Internet vs Ensiklopedia: Mengapa Howy Lebih Unggul

Ardi seorang siswa kelas lima sekolah dasar mendapatkan tugas mata pelajaran sains yang memintanya untuk menulis tentang fotosintesis. Ardi mencari referensi di internet. Dia melakukan pencarian di mesin pencari Google dengan kata kunci “fotosintesis”.

Dalam waktu kurang dari satu detik, browser menampilkan jutaan laman website yang mengandung kata yang dicarinya. Ardi membuka tautan-tautan hasil pencarian yang ditampilkan. Dia menghabiskan banyak waktu untuk membuka laman demi laman untuk memilih informasi yang dibutuhkan.

Beberapa kali perhatiannya teralihkan pada iklan dan video yang tampil pada laman-laman website yang terbuka. Tak terasa dia telah menghabiskan hampir satu jam menjelajah internet. Dia kehilangan fokus dan merasa kelelahan. Waktu berlalu dan  Ardi belum menyelesaikan tugas sekolahnya. 

Mencari informasi di internet bagi anak usia sekolah masih merupakan pengalaman yang tidak selalu efisien. Masuk ke dalam internet dengan membawa satu pertanyaan seperti masuk ke dalam rimba. Kita akan bertemu berbagai macam informasi yang bisa jadi dangkal atau malah sangat dalam, saling berlawanan, sepotong-sepotong, tidak utuh, tingkatan detail yang berbeda-beda. Diperlukan kemampuan untuk memilih dan memilah informasi yang benar-benar sesuai dengan yang kita butuhkan.

Selain itu, perlu pula waktu yang tak sedikit untuk menjelajah berbagai sumber, membandingkan isi, menimbang kebenarannya. Kita menghabiskan banyak waktu untuk memunguti informasi yang relevan, tanpa mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan dan memperkaya pengetahuan secara pasti. Walhasil, pencarian informasi melalui internet adalah sebuah upaya yang tidak sederhana, apalagi untuk anak-anak usia sekolah.

Di zaman keterbukaan informasi saat ini, orang cenderung berpikir bahwa ensiklopedi dalam bentuk buku cetak tidak lagi dibutuhkan. Argumen pembanding yang diajukan biasanya seperti ini:  Internet menyajikan informasi yang dapat diakses kapan saja di mana saja; sementara buku ensiklopedi yang biasanya berukuran besar, tebal dan berat, hanya bisa dibaca di tempat. Internet menyajikan informasi yang terus mutakhir; sedangkan buku ensiklopedi memuat informasi yang tetap tidak berubah dan bertambah.

Namun, dihadapkan dengan kenyataan seperti kisah di atas, justru yang terlihat adalah nilai lebih sebuah buku ensiklopedi dibandingkan internet. Buku ensiklopedi menyampilkan informasi yang terkurasi, narasumber yang jelas dan dapat dipercaya, tersusun dengan sistematis, terpilih dan terarah, disampaikan dengan cara yang sesuai dengan level pemahaman dan usia anak. Buku ensiklopedi membuat anak tidak perlu banyak membuang waktu pindah dari satu situs ke situs lain mengumpulkan informasi, menyusun sendiri keping-keping informasi itu menjadi bangunan pengetahuan yang kuat.

Serial buku “How and Why” telah memiliki sejarah yang panjang. Ensiklopedi anak ini pertama kali diterbitkan pada 1950-an di Amerika Serikat, kemudian diterjemahkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh penerbit Tessloff di Jerman dengan nama baru “Was ist Was”. Target utama seri buku ini adalah anak usia delapan hingga sepuluh tahun. Penerbit ingin menawarkan kepada para pembaca muda ini informasi mengasyikkan dari bidang ilmu alam, dunia binatang, sejarah, sains dan teknologi, dengan cara pengemasan yang sesuai dengan usia pembaca targetnya. Uraian teks terstruktur dengan baik, setiap bab tidak terlalu panjang, sehingga anak yang enggan belajar pun juga tertarik. Halaman-halamannya tidak sesak dengan teks, banyak ilustrasi, foto, gambar, grafik, dan peta.

Fokus ensiklopedi ini adalah pada transfer pengetahuan secara menyenangkan oleh ahli yang kompeten. Penulis-penulisnya adalah para pakar di bidangnya masing-masing, termasuk nama-nama peneliti terkenal di Jerman seperti Heinz Seilmann, seorang zoolog yang juga pembuat film dokumenter alam terkenal dari Jerman, atau ahli biologi laut Petra Deimer.  Tim editor yang berpengalaman mengolah teks dari para ahli itu menjadi ramah-anak.

Serial buku ini dimaksudkan untuk menyajikan topik ilmu pengetahuan dengan cara yang membangkitkan minat, memuaskan rasa ingin tahu, dan juga mendorong pembaca muda untuk melanjutkan pencarian hal baru. Dengan motto "Transfer Pengetahuan Secara Menyenangkan," serial How and Why berkomitmen pada ide penyampaian pengetahuan yang mengasyikkan dengan kualitas tinggi dan terus mengikuti perkembangan zaman termasuk perkembangan media seperti televisi dan internet.

Beruntung bahwa serial buku yang telah dipercaya sejak lebih dari 50 tahun lalu oleh para orangtua di Jerman dan berbagai negara ini kini dapat dinikmati oleh anak-anak Indonesia. Serial "How and Why" di Indonesia diterbikan oleh Penerbit Kaifa Learning (Mizan Group), dan diberi nickname yang mudah diingat: Howy.  Anak-anak Indonesia dapat mengambil manfaat yang besar dari ensiklopedi ini untuk menumbuhkan minat terhadap sains dan teknologi, serta memuaskan rasa ingin tahu dan menjelajah lebih jauh. Selain itu, membaca buku ensiklopedi adalah sebuah pengalaman yang akan menumbuhkan kebiasaan kritis terhadap sumber informasi—sebuah kebiasaan yang sangat dibutuhkan di zaman keterbukaan informasi saat ini.

Video: Menengok Proses Cetak "How and Why" (c)Kaifa Learning

Informasi pemesanan buku, klik di sini: howandwhy.id 


Comments

Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)