Phu. Dapur "tanpa asap" ini pertama kali digunakan semasa perang Prancis dan kemudian makin disempurnakan pada 1960-an. Asap dapur disalurkan melalui beberapa cerobong asap ke permukaan tanah, tujuannya untuk menyebarkan asap itu agar tak terlihat dari udara. Tapi asap kompor sering bocor ke terowongan.


Kolonel Dr. Vo Hoang Le, pejabat medis senior Viet Cong, mengakui betapa sulit dan tidak nyamannya memasak di bawah tanah. "Biasanya kami hanya makan makanan kering. Memasak dengan benar hanya mungkin dilakukan di atas. Asap sangat mengganggu kalau memasak di bawah tanah." Tapi kebutuhan orang-orang yang terluka kadang memaksa penggunaan dapur itu.


Kehadiran tentara sekutu yang makin dominan ikut membantu masalah penyediaan makanan di bawah tanah. "Mereka tanpa sadar menyediakan makanan yang cocok untuk kehidupan bawah tanah bagi kami," ujar Kolonel Le, "mereka selalu meninggalkan sisa makanan setelah sebuah serangan infanteri. Kadang cukup banyak. Daging kaleng, beras kering, mi instan dengan udang, rokok dan cokelat."


Setelah makanan, prioritas kedua yang penting bagi kelangsungan perjuangan Viet Cong adalah amunisi dan senjata. Pada hari-hari awal kehadiran Amerika, Viet Cong sangat kekurangan senjata. "Kami jarang menerima senjata dari Utara," kata Kapten Linh. "Kami hanya mendapat detonator ranjau. Kami butuh bahan peledak, dan untungnya tak lama kemudian bahan itu mudah ditemukan di sekitar kami."


Satu batalion sekutu di Cu Chi dalam sebulan menembakkan tak kurang dari 180.000 granat ke distrik Cu Chi, atau rata-rata 4500 sehari. Dalam sebulan, di seluruh Vietnam Selatan, tentara AS menembakkan sekitar seribu milyar peluru, 10 juta mortar, dan 4,8 juta roket. Ini baru pada awal perang.


Menurut Kapten Linh, sebagian besar artileri ini gagal meledak. Viet Cong memunguti bom-bom yang tidak meledak untuk mendapatkan TNT, kemudian merakit bom sendiri. Kaleng-kaleng Coca-Cola dibuat menjadi granat tangan. Di bawah penerangan lilin dan lampu parafin, Kapten Linh memulai "industri perakitan senjata" bawah tanahnya. "Kami melawan Amerika dengan senjata mereka sendiri," ujar Linh bangga.


Percetakan Komunis
Pada Desember 1969, Pasukan Alpha, menghabiskan waktu tiga hari untuk meledakkan bunker di hutan Boi Loi, barat daya Cu Chi. "Kami menemukan ventilasi udara ke sebuah terowongan," ujar Sersan Kermit Garrett. "Kami periksa daerah itu untuk mencari pintu perangkap. Tapi tidak menemukannya. Kami putuskan menggali ventilasi itu." Kermit melakukan penggalian hingga mentok ke sebuah dinding beton. "Kami hampir tak mempercayai apa yang terlihat di bawah sana," ceritanya kemudian. "Sebuah percetakan lengkap untuk membuat sebuah surat kabar!"


Mesin cetak seberat 1500-pon itu masih bekerja sempurna. Penyair dan penulis Vien Phuong, yang kini ketua Asosiasi Budaya Ho Chi Minh City, membenarkan bahwa percetakan bawah tanah itu memang banyak digunakan selama perang. Selama beberapa tahun Asosiasi Seniman dan Penulis Komunis Saigon berkantor di terowongan.


"Kantor kami berpindah-pindah, karena diserang atau keperluan memperluas jangkauan. Kami punya percetakan bawah tanah di Ho Bo, Phu Trung, Xom Thuoc. Sebagiannya masih ada hingga kini. Kami menggunakan percetakan itu terutama untuk menyebarkan informasi ke penduduk desa," ujar Phuong.


Mimpi Buruk
Yang paling mengerikan bagi penghuni terowongan adalah gas beracun yang digunakan tentara Amerika untuk memaksa Viet Cong keluar. Udara teramat berharga dalam ruangan di perut bumi itu, dan terus-menerus tercemar oleh kegiatan memasak dan toilet yang terbuka. Kalau ketika AS menggunakan gas, pintu perangkap dan sekat penahan air tidak bekerja, maka terowongan itu berubah menjadi tempat maut, perlahan-lahan merenggut nyawa penghuninya.


Tiga anggota pers partai tewas akibat menghirup gas beracun yang dipompakan tentara AS di kompleks percetakan di terowongan Xom Thuoc. Mereka adalah Vu Tung, wartawan Saigon, Huong Ngo, juga seorang penulis dari Saigon, dan Nona Tam, yang baru saja bergabung. Mayat-mayat Viet Cong yang tewas di dalam terowongan dikuburkan di pemakaman sementara. Mayat-mayat itu disimpan di dinding dalam posisi seperti janin dan ditutupi tanah dengan ketebalan beberapa inchi.
Satu-satunya pertahanan individual terhadap gas ini adalah topeng gas buatan lokal dari kain nilon yang biasanya diambil dari bahan parasut. Ketika perang semakin hebar, topeng gas ini makin sulit didapat. Militer dan penduduk sipil terpaksa menggunakan sepotong kain yang sudah dicelup ke dalam urine sebagai penggantinya.


Sistem sanitasi sangat primitif. Biasanya kendi besar, kalau ada, digunakan untuk tempat penampungan. Kalau tidak ada, mereka menggali tanah dan menutupnya lagi ketika sudah penuh. Baunya tak terbayangkan. Kapten William Pelfrey, yang pernah turun untuk bertempur di bawah, berkata, "Bau betul di bawah itu. Setelah berada di sana tiga atau empat puluh menit memang tidak terasa, tapi begitu naik lagi, engkau akan pingsan. Benar-benar pingsan!"


"Makanan cepat membusuk di bawah sana," Vien Phuong berkisah. "Barang paling berharga di bawah tanah adalah wadah-wadah plastik atau baja yang ditinggalkan tentara AS....kurang gizi dan malaria adalah masalah utama yang tak pernah luput dari kami." Seorang tentara AS menduga berada di pemakaman sementara ketika tiba-tiba dia muntah akibat bau yang teramat menyengat, padahal yang ditemukannya adalah sekarung nasi yang sudah membusuk.


Luka sekecil apa pun cepat menjadi parah. Terowongan itu tempat berbiak organisme kecil tak terlihat mata, namanya Vets atau Chiggers. Hidupnya di dinding dan langit-langit terowongan, bersama segerombolan besar nyamuk. Jika tersentuh, sekalipun terhalang pakaian, organisme ini akan masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan rasa gatal yang tak tertahankan. Viet Cong hidup dalam puncak keprihatinan, demi keyakinan mereka akan hak atas tanah air yang diagresi penjajah asing yang tak sepenuhnya mereka pahami dari mana datangnya.


Ketika berkomentar tentang para penghuni terowongan, Robert McNamara, ketika menjabat menteri pertahanan, mengingatkan audiensnya tentang ketidaefektifan strategi pengeboman di Vietnam Utara. "Ekonomi mereka bersifat agraris, penduduknya tidak akrab dengan kenyamanan modern yang sudah biasa bagi orang Barat...moral mereka tidak mudah patah, karena mereka terbiasa dengan disiplin, penderitaan, dan kematian."[]



VIET CONG vs. PRAJURIT TIKUS

Viet Cong begitu lekat dengan terowongan mereka. Bagi Viet Cong, jaringan bawah tanah itu seperti sehelai kain yang menutupi badan. Perumpamaan ini tak pernah disangkal oleh Ho Chi Minh.


Untuk menghadang Viet Cong di dalam terowongannya, AS mengembangkan pasukan khas, yang disebut "tikus-tikus terowongan". Mereka menguasai keterampilan khusus yang tak pernah diajarkan di pelatihan militer mana pun: merangkak di kolong bawah tanah yang gelap, sempit, beratap rendah, dengan ancaman maut sewaktu-waktu. Pasukan besar semut merah, nyamuk, laba-laba, kalajengking, tikus, adalah "musuh" lain yang harus mereka hadapi.


Usaha Sia-sia
Salah satu misi "tikus-tikus terowongan" adalah penghancuran seluruh jaringan terowongan bawah tanah. Karena kedekatan relatif Sungai Saigon dengan banyak jaringan terowongan, penenggelaman diduga sebagai cara mudah dan murah untuk merusaknya. Ternyata, cara itu terbukti mahal, lama, dan akhirnya gagal.


Pada 3 Desember 1967, Batalion I, Infanteri 277, ditugaskan untuk menghancurkan kompleks luas yang baru ditemukan sebelas hari sebelumnya. Pembanjiran adalah metode yang dipilih, setelah ditemukan sumber air yang cukup dekat dengan pintu masuk utama terowongan. Pekerjaan itu melibatkan pembabatan hutan untuk membersihkan jalan dari sumber air kemulut terowongan, penggalian parit untuk memperpanjang kanal, penambahan selang sepanjang 6000 kaki, kemudian pemompaan air sebanyak 800 galon per menit ke dalam terowongan untuk satu kompleks terowongan saja. Sumber air mengering, terowongan tetap utuh. Tak seorang pun Viet Cong terperangkap.


Kapten Herbert Thornton, salah seorang "prajurit tikus" awal, menyatakan, "Meskipun kita mengalihkan seluruh Suangi Saigon ke terowongan, pasti tetap gagal. Masalahnya tanah di sana menyerap air di musim kering. Sedang di musim hujan, pintu-pintu tanah itu menjadi kukuh."


Peledakan dengan rantai granat juga dilakukan tanpa hasil memuaskan. Demikian pula pemompaan gas. Satu-satunya cara yang terbilang efektif adalah menghadapi Viet Cong satu per satu secara langsung di bawah tanah. Brigadir Jenderal Ellis W. Williamson, komandan udara selama Operasi Crimp, menyatakan dengan cara yang agak vulgar, "Menghancurkan sistem terowongan Viet Cong dengan cara apa pun, seperti mencoba menyuburkan ladang seluas empat puluh akre dengan kentut, atau memenuhi Grand Canyon dengan garpu. Kita terus-terusan bekerja tapi tidak pernah ada hasil."


Didikan Mao
Moral dan dedikasi Viet Cong yang tinggi pun tak hentinya memukau musuh mereka. Bagaimana mereka bisa memberi perlawanan hebat di bawah kondisi yang begitu berat? Bagaimana kaum Komunis itu mampu menanggung banyak korban atau berani melakukan misi yang setara dengan bunuh diri? Singkatnya, bagaimana bangsa yang begitu terbelakang mampu melawan negara adidaya terbesar dunia dan mematahkan tekad mereka untuk melanjutkan perang?


Di lapangan, jawaban atas semua pertanyaan itu terletak pada pengorganisasian dan motivasi kader Komunis--dan kenyataan bahwa para pemuda Vietnam paham betul apa yang telah diajarkan pada mereka. Sebagian tentara AS tidak punya gambaran jelas apa yang mereka perjuangkan di Vietnam. Tapi bagi para gerilyawan Viet Cong, ada utang-darah yang harus dibayar--desa-desa yang dibombardir, saudara-saudara yang dibunuh, atau ditangkap dan disiksa, oleh sebuah pemerintah yang didanai dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat.


Gerilyawan Viet Cong, pria dan wanita, biasanya direkrut dari kalangan petani sejak usia muda. Dasar disiplin mereka adalah kesadaran individual. Mereka dilatih berdasarkan ajaran Mao Zedong. Le Linh, mantan komisaris politik Viet Cong mengatakan, "Apa pun akan dilakukan untuk menjamin tak seorang prajurit pun meragukan untuk tujuan apa dan untuk siapa mereka berjuang." Para gerilyawan Viet Cong yakin, keadilan adalah tujuan perjuangan mereka. Semangat inilah yang membakar disiplin dan dedikasi mereka, betapapun berat bahaya dan derita yang harus mereka tanggung selama berada di bawah tanah.[]

Comments