Menemukan Jalan Pulang




Jalan Panjang untuk Pulang
Penulis: Agustinus Wibowo
Halaman: 464
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Januari 2021)
ISBN: 139786020647579

 

Betapa beragamnya pengalaman dan penjelajahan yang disajikan buku ini. Dalam empat ratus lebih halamannya, kita dibawa masuk ke dalam hutan taiga di Mongolia untuk bertemu shaman dan para pemburu elang, ke Mazar e-Sharif untuk menyaksikan perayaan tahun baru Nawruz. Lalu, ikut pesta bawah tanah yang mewah kalangan jet set Teheran utara pada malam peringatan Revolusi Islam Iran, melewati Koridor Wakhan yang sempit dengan menunggang kuda, mengikuti ritual kaum Yahudi di Bukhara dan upacara aluk di Toraja.

Kita diajak merasakan ketegangan hari-hari warga Kashmir yang selalu dalam pengawasan patroli polisi India, ikut menyaksikan upacara tentara di Perbatasan Wagah antara Lahore di Pakistan dan Amritsar di India, dan masuk ke lingkaran diaspora Maluku dan Jawa Suriname di Belanda. Kemudian, menyusuri hutan perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini, mengunjungi kota yang didominasi lansia di Byron Bay, Australia, dan merasakan kegirangan meluncur di perosotan raksasa dalam sebuah gereja tua di Norwich, Inggris .

Sekumpulan catatan persinggahan. Demikian anak judul buku keempat Agustinus Wibowo ini. Mosaik perjalanan yang ditampilkannya sungguh penuh warna. Tulisan-tulisan terkumpul dari masa yang panjang antara 2008 hingga 2019, sebagian telah dimuat di majalah U-Mag dan National Geographic Traveler edisi Indonesia, majalah Traveler edisi Cina, dan The Westerly edisi Inggris yang terbit di Australia. 




Dalam kata pengantar untuk Selimut Debu, buku pertama Agustinus Wibowo (Gramedia, 2010), Maggie Tjioakin mengatakan Agustinus tidak bisa disebut traveler semata, tapi lebih tepat menyandang gelar yang hanya sedikit orang layak mendapatkannya: explorer. Bukan pelancong, tapi penjelajah. Dan penjelajahannya bukan hanya dalam ruang geografis, melainkan juga ke dalam relung jiwa dan gulungan waktu.

Melalui perjalanan panjang ini Agustinus mendapatkan jawaban bagi satu pertanyaan besar yang sejak lama menghantui dirinya. Puluhan tahun Agustinus bergulat dengan pertanyaan tentang identitas. Siapa aku. Terlahir di Lumajang, Jawa Timur, sebagai generasi ketiga dalam keluarga migran dari Tiongkok, perbedaan menyolok dirinya dengan lingkungan sekitar membuat dia bertanya siapa dirinya. 

Bertumbuh pada 1980-an di masa rezim Orde Baru Suharto, ketika kecurigaan dan kebencian terhadap orang Cina mustahil diabaikan, mata sipit dan kulit kuningnya membuat dirinya sering diejek para bocah Jawa di jalanan. Perjalanan membantunya menemukan jawaban. 


Buku ini diawali dengan tulisan yang menceritakan bagaimana orang Korea Utara yang warganya tidak bebas melakukan perjalanan diminta melukiskan Beijing masa kini berdasarkan imajinasi mereka.  Sama sekali tak pernah keluar dari negara mereka sendiri, visualisasi para seniman Korea Utara  itu menghasilkan gambaran yang keliru, absurd, dan  jauh dari realitas Beijing, sehingga mereka menjadi bahan olok-olok kalangan warganet Cina. 

Lewat tulisan pembuka ini Agustinus ingin menunjukkan pandangannya bahwa kehidupan tanpa perjalanan membuatkan kita seperti katak dalam tempurung. Tapi, ditambahkannya, melakukan perjalanan saja tidak cukup untuk memahami ruh dari tempat-tempat yang dikunjungi. Agustinus mengajak kita melakukan perjalanan untuk membuka mata terhadap realitas yang terjadi dan dialami orang-orang di tempat lain.




Perjalanannya mencari identitas dimulai dengan "pulang" ke Cina dua puluh tahun lalu untuk melanjutkan studi di Beijing.

"Alih-alih dianggap sebagai saudara sebangsa yang pulang ke tanah air, saya yang memegang paspor Indonesia ini di mata mereka tak lebih hanyalah seorang warga negara asing. Saya wajib mengurus birokrasi visa yang rumit, dan harus senantiasa waspada memperbarui izin tinggal agar jangan sampai kedaluwarsa. Kecinaan saya berbeda dari kecinaan mereka." (h. 220)

Justru ketika berada di Cina, dia pertama kali menyadari identitas keindonesiaannya. Dan justru di Cina ini pula dia merasakan urgensi untuk menyatakan secara gamblang: "saya adalah bangsa yang berbeda dari mereka."

Perjalanan-perjalanan berikutnya yang membawanya bertemu komunitas diaspora Indonesia di Belanda, Suriname, penjelajahan di wilayah-wilayah garis batas Afghanistan, Kashmir, Pakistan dan India semakin mempertajam refleksinya tentang arti identitas. 

"Identitas kebangsaan," tulis Agustinus, "sesungguhnya adalah tentang dua rasa: rasa diterima dan rasa memiliki. Ketika seseorang telah menjadikan sebuah bangsa sebagai identitas penting dalam dirinya, maka tanpa perlu dipaksa-paksa pun, orang itu akan rela berkorban demi kepentingan bangsanya" (h. 228).

Nasionalisme yang terbangun dalam diri Agustinus pun kentara terlihat dalam setidaknya dua artikel di buku ini. Pertama, dalam kritiknya terhadap pengagungan mata uang dolar dalam industri wisata lokal, ketika dia harus menukar rupiah ke dalam dolar untuk membeli tiket pesawat Garuda ke Amsterdam., seolah-olah mata uang rupiah dianggap lebih rendah daripada dolar ("Negeri Pemuja Dolar"). Kedua,  dalam pembelaannya  terhadap  keputusan Indonesia untuk menghukum mati terpidana kasus narkoba asal Australia yang terkenal dengan kasus Bali Nine ("Siapa Membutuhkan Siapa").

Buku ini ditutup dengan tulisan yang liris dan menyentuh berjudul "Laut", yang menceritakan interaksi Agustinus dengan mendiang ayahnya, yang diibaratkannya seorang "lelaki tua yang telah menyatu dengan lautnya", menyiratkan penerimaan realitas dirinya sebagai Cina di Indonesia, berdamai dengan identitas-identitas yang tampaknya saling bertentangan. Agustinus telah menemukan jalan pulang  menuju penerimaan identitas secara damai melalui perjalanannya yang panjang. 




Komentar

  1. Saya jadi ingin kembali membaca buku-buku karya Agustinus ini. Merasakan kembali "tersedot" ke dalam ceritanya. Terima kasih sudah berbagi, Mbak Yuli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat membaca kembali, Risma. Terima kasih sudah mampir ..

      Hapus

Posting Komentar

Populer

Kesaksian yang Terlambat

Blog adalah Percakapan

Atonement (Novel)