Sebuah Perjalanan

Aku harus keluar pagi-pagi. Tidak seperti biasa. Ada janji pertemuan yang tak bisa diubah. Buru-buru menyalakan mesin lalu melesat pergi. Aku tahu lalu lintas akan seperti neraka pagi ini, tapi aku hampir terlambat. Memasuki jalan utama, aku tidak keliru--macet.

Aku berbelok dan mengambil jalan kecil. Jalan itu membawaku masuk ke perkampungan dan melewati ladang-ladang subur. Jagung mulai matang dengan untaian rambut keemasan, beberapa pekerja sedang memanen.

Sambil menyetir, aku menyantap sarapan--tak sempat melakukannya tadi di rumah.

Jalanan berlubang-lubang, tapi aku menikmatinya hingga akhirnya kembali masuk ke jalan utama. Lampu lalu lintas di depan menyala hijau, kuning, lantas merah.

Menunggu di garis batas, aku memperhatikan sekelompok orang di pojok perempatan.

Para pekerja penggali tanah. Duduk di samping peralatan kerja mereka, cangkul dan pangkur.

Ada sekitar sepuluhan lelaki setengah baya. Wajah cokelat kehitaman terbakar matahari. Sebagiannya berpakaian rapi, kemeja dan celana panjang, bertopi dengan pinggiran lebar.

Sebuah truk berhenti di dekat mereka. Seseorang melompat turun. Dia menunjuk mereka satu-satu bergiliran.

Satu orang, yang paling lusuh di antara kumpulan itu, maju ke depan. Dia ingin masuk hitungan, matanya mengharap. Menghela napas, petugas dari truk tadi mengangguk, dan menggerakkan jempolnya ke arah truk.

Orang yang terpilih naik, lalu mereka dibawa pergi.

Aku tak tahan untuk tidak membayangkan tentang upah harian mereka. Ke mana uang itu akan dihabiskan. Cukup untuk berapa lama. Teringat mata lelaki paling lusuh itu. Dia tentu punya keluarga--entah di mana.

Ketika kembali melaju, untuk alasan tertentu aku tak lagi merasa perlu bergegas.

Comments

Artikel Baru

Dua Bulan di Langit 1Q84

Dilema Schadenfreude

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan