Lelaki Bertelapak Kaki Angin


Arthur Rimbaud, September-Oktober 1871. Foto: Etienne Carjat

Catatan perjalanan adalah salah satu genre favorit saya. Membaca catatan perjalanan membawa saya membayangkan serunya menempuh perjalanan jauh dengan Trans Siberia, ketegangan melewati Khayber Pass, berjumpa orang-orang yang saya tidak pahami bahasanya namun tetap dapat  berkomunikasi. Barangkali karena aspirasi eksotik muda yang tak terwujud, dan semakin sedikit kesempatan dan waktu untuk menjelajah dalam arti yang sebenarnya ke tempat-tempat yang jauh, buku catatan perjalanan menjadi pilihan saya untuk menggenapinya.

Di antara para penulis favorit saya di genre ini adalah Jon Krakauer dan Paul Theroux. Dari dalam negeri, tentu saja Agustinus Wibowo dan Sigit Susanto. Dari mereka saya mendapatkan kepuasan menjelajah negeri asing, mencicipi budaya dan tradisi yang sama sekali berbeda, tanpa harus bepergian. “Armchair traveling”, begitu istilahnya.

Dan belum lama ini saya menikmati pula buku perjalanan yang tidak biasa dari Alain deBotton, The Art of Travel. Seiring menjelajahi tempat-tempat di muka bumi, buku ini membawa kita masuk ke dunia ide ditemani pemandu yang berbeda-beda untuk setiap bab—Gustave Flaubert untuk Amsterdam, Vincent van Gogh untuk Provence, misalnya. Bagi seorang sapiophilia seperti saya, buku ini sangat memuaskan.

Dari deBotton pula saya pertama mengetahui tentang Arthur Rimbaud. Rimbaud yang disebut sebagai penyair muda jenius yang mendobrak pakem dan mengejutkan kemapanan kalangan literari Paris tahun 1870-an, terlebih dahulu saya kenal sebagai seorang traveler daripada penulis puisi hebat. Dalam Literary Review edisi Mei 1997, deBotton menulis:

Rimbaud melewatkan sangat sedikit waktu dalam hidupnya melakukan apa yang paling membuatnya terkenal. Puisi hanya mengambil lima tahun, dan kemudian penulis “A Season in Hell” ini bertualang ke Afrika, menjadi pedagang, seorang saudagar gigih yang memperniagakan rempah-rempah, kulit hewan, kopi, senjata, kain dan bahkan mungkin budak. Selama enam belas tahun terakhir hidupnya yang singkat (dia meninggal pada usia 37), sang penyair mencampakkan masa remajanya sebagai jenius puisi, berusaha menjadi anonim di kota-kota perdagangan yang beringas di Afrika utara. Ketika kawan sesama pedagang mengetahui, melalui perjumpaan tak sengaja dengan pengunjung dari Paris, bahwa nama Rimbaud telah diagungkan di lingkaran puitik Prancis, Rimbaud mengatakan bahwa puisi baginya telah menjadi ‘ivrognerie’—sekadar hasil dari kemabukan. Berdagang rempah, senjata dan kopi, itulah yang penting baginya kini.

Lantaran keunikan sosoknya, Arthur Rimbaud termasuk salah satu seniman kisah hidupnya paling banyak diulik dan karyanya telah membangkitkan minat begitu banyak peneliti dan sarjana di berbagai universitas. Ratusan biografi, karya-karya kritik, dan tesis ilmiah telah diterbitkan tentang dirinya. Setiap aspek kehidupan Rimbaud, betapa pun kecilnya, telah disoroti oleh studi terperinci. Dia telah mencapai status mitos. Banyak pernyataan saling bertentangan diucapkan mengenai dirinya, kelompok-kelompok yang berbeda mengklaim dia sebagai bagian dari mereka.

Antara tahun 1871 dan 1879, dia dijuluki “l'homme aux semelles de vent”' (“lelaki bertelapak kaki angin”), karena dia tak henti bepergian, tak pernah berdiam lama di satu tempat. Tahun-tahun terakhir kehidupannya di Timur Tengah dan Afrika sebagai pedagang cukup terdokumentasi dengan baik melalui surat-surat dan sumber-sumber lain. 


Tapi ada satu babak dalam hidupnya yang hilang dari catatan biografer mana pun: perjalanannya ke Jawa. Biografi singkat Rimbaud yang ditulis Edmund White, terbitan terbaru dalam bahasa Inggris, pun hanya menyisipkan dua kalimat untuk pelayarannya ke Jawa. 

Rimbaud in Java: The Lost Voyage. by Jamie James.
Paperback, 128 pages. Published in 2011 by Editions Didier Millet

Dalam latar itulah saya mendekati buku “Rimbaud in Java: The Lost Voyages” karya Jamie James. Saya berharap mendapatkan sedikit cita rasa dan cerita tentang perjalanan di Jawa tahun akhir abad ke-19 dari sudut pandang seorang penyair genius Prancis. Apa yang dilihatnya, apa yang menarik perhatiannya, dan apa yang dilakukan. Mungkin itu harapan yang terlalu besar karena ketiadaan satu pun sumber sahih tentang itu. 

Yang bisa dilakukan hanya merekonstruksi ulang perjalanan tersebut dari sumber-sumber sekunder—sudut pandang spekulatif dan subjektif penulis biografinya, seperti yang dilakukan buku ini. James melakukan upaya imajinatif untuk melacak pengalaman Rimbaud. Memang bukan sebuah catatan perjalanan yang kita dapatkan dari buku ini, tapi rekaan-rekaan berdasarkan konteks sejarah, potongan kisah yang coba dicocokkan untuk menyusun keping puzzle yang hilang.  


Diketahui bahwa Arthur Rimbaud bergabung dengan tentara Hindia Belanda (KNIL) pada Mei 1876. Dia memulai perjalanan menuju Batavia dari pelabuhan Den Helder Belanda pada 10 Juni 1876 dengan kapal Prins van Oranje. Kapal berlabuh pada sore 22 Juli di Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia. Jamie James memberikan banyak detail tentang apa yang dilakukan batalion infanteri pertama KNIL ini selama persinggahan di Batavia. Dia memberikan deskripsi yang cukup hidup mengenai situasi dan kehidupan masyarakat di kota pelabuhan itu. Kita bisa mendengar dan menghidu jalanan kota Jakarta abad ke-19 dari halaman bukunya:

Trem tentara bergemuruh melintasi Chinatown, dengan toko-toko beratap ubin merah mengapit jaringan kanal sempit, dinding plesterannya berlapis kerak hitam dan dijalari bercak lumut hijau terang. Naga keramik merah bertengger di atap miring kuil-kuil, lonceng-lonceng bergemerincing dan berasap bakaran dupa ... Para prajurit berganti trem satu kali di Konigsplein, taman pusat utama Batavia (sekarang Lapangan Merdeka).


Tuntangseweg bij Tuntang, Midden-Java. 1918. Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen



Delapan hari di Batavia, pada 30 Juli, Rimbaud bersama rombongannya meneruskan perjalanan dengan kapal Fransen van de Putte ke Semarang, Jawa Tengah. Selanjutnya, batalion itu bergerak dari Stasiun Kedung Jati Semarang menuju Stasiun Tuntang dengan kereta api. Ini dilanjutkan dengan perjalanan 8 km di bawah terik matahari selama dua jam ke pos mereka di Salatiga, sebuah kota kecil di lereng Gunung Merbabu. Mereka ditempatkan di sebuah barak dekat alun-alun kota. Bangunan barak itu kini merupakan rumah dinas Walikota (Pada 1997, duta besar Prancis memasang sebuah prasasti untuk mengingat bahwa Arthur Rimbaud pernah tinggal di sana.)

Tidak ada catatan tentang apa yang dilakukan Rimbaud di barak militer. Jamie James hanya mengisi halaman bukunya dengan memerinci kegiatan militer yang lazim di barak, menyebut nama-nama tentara lain yang berada di kesatuan yang sama dengan Rimbaud.  


Dua minggu setelah kedatangannya, pada tanggal 15 Agustus, Rimbaud mangkir pada pertemuan rutin pagi hari. Pendeta Jesuit bernama De Bruyn yang memimpin Kapel Dyonisius di utara kota itu juga tak melihatnya hadir pada perayaan hari besar umat Katolik, Kenaikan Bunda Maria ke Surga. Pada 30 Agustus, Rimbaud resmi dianggap hilang, dia desersi dari penugasan militer KNIL.

Sebuah tindakan yang berisiko, tentunya. Jika tertangkap, hukumannya pasti berat. Pasti ada alasan yang sangat kuat mendorongnya melakukan itu. Ada yang menuliskan Rimbaud tidak tahan melihat kekejaman kolonialisme sehingga akhirnya kabur ke pedalaman hutan Jawa. Ada juga yang menduga jiwa petualangannya mulai haus karena terlalu lama berada di tangsi sehingga memilih untuk kabur.

Tak ada yang tahu tentang keberadaannya sejak itu hingga 31 Desember, ketika dia tiba kembali di rumah ibunya di Charleville, Prancis. Episode pelarian yang berlangsung kurang lebih enam bulan ini pun nyaris tanpa jejak, tidak ada catatan perjalanan, tidak ada korespondensi, dan Rimbaud sendiri tak pernah menuliskan sepatah kata pun tentang periode itu. “Nyaris mustahil untuk mengetahui dengan pasti melalui rute mana Rimbaud kembali ke Charleville dari Jawa pada 1876,” tulis James.

 

Jiwa penyair mungkin tidak cocok untuk kehidupan militer. Barangkali itulah yang membuat Rimbaud memilih pergi, meninggalkan kesatuan militer di Salatiga. Tapi bagaimana pun perjalanan itu barangkali telah memuaskan baginya, bisa pergi ke tempat paling jauh yang mungkin dicapainya pada masa itu: Hindia, negeri di timur yang misterius. Menginjak Pulau Jawa meski hanya sebentar, sudah memenuhi hasrat bertualangnya. Dia ingin menggapai impian tentang dunia yang lain, tempat-tempat luar biasa yang telah dia kunjungi di dalam puisi-puisi mistisnya.

Di sini ada pertemuan antara jiwa petualang dan jiwa penyair, karena dalam A Season in Hell (1873), Rimbaud telah menuliskan apa yang akan terjadi sekembalinya dia dari perjalanan:

Aku akan kembali dengan kaki sekokoh besi, kulit gelap, mata garang;

dari topeng di wajahku orang akan memandangku sebagai seorang dari ras yang digdaya.

Aku akan berlimpah emas: aku tak perlu bekerja keras, aku akan brutal.

Puisinya telah mendahului perjalanannya.


Pada akhirnya dalam setiap diri penempuh perjalanan yang sejati, ada hasrat untuk terus menemukan pengalaman baru di tempat asing, keberanian meninggalkan apa yang diketahui untuk menuju apa yang tidak diketahui, dan keberanian untuk masuk ke dalam batin demi menemukan makna perjalanannya. 

Inilah yang menakjubkan bagi saya, yang perjalanannya sejauh ini selalu terbatas pada tujuan turistik dan dinas.


Versi Inggris

Comments

Artikel Favorit

Rindu Laut

Putri, Azmi, dan Anna Karenina

Pesan dari Capernaum