Haruki Murakami: Pemberontak Sastra Jepang

Haruki Murakami

Suatu  kali saya meminjam dua buku dari perpustakaan: Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata dan A Wild Sheep Chase karya Haruki Murakami. Dalam buku Kawabata, novelis Jepang yang pertama meraih Nobel Sasta pada 1968,saya bertemu keindahan formal yang menjadi ciri literatur Jepang masa pascaperang. Kuil eksotik dengan taman lumut yang teduh, kimono sutra elegan, upacara minum teh yang khidmat, geisha berpupur putih yang terampil meramu pembicaraan memikat dengan tamunya. Sebuah dunia yang halus dan penuh aroma nostalgik seperti mimpi yang indah.

Ketika membuka halaman novel Murakami, gambaran stereotipikal Jepang sama sekali lenyap. Saya bagaikan terlontar jauh dari semua itu dan dibawa masuk ke sebuah dunia surealis yang misterius. Tak ada lagi kemolekan Jepang seperti yang tergambar dalam kartupos-kartupos. Tak ada puncak Fuji yang putih menjulang atau Sakura yang anggun di awal musim semi. Novel Murakami mengubah Jepang yang eksotik menjadi tempat ajaib, aneh dan mencengangkan, yang penuh individu-individu terasing dan hampa.

Haruki Murakami memang menandai pergeseran besar dalam panorama literatur Jepang. Novel-novelnya menggambarkan kegelisahan dan keterasingan yang dirasakan individu dalam masyarakat Jepang modern. Tulisannya sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika, dipenuhi perujukan dan pengagungan pada film, musik, dan budaya pop Barat.

Karakter-karakter dalam ceritanya menerima budaya tersebut sebagai bagian yang padu dengan kehidupan Jepang masa kini. Anak-anak muda Jepang menggemarinya karena karya-karyanya menyuarakan apa yang mereka alami, mereka dengan mudah mengidentifikasi diri dengan karakter dalam ceritanya, tetapi generasi tua mengkritiknya sebagai terlalu terbaratkan. Kata mereka, Murakami menggambarkan masyarakat Jepang secara negatif.

Murakami secara terang-terangan mendeklarasikan keinginannya untuk berbeda dari pendahulunya. Dalam sebuah wawancara pada 1991 dia berkata, "Saya ingin mengubah sastra Jepang dari sebelah dalam." Dia bisa disebut seorang pemberontak dalam tubuh sastra Jepang. "Kebanyakan novelis Jepang,"  kata Murakami,"kecanduan pada keindahan bahasa. Saya ingin mengubah itu."

"Menulis dalam bahasa Jepang bagi orang Jepang mempunyai satu gaya tertentu yang sudah baku. Orang harus mengikuti gaya itu. Tapi gaya saya berbeda, dengan atmosfer yang sangat Amerika. Saya mencari gaya baru untuk pembaca Jepang dan saya pikir saya sudah mendapat pijakan."

Pijakan itu sungguh kuat jika melihat posisi yang telah diraihnya sekarang. Novel pertama Murakami, Hear the Wind Sing, terbit pada 1979, ketika dia masih berstatus pemilik sebuah bar jazz di Tokyo yang didirikannya usai menamatkan studi di Waseda.

Kini selusin judul buku telah ditulisnya, lebih dari dua belas juta eksemplar bukunya beredar di Jepang, dia telah menerima serangkaian penghargaan bergengsi, dan novelnya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari empat belas bahasa.

A Wild Sheep Chase adalah novelnya yang ketiga, berisi kisah aneh tentang seorang pria yang dipancing masuk ke dunia antah-berantah yang mistis untuk mencari seekor domba misterius. Murakami menyebut novel ini sebagai kisah fantasi petualangan. Kritikus menyebutnya sebagai gabungan cerita detektif dengan fabel, misteri, dan komedi di mana mimpi, halusinasi,imajinasi liar lebih penting daripada bukti-bukti nyata.



Protagonisnya adalah seorang pekerja di biro penerjemahan yang menandai hari-hari yang dilewatinya lewat lagu-lagu yang didengarnya di radio. Seperti di kebanyakan novelnya yang lain, sang protagonis hanya disebut sebagai "Boku"atau "Watashi", yang keduanya berarti aku atau saya. Secara geografis latar novelnya adalah Jepang, tapi pengalaman protagonis sama sekali tidak bergantung pada tempat itu karena ceritanya dipenuhi oleh perujukan pada budaya pop Amerika era 1960-an.

Lewat novel inilah Murakami pertama kali dikenal di Amerika setelah edisi berbahasa Inggrisnya terbit pada Oktober 1989. Buku itu segera mendapat sambutan hebat di kalangan pembaca bahasa itu. Ulasan, wawancara dan foto besar Murakami bermunculan di The New York Times Book Review, Washington Post, Wall Street Journal, San Francisco Chronicle, Los Angeles Times, dan sejumlah majalah serta jurnal sastra lain.

Gaya tulisnya diperbandingkan dengan Kafka, Don DeLillo, Tom Robbins, Chandler, Salinger, Borges, tapi kemudian diakui sebagai orisinal. Penerbitnya di Jepang, Kodansha, menyebut baru kali ini sebuah novel Jepang modern didiskusikan dengan begitu luas di lingkaran sastra dan penerbitan Amerika. Tak lama kemudian novel ini terbit pula di Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Korea, Belanda, dan Spanyol.

Murakami lahir di Kyoto pada 1949 dan dibesarkan di Kobe. Kedua orangtuanya pengajar sastra Jepang. Dengan latar belakang ini, dia juga bisa disebut pemberontak dalam keluarganya karena di masa remajanya dia menolak untuk membaca novel-novel Jepang sama sekali. Kobe adalah kota pelabuhan yang besar dengan banyak toko buku bekas. Novel-novel Amerika dapat diperolehnya dengan mudah dan murah.

Bacaan kegemarannya saat itu adalah novel detektif dan fiksi sains dari berbagai pengarang: Ed McBain, Mickey Spillaine, Scott Fitzgerald, Truman Capote, dan terutama Raymond Chandler serta Raymond Carver. Kedua pengarang dengan nama depan sama ini menanamkan pengaruh besar pada dirinya.

Meski banyak membaca, Murakami tidak segera tertarik untuk menulis.Dia merasa tak punya bakat dan persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi novelis, dan lebih tertarik membuat film. Ketika menjadi mahasiswa teater dan film di Waseda, Murakami pernah mencoba menulis, tapi tidak berhasil.

Dia berhenti mencoba ketika berusia 22 tahun lantas melupakannya, dan baru mencoba menulis lagi tujuh tahun kemudian. Berawal dari sebuah peristiwa yang langka. Ketika sedang menonton baseball, menyaksikan seorang pemain asal Amerika memukul bola, di benaknya tiba-tiba tebersit keyakinan bahwa dia bisa menulis. Seperti sebuah wahyu, keyakinan itu menjadi dorongan yang penuh tenaga. Sejak itulah Murakami mulai menulis, duduk di meja dapurnya setelah bar ditutup pada pukul satu malam.

Novelnya yang pertama selesai setahun kemudian. Dua tahun setelah itu dia menghentikan usaha barnya dan berkarier sebagai penulis purnawaktu. Bersamaan dengan itu Murakami mulai menerjemahkan fiksi Amerika. Dia memilih sendiri buku yang akan diterjemahkan karena dua alasan. Pertama, dia ingin memperkenalkan seorang pengarang kepada pembaca Jepang. Kedua, dia ingin belajar menulis dari buku itu.

"Menerjemahkan adalah cara yang paling baik, karena Anda bisa mencermati setiap detail, setiap halaman, dan setiap kata," katanya. Di antara buku yang telah diterjemahkannya adalah karya Fitzgerald, Carver, Irving, dan Theroux.

Pengarang yang paling berpengaruh pada gaya tulisnya adalah Raymond Chandler. Murakami sangat menyenangi tokoh rekaan Chandler, Philip Marlowe, dan sering mengangankan hidup seperti tokoh itu ketika muda. Karier sebagai pemilik bar jazz selama tujuh tahun tampaknya juga memberi warna sendiri dalam tulisannya.

Dia sangat memperhatikan ritme, sering mengutip lirik lagu, dan menekankan pentingnya musik sebagai penawar kesempitan dunia kata. Dalam menulis, dia tidak merancang plot novelnya sejak awal, tapi membiarkannya mengalir sambil berjalan.

"Kalau saya mengetahui semuanya sejak awal, tentu akan sangat membosankan," katanya. Dia menulis bab pertama kemudian bab kedua berlanjut secara otomatis tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. "Saya menulis dengan spontan.Saya tidak me nemukan kesulitan dalam menulis," katanya.

Kelancarannya menulis yang membuat dia mampu menghasilkan karya dengan produktivitas mengagumkan. Empat kumpulan cerpen antara 1982 dan 1986, sebuah novel pada 1985, Hard Boiled Wonderland yang meraih penghargaan prestisius Tanizaki Prize. Disusul berturut-turut dalam jarak dua tahun oleh Norwegian Wood (1987) dan Dance, Dance, Dance (1989) yang merupakan sekuel bagi A Wild Sheep Chase.

Secara keseluruhan, karya Murakami dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah fabel fantasi seperti A Wild Sheep Chase, yang merupakan buku ketiga dalam sebuah trilogi. Dua buku pertama dalam trilogi ini adalah Hear the Wind Sing (1979) dan Pinball 1973 (1974). Termasuk juga dalam kategori ini adalah Wind Up Bird Chronicle (1994) yang menyoroti tindakan Jepang di Manchuria dalam Perang Dunia kedua. Buku-buku dalam kategori inilah yang paling kuat mencerminkan kecenderungan surelisme dan realisme magis Murakami.

Kategori kedua adalah kisah cinta seperti Norwegian Wood, sebuah novel yang melambungkan kepopulerannya. Jika novel-novelnya terdahulu hanya mencapai angka penjualan seratus ribu eksemplar,  buku ini meledak dengan angka dua juta eksemplar pada tahun awal penerbitannya. Hampir setiap anak muda Jepang telah membacanya. Karya ini mengantar Murakami mencapai status selebriti di negerinya. Lantaran itulah bersama istrinya dia kemudian hidup berpindah-pindah di Eropa dan Amerika untuk menghindari konsekuensi tidak mengenakkan dari popularitas.


Para kritikus menyebut kepopuleran novel ini adalah karena tokoh utamanya terlalu banyak melakukan hubungan seksual dan membicarakan soal itu secara sangat ringan dan terbuka. Bagi Murakami sendiri, Norwegian Wood merupakan buku yang unik karena ditulis dalam gaya realisme murni dan sangat linear. Dia menyukai buku itu tapi tidak berencana menulis lagi dalam gaya seperti itu. Karyanya yang juga termasuk dalam kategori kedua ini adalah Sputnik Sweetheart (2001).

Kategori ketiga adalah buku-buku nonfiksi, Underground (1998) dan After the Quake (2000). Kedua buku ini ditulisnya sebagai respons terhadap dua kejadian penting yang menimpa Jepang: serangan gas sarin oleh kelompok kultus Aum Shinrikyo terhadap penumpang kereta bawah tanah di Tokyo pada 1995 dan gempa besar di Kobe pada 1997. Kedua peristiwa itu terjadi ketika Murakami berada di "pengasingannya", menulis di Yunani dan menjadi pengajar tamu pada Universitas Princeton dan Tufts. Dia merasa harus memperlihatkan kepeduliannya pada kejadian besar itu.

Untuk menulis Underground, Murakami mewawancara sekitar 65 orang penumpang kereta bawah tanah yang diserang itu. Dalam proses itu dia menemukan pengenalan baru tentang negerinya, tentang para pekerja keras yang berdesak-desakan setiap pagi di dalam gerbong kereta. "Saya mengagumi mereka,"  katanya. "Tapi tak ingin menjadi seperti mereka." After the Quake merupakan kumpulan cerita pendek yang menelusuri apa yang terjadi pada keluarga keluarga di Kobe setelah gempa besar itu. Kedua buku ini seperti menunjukkan perubahan pada diri Murakami, dari seorang yang ingin menjauh menjadi seorang yang kembali ke komitmen pada negerinya.

Di belakang Murakami kini berdiri para penggemar dari seluruh penjuru dalam barisan yang terus bertambah panjang. Novel-novel bertemakan kesepian individu di tengah masyarakat hyperkonsumer Jepang saat ini juga ditulis oleh pengarang-pengarang lain seperti Ryu Murakami dan Banana Yoshimoto. Murakami tampaknya belum akan berhenti menelurkan karya-karya baru. Dari sekian banyak karyanya barangkali Anda ingin tahu mana yang paling ia sukai. "Buku yang selanjutnya, buku yang sedang saya tulis sekarang," katanya. Dia tampaknya belum akan berhenti memberontak.[]

**

Catatan: Ini artikel lama yang ditulis pada 2003, tersimpan di blog lama yang sudah mati di geocities milik yahoo. Tulisan ini juga pernah dimuat di  suplemen "Ruang Baca" Koran Tempo, edisi Februari 2003.  Saya belum berkesempatan membaca buku terbaru Haruki Murakami, 1Q84. Jadi dalam tulisan ini saya sama sekali tidak menyebut tentang perkembangan terakhir karya penulis Jepang yang eksentrik ini. 

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas