Mencicipi Tepi Barat Lewat Film "The Present"


"The Present". (c)Native Liberty Production

Perjalanan membeli hadiah untuk merayakan ulang tahun perkawinan mestinya mengembirakan hati. Mestinya demikian, jika itu terjadi dalam kehidupan di dunia normal. Tapi tidak bagi warga Tepi Barat, seperti Yusef dalam film pendek The Present. Perjalanan sederhana itu menjadi pengalaman yang sulit, diwarnai perlakuan yang menghinakan dan meruntuhkan harga diri.

Apa yang digambarkan dalam film ini secara singkat memperlihatkan hal lazim yang dialami penduduk Tepi Barat setiap hari: menjadi orang tertindas di negeri sendiri. Kita dapat mencicipi rasa pahit yang rutin harus mereka telan melalui film ini.

Berdurasi 24 menit, film yang disutradarai Farah Nabulsi mengangkat isu penyeberangan perbatasan di timur tengah, khususnya di Tepi Barat. Nabulsi memperlihatkan betapa hal sederhana seperti pergi berbelanja dapat menjadi insiden untuk menyoroti diskriminasi dan penindasan yang berlangsung sehari-hari bagi penduduk asli di sana.


Film diawali adegan dengan Yusuf pulang kerja melewati lorong Checkpoint 300 di Bethlehem yang penuh sesak. Orang berjejalan di lorong sempit yang dibatasi tembok beton tinggi dan berteralis besi. Satu per satu identitas mereka diperiksa sebelum diperbolehkan melewati pintu untuk pulang-pergi antara Jerusalem dan Bethlehem setiap hari.

Adegan ini diambil secara gerilya di lokasi aslinya. Bisa dikatakan gambaran yang diperoleh adalah kondisi apa adanya di pos pemeriksaan tersebut. Dalam sebuah wawancara, Nabulsi mengatakan satu-satunya yang fiktif di dalam adegan itu adalah Yusef sang protagonis, yang diperankan oleh aktor Arab Palestina, Saleh Bakri.

 

Antrean untuk masuk ke Yerusalem dari Tepi Barat melalui Checkpoint 300, 2017. (CNS photo/courtesy Sean Hawkey, World Council of Churches).

Sepanjang film kita merasakan perubahan emosi dari tegang, gembira, marah, senang, kalut, lega dalam adegan demi adegan. Yusef, yang digambarkan sedang sakit punggung, pada hari istimewa itu ingin pergi membeli hadiah ulang tahun perkawinan untuk istrinya: sebuah kulkas, untuk menggantikan kulkas lama di rumah mereka yang pintunya sudah tidak bisa menutup rapat. Yusef mengajak putrinya Yasmine yang berusia delapan tahun. Diawalilah perjalanan belanja yang muram itu, melintas batas dengan melewati pos pemeriksaan saat pergi dan pulang, mendorong kulkas di atas troli dengan berjalan kaki untuk sampai di rumah.

Di pos pemeriksaan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya, Yusef diharuskan mengeluarkan semua barang belanjaannya untuk digeledah, menunjukkan kartu identitas, menunggu tanpa kepastian. Adegan yang menyesakkan. Sikap keras dan kasar tentara penjaga pun membuat kita ikut kesal dan menjalarkan perih sang protagonis. Wajahnya dengan jelas memperlihatkan kedongkolan yang menumpuk di hatinya.


Yusef dan putrinya Yasmine. "The Present". (c)Native Liberty Production


Sutradara film pendek ini adalah Farah Nabulsi, seorang Palestina kelahiran Inggris yang awalnya berkarier sebagai pialang saham. Sebuah kunjungan singkat ke tanah asalnya pada 2013, mendorong Farah beralih profesi, meninggalkan karier di bidang keuangan dan menjadi pembuat film. Apa yang dia saksikan di sana menyentakkan kesadarannya.

Ketidakadilan dan pelecehan tak manusiawi yang begitu gamblang, tidak cukup jika ditanggapi hanya dengan solidaritas dan berderma. Mengalami sendiri hal seperti itu di sebuah pos pemeriksaan yang membuatnya tergerak untuk mengungkapkan ketidakadilan dan diskriminasi yang berlangsung di negeri leluhurnya.


The Present berhasil mencapai tujuan yang ingin diraihnya: memperlihatkan perlakuan tidak manusiawi dan kekejaman yang dialami orang Palestina setiap hari dengan menceritakannya pada level yang menyentuh emosi sesama manusia. Keberhasilannya terbukti lewat berbagai penghargaan diraihnya, antara lain nominasi Oscar untuk kategori Best Live Action Short Film dan memenangi BAFTA Award for Best Short Film.

Sejak 2015, Farah Nabulsi memulai produksi film-film pendek bertema ketidakadilan yang terjadi di Palestina. Sebelum The Present, dia telah menulis skenario untuk tiga film pendek lain Nightmare of Gaza, Today They Took My Son, dan Oceans of Injustice. Dalam film Ocean of Injustice yang berdurasi 11 menit, kita dapat menyimak apa yang mendorong keputusan drastis Farah Nabulsi. Sebuah film autobiografis dan kesaksian yang meremukkan hati.

Dirilis pertama kali di Netflix pada 18 Maret 2021, film The Present pada awalnya bisa diakses dari Netflix Indonesia. Tapi kemarin malam, ketika saya ingin menontonnya kembali, film tersebut sudah tidak tersedia dan harus masuk dalam daftar tunggu. Semoga segera bisa tersedia kembali.

Film-film Nablusi membuat kita tidak bisa tidak peduli, tidak mampu untuk bersikap netral belaka dan menutup mata atas tragedi kekejaman dan ketidakadilan yang telah berlangsung lama dan mengusik rasa kemanusiaan kita.



Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Dua Bulan di Langit 1Q84

Tiga Keunggulan Ensiklopedia "How and Why"