midori senta no matsuri

festival tahunan balai desa. barangkali itulah istilah yang paling mendekati bagi kegiatan di midori centre kemarin. semua organisasi masyarakat yang menggunakan tempat ini sebagai tempat beraktivitas menampilkan hasil kegiatan mereka dalam festival tiga hari ini.

acara hari sabtu dibuka dengan pertunjukan taiko di halaman depan. saya selalu terpukau dengan pertunjukan musik sederhana ini. dua tabuh besar masing-masing dipukul oleh dua orang mengharmonikan gerak dan pukulan, menghasilkan bunyi yang hampir seperti magis karena iramanya yang berulang dan bergelombang. bukan hanya tangan dan kaki mereka yang mengikuti gerak pukulan itu, kepala mereka pun bergoyang untuk membantu harmonisasi. seorang anak kecil menirukan gerak mereka di baris depan kerumunan penonton.

saya tiba di sana sesaat sebelum pukul sepuluh. sepeda tidak bisa diparkir di tempat biasa karena halaman depan dipakai untuk pertunjukan taiko dan penjualan hasil pertanian. masuk ke dalam, orang-orang ramai berdesakan sejak dari pintu depan. ada pameran origami dan meja penjualan makanan organik di sebelah kiri pintu masuk, tumpukan buku bekas dari perpustakaan di tengah, dan sekelompok pemusik di ujung kanan ruangan lantai satu. para pemusik ini akan mengiringi tarian irlandia nanti. dinding galeri di samping perpustakaan penuh digantungi bingkai-bingkai foto kembang sakura.

di lantai atas, kelas nihongo bersiap dengan acaranya. beberapa orang mengenakan pakaian yang berbeda untuk hari ini. tsukamoto sensei yang bertugas di meja penerima tamu tidak lagi dalam jins pudar dan t-shirtnya, tapi gaun hijau biru dengan rok selutut. doruma si orang tibet, menarik perhatian dengan pakaian tibetnya yang berwarna kontras merah dan hijau terang, roknya panjang sampai mata kaki dilapisi semacam apron putih krem bergaris-garis dengan warna khas tibet. ketika berfoto di akhir acara dia mengenakan topi tibet yang terbuat dari bulu binatang dan tenunan tibet dalam warna senada. ada yang tampil dalam pakaian thailand, cina dan kimono. saya sendiri mengenakan baju kebaya putih krem. bagian bawahnya, karena saya datang bersepeda, tetap seperti biasa --celana panjang biru.

acara utamanya berlangsung lancar. tiga kata aisatsu dalam sembilan bahasa. setelah itu nyanyi diawali oleh maxim dari rusia. saya merasa penampilannya waktu latihan minggu lalu lebih bagus, karena dia lebih santai dan bisa tersenyum. hari ini dia seperti ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. tiga penyanyi sesudahnya dari cina, tibet dan turki. nyanyian turki tidak terlalu jelas karena medin menyanyikannya dengan malu-malu dan ada kesan tidak selesai di ujungnya. apresiasi untuk nyanyian tidak bisa selalu ditunjukkan dengan tepuk tangan mengiringi lantunannya. orang-orang mungkin antusias untuk mengiringi lagu cina te mimi dengan bertepuk, tapi lagu itu begitu pelan dan bernada rendah, ketukan tepuk tangan tidak cukup mampu mengikutinya dan malah terasa mengganggu. berbeda dengan lagu rusia, katyusha yang berirama gembira. tepuk tangan yang mengiringinya memang pantas dan mencipta suasana gembira.

saya tampil berpidato urutan ketiga. dua pidato pertama oleh orang cina. saya menggunakan poster buah hanifa untuk menunjukkan buah-buah yang namanya saya sebut dalam pidato itu. setelah saya ada dua pidato lagi, dari orang thailand dan cina. meski masih perlu melihat teks, saya merasa pidato saya cukup baik karena hadirin tampak memperhatikan dan antusias mendengarkan. lantaran pidato ini, setelah acara bubar saya didekati seseorang yang meminta saya mengisi acara memperkenalkan indonesia kepada murid sd, smp, sma dalam sebuah kegiatan pengisi liburan musim panas.

selesai tiga acara utama itu, kami menari bersama diiringi musik thailand. tarian thai pada saat gembira. kami berjalan dalam lingkaran sekeliling ruangan sambil menggerakkan tangan. setelah itu tampil para pemain sakuhachi dan koto. saya belum pernah menyaksikan permainan alat musik tradisional jepang ini dalam sebuah pertunjukan bersama. ada empat pemain koto dan delapan peniup sakuhaci. keempat pemetik koto itu perempuan usia lima puluhan dalam pakaian kimono dengan warna-warna lembut oranye, hijau, biru dan coklat muda. di belakangnya bapak-bapak tua peniup sakuhachi yang tampil dalam pakaian paling tidak menarik di dunia, kemeja putih celana hitam, seperti sebagian rambut mereka yang sudah memutih di antara lembaran yang masih hitam. kelompok ini baru mulai belajar memainkan alat musik itu selama empat bulan.

koto mengingatkan saya pada cerita geisha dan genji monogatari. dalam satu kesempatan si geisha muda itu disuruh membeli senar koto untuk si geisha senior dan dia bertemu si ketua dalam perjalanannya. koto barangkali memang hanya dimainkan oleh perempuan. sepertinya ada beberapa jenis koto tergantung jumlah senarnya. yang dimainkan kemarin adalah koto tiga belas senar. sebelum bermain mereka menyetel senar sesuai lagu yang akan ditampilkan dengan cara memindah penyangga senar ke titik yang sesuai. ke kiri dan kanan sepanjang batang senar itu. setiap senar disangga pada titik yang berbeda, kemudian mereka mengetes bunyinya. tiga jari kanan mereka dipasangi penutup berbentuk kuku untuk memetik senar, ibu jari, telunjuk dan jari tengah. jari-jari di tangan kiri bekerja menekan senar untuk menghasilkan nada yang diinginkan. kadang-kadang--dalam permainan musik yang lebih rumit-- jari tangan kiri ikut memetika senar di sisi kanan penyangga.

sakuhachi adalah alat musik tiup dari bambu. dinamai demikian barangkali karena ada delapan lubang sepanjang buluh itu. diameternya agak besar, tidak kurus panjang seperti recorder. ditiup dengan memegangnya ke depan bukan ke samping karena lubang tiupnya berada di ujung atas. bunyinya seperti udara dalam cerobong asap kapal, membulat. dari empat musik yang dimainkan saya hanya mengenal lagu ketiga, lagunya four pm. dan menikmati hanya lagu keempat karena betul-betul menunjukkan bagaimana kedua alat musik itu bisa memadu bersahut-sahutan dan saling menghimbau dalam alunan lagu yang panjang. musik keempat ini dimainkan oleh sensei para pemain sebelumnya.

melihat mereka bermain musik saya membayangkan bagaimana mereka berlatih setiap hari di rumah. bapak-bapak tua itu, sudah pensiun dan punya banyak waktu luang. tidak ada kerepotan mengurus anak, tidak mesti masuk kerja pagi sampai malam. tinggal di rumah hanya berdua istri atau sendiri. mereka datang ke tempat latihan berkumpul bersama yang seusia, belajar keterampilan baru, saling memberi semangat dan mengambil inspirasi dari permainan guru yang mereka kagumi. itulah salah satu yang menarik dari masyarakat jepang, kelompok lanjut usia yang aktif bermasyarakat, berorganisasi, menguasai keterampilan baru dan terus belajar. setiap sabut pagi lewat di depan kominkan honcho, saya melihat mereka belajar dansa. di halaman belakang midori centre, mereka berkumpul mengeluarkan hasil bakaran keramik dari tungkunya. di koran dwibulanan koganei banyak informasi tentang kegiatan yang bisa mereka ikuti, belajar menggunakan dan merakit komputer, olahraga, hiking, seni dan kegiatan sukarelawan. saya ingin, jika usia sampai ke sana, tetap aktif seperti mereka pada saatnya.

mendengarkan musik mereka mengingatkan saya juga betapa sudah cukup lama jiwa saya tidak tersentuh oleh nada yang indah. musik yang indah itu membangkitkan konsentrasi dan keheningan. perpaduan alat musik dengan pemain yang piawai menghidupkan yang mati. saya seperti ingin meraih sesuatu yang lebih luhur dan murni ketika mendengarkannya. begitulah selalu yang saya rasakan ketika melihat seseorang yang menguasai sebuah keterampilan menunjukkan kemahirannya.

acara diakhiri dengan lagu if youre happy and you know it dalam tujuh bahasa. lagu yang biasa dinyanyikan dalam temu pramuka. lagu ini menakjubkan karena hampir semua negara memiliki versinya masing-masing dengan arti yang tidak jauh berbeda. saya kira jarang sekali ada satu lagu yang punya keluwesan semacam itu. menutup acara, karena tidak ada tradisi berdoa bersama untuk mengakhiri sebuah pekerjaan, kami bertepuk pramuka tiga kali. kemudian saling membungkuk dalam ucapan arigatou. setelah bubar dan berfoto bersama masih ada sekian kali membungkuk dan mengucapkan kata-kata manis kepada sesama peserta hingga akhirnya langkah membawa orang-orang ke pintu dan berbaur dengan keramaian dari acara-acara lain.

kembali di rumah saya jadi bertanya, keterampilan yang ingin saya kuasai, apakah saya telah memberi waktu dan kesungguhan yang cukup untuk menguasainya. saya ingin apa yang saya hasilkan lewat penguasaan keterampilan itu dapat menjadi sumber ilham bagi orang yang menikmatinya--seperti musik yang indah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)