Buku Lama

Perpustakaan Erasmus Huis, Jakarta


Apa yang akan kita lakukan dengan buku yang sudah dibaca? Pertanyaan itu menggelayuti saya dalam beberapa hari belakangan ketika mulai membereskan dan memilih koleksi buku yang akan saya bawa pulang ke Indonesia. Buku-buku itu seperti meninggalkan jejak sendiri. Setiap bertemu lagi dengan sebuah buku, saya jadi teringat apa yang paling mengesankan saya ketika membacanya, emosi apa yang pernah terbangkitkan dan peristiwa apa yang terjadi dalam masa saya membaca buku itu. Seperti melihat sebuah foto lama, saya diajak kembali masuk ke suasana yang terekam di sana, tapi lebih dari sekadar gambar dalam foto, memori itu membuat saya memetik lagi kalimat-kalimat indah dan kebijakan yang pernah menyentuh saya lewat pembacaannya. Lantas apa yang sebaiknya saya lakukan dengan buku-buku itu?

Sebagai sebuah benda bervolume besar, buku secara fisik menimbulkan persoalan sendiri untuk dibawa ke mana-mana. Butuh biaya, tempat dan tenaga. Saya tidak tega untuk membuangnya begitu saja, seperti yang saya lihat dilakukan orang di sini ketika hari pembuangan sampah kertas tiba. Mereka dengan gampang mengikat setumpukan buku yang kelihatannya masih bagus-bagus, meletakkannya di pinggir jalan untuk dikumpul oleh petugas pengangkut sampah. Buku-buku itu jadi tidak berbeda dengan koran bekas, selebaran promosi dan iklan, kertas pembungkus atau kardus yang dibuang pada hari itu. Mestinya ada cara lain yang lebih terhormat untuk buku-buku ini.

Saya masih ingin menyimpan sebagiannya, terutama novel-novel yang bagus dan amat berkesan, buku-buku tentang menulis yang akan selalu saya baca ulang, dan buku-buku yang dihadiahkan orang. Di antara buku-buku hadiah ini ada sebenarnya yang tidak saya baca sampai selesai, saya merasa tidak tertarik untuk membacanya lebih lanjut dan merasa sebenarnya buku itu akan lebih baik jika bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Tapi karena ada pesan dan tanda tangan pemberi hadiah di halaman depan buku, saya merasa sangat sayang untuk melepasnya. Nilainya jadi lebih dari sekadar informasi, ada tali persahabatan, ada rasa perkawanan yang lebih berharga dari sekadar menyebarkan manfaat buku itu kepada orang lain. Saya membaca lagi apa yang mereka tulis di halaman itu:

"Semoga (buku ini) dapat menghadirkan rasa 'fun' dan semangat baru," tulis Mas Hernowo di halaman depan Andaikan Buku itu Sepotong Pizza.

"Isi kekuasaan adalah intrik dan balas dendam... Hikmah buku ini ada di bagian dua. Bacalah, menarik! Kisah ini disajikan dengan lucu, cermati profil gambar-gambarnya," tulis Mas Hernowo lagi mengantar hadiah Wu Zetian, Misteri Pemimpin Wanita.

"Dengan rasa persahabatan kukirim serangkum kehangatan negeri tropis bagimu yang sedang mengalami dinginnnya negeri sakura," kalimat indah dari Mbak Ani Sekarningsih yang mengukir halaman depan Putu Wijaya, Sang Teroris Mental.

Bagaimana saya akan tega melepas buku-buku dari mereka yang sudah dengan hati yang hangat menghadiahkannya kepada saya. Saya bayangkan proses mereka memilihnya di toko buku, membayarnya, memilihkan kata-kata untuk dituliskan di sana, membungkus kemudian mengirimkannya ke sini. Saya sendiri sering kesulitan untuk merangkaikan kata yang akan ditulis pada sebuah buku yang akan saya hadiahkan kepada seseorang. Kalau dibiarkan kosong, atau hanya diisi dengan tanda tangan, rasanya akan sangat hambar. Saya jadi tahu kini, cara paling pasti untuk membuat buku hadiah kita akan tetap berada di rak orang yang kita hadiah adalah dengan menetahkan seuntai kalimat yang berkesan di halaman depannya.

Saya teringat lagi dengan cara bagaimana buku-buku telah terkumpul di sini. Pertama-tama saya mulai beli novel di sini adalah di toko buku Kinokuniya. Membeli novel baru terasa mahal, memang. Di atas 1000 Yen. Saya sering berkunjung ke Kinokuniya sampai akhirnya saya tahu tentang toko buku bekas Good Day Books di Ebisu. Rak-rak buku tinggi dan padat berjejer memanjang di ruangan sempit lantai tiga Asahi building itu. Buku-buku disusun menurut genre dan abjad nama belakang pengarangnya. Gang antara rak sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang, sementara pengunjung toko itu kebanyakan adalah orang asing berbadan besar, sering saya harus jalan memutar dengan tidak efisien ketika mau berpindah ke rak lain. Lebar raknya juga sangat tipis, kalau tidak hati-hati mengembalikan sebuah buku ke dalam barisannya bisa membuat buku di rak belakangnya jatuh terdorong. Pengunjung bisa menjual bukunya di sini, tapi dibeli oleh toko buku dengan voucher yang bisa digunakan untuk membeli buku lagi di toko yang sama. Cara yang cerdik untuk menarik pembeli agar selalu datang kembali. Pameran buku tahunan Tokyo yang selalu membuka pojok obral juga jadi tempat berburu yang bagus. Dua tahun belakangan saya lebih sering membeli buku lewat amazon.co.jp dengan selalu memantau bargain cornernya juga.

Begitulah akhirnya buku-buku itu bertumpuk mengumpul di rak buku saya selama empat tahun tinggal di sini. Di antaranya ada buku-buku yang langsung saya tuntaskan dalam dua tiga hari setelah diperoleh, misalnya novel-novel Anne Tyler, serial Lord of the Rings dan Harry Potter, novel-novel James Patterson dan buku-buku tentang menulis yang senantiasa inspiratif betapapun jelek kualitasnya. Ada juga buku yang hanya saya baca beberapa bagian awalnya saja kemudian tidak disentuh lagi hingga sekarang, misalnya novel Salman Rushdie, dan dua novel dari Ursula Le Guin yang bergenre sains-fiksi, saya tidak betah berlama-lama membacanya padahal kedua novel itu konon novel terbaiknya. Ada buku yang sering saya baca ulang secara acak, misalnya kumpulan cerpen terbaik dari Roald Dahl. Ada buku-buku yang setelah dibaca, ingin rasanya saya buang saja karena isinya sungguh tidak berkesan dan bahkan mengesalkan, tapi saya, sekali lagi, tidak pernah sampai benar-benar tega melakukan itu karena setiap buku adalah hasil kerja keras yang pantas dihargai.

Tapi apa gunanya menyimpan terus buku-buku itu, bahkan sampai membawanya kembali ke Indonesia. Membawa ke mana-mana buku-buku itu seperti keledai pemikul beban saja. Itulah salah satu jebakan dalam memiliki buku, tanpa disadari orang menumbuhkan rasa memiliki yang terlalu dalam dengan bukunya, seolah-olah sebagian dari nilai dirinya melekat di benda itu. Betapa pun orang mencintai buku koleksinya, ada saat untuk berpisah. Menatap barisan buku tersebut berjejer rapi di rak memang memberikan kepuasan sendiri. Tapi sungguh lebih memuaskan, sebenarnya, jika buku tersebut bisa menyebar, bisa dibaca oleh orang lain, terus mengalirkan inti kebijakan dan penghiburannya kepada siapa pun yang mau meraihnya. Itulah sebabnya saya harus menambahkan lagi panjang daftar buku yang semestinya saya hibahkan, melepaskan ikatan rasa memiliki pada buku-buku itu, membiarkannya bebas untuk dapat dinikmati lebih banyak orang.

Comments

Artikel Baru

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Momen Serendipitas