Mata Orang Roma, Hati Orang Indonesia (2)

Wawancara dengan Stefano Romano, Penulis Buku “Kampungku Indonesia” (Bagian Kedua)

Stefano Romano berkesempatan berkunjung ke Indonesia pada momen pergantian tahun 2010 dan 2011 serta pada 2014, bertepatan dengan momen Ramadhan, Idul Fitri, dan 17 Agustus. Dalam kedua kunjungan tersebut, Stefano  mengabadikan banyak momen dari sudut pandangnya sebagai orang Italia yang melihat kehidupan orang Indonesia dan kaum muslim di sini. Dalam waktu yang sama Stefano membagi ilmu lewat beberapa acara workshop fotografi bersama komunitas fotografi di Jakarta dan Yogyakarta. Foto-foto terpilih dari hasil kunjungannya itulah yang kini disajikan dalam bukunya Kampungku Indonesia, dilengkapi dengan cerita menarik di balik potret-potret tersebut.

Tahun ini Stefano akan kembali berkunjung ke Indonesia dari 4 Juli hingga 28 September 2016,
dan akan memanfaatkan sebagian waktu untuk kegiatan peluncuran buku, melakukan beberapa workshop fotografi di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Berikut perbincangan seputar penerbitan buku Kampungku Indonesia yang merupakan impiannya sejak lama.


Apa yang paling Anda sukai dari buku ini?

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah petualangan panjang untuk menerbitkannya. Saya masih ingat email-email yang saya kirim setiap hari untuk memilih foto bersama tim dari Mizan. Sangat sulit dan waktunya sangat singkat, tetapi setiap kali saya menyentuh buku itu saya teringat pada masa-masa tersebut. Ini buku yang sangat bagus, dengan kertas berkualitas tinggi, warnanya sangat bagus, dan saya menggunakan warna-warna yang sangat kuat dengan saturasi tinggi. Percetakannya harus sangat baik. Itu dari sisi material.

Tetapi tentu saja yang lebih saya sukai adalah bahwa buku ini mewujudkan mimpi saya. Di Italia saya sudah menerbitkan banyak foto untuk majalah, surat kabar, situs web, kalender dan sebagai ilustrasi untuk buku-buku lain. Aneh rasanya bahwa buku-foto saya yang pertama justru terbit di Indonesia. Tapi tampaknya itu terkait dengan takdir, seperti yang saya tulis dalam pengantar buku itu: saya merasa punya darah Indonesia mengalir di dalam nadi saya dan merasa sebagai orang Indonesia dalam kehidupan saya yang lalu.

Ketika teman-teman fotografer Indonesia saya melihat foto-foto saya mereka selalu bilang seolah-olah saya adalah adalah orang Indonesia, saya memperlihatkan Indonesia yang sebenarnya. Bagi saya ini adalah pujian tertinggi, dan ketika saya melihat halaman-halaman buku itu, saya selalu mencoba untuk melihatnya dengan mata orang Indonesia, apakah disukai atau tidak, apakah terasa dekat atau tidak.


Harapan Anda dengan terbitnya buku ini?

Harapan saya tentang buku ini terutama sekali adalah semoga semua pembaca dapat merasakan dari foto-foto saya, kecintaan saya yang mendalam pada Indonesia, bukan sebagai sebuah tempat, bukan karena pemandangannya. Bukan. Tapi terutama kecintaan saya pada orang-orangnya, pada orang-orang kampung yang bagi merekalah saya dedikasikan buku ini.

Setiap hari di Roma saya merindukan Indonesia, saya merindukan berjalan-jalan di kampung dan mengambil foto orang-orang kampung. Dan saya sangat khawatir bahwa perkembangan kemodernan Jakarta akan menghilangkan kehidupan semacam ini. Jadi saya mencoba melalui buku saya untuk memperlihatkan apa yang sudah diketahui oleh orang Indonesia namun saya harap tidak akan pernah dilupakan, karena inilah jiwa Indonesia bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan masa depan di Jakarta dengan hanya mal-mal raksasa atau gedung pencakar langit. Jadi buku ini merupakan persembahan dari hati saya untuk seluruh orang Indonesia agar mencintai dan mempertahankan senantiasa kehidupan bersahaja orang-orang kampungnya.


Ada rencana untuk buku berikutnya?

Buku berikutnya saya berharap dapat meliput bagian-bagian lain dari Indonesia yang luas, karena “Kampungku Indonesia” hanya mencakup sebagian kecil dari pulau Jawa, tetapi kita menyebutnya “Indonesia” karena merupakan metafora tentang tempat asal orang-orang yang berdatangan dari kota-kota lain. Bagaimana pun saya berharap bisa mengunjungi banyak kampung dan pulau-pulau lain. Ini tentu saja tidak mudah dan mahal, tetapi kita lihat saja nanti  bagaimana perkembangan buku ini.

Dalam kunjungan saya yang akan datang, saya ingin berfokus tentang perubahan kehidupan, bagaimana modernitas merongrong tradisi. Saya mencoba menjadi saksi perubahan, seperti yang dilakukan Scott Merrillees dengan trilogi bukunya yang indah tentang arsitektur dan tempat-tempat di Jakarta.  Karena masa kini kita senantiasa tercampur dengan masa lalu: melupakan masa lalu berarti membangun masa depan yang hampa. Didedikasikan dengan sepenuh cinta kepada orang-orang kampung.


Comments

Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)