Puncak Bintang

 Hiking di hari Rabu. Hujan yang sering turun di hari-hari sebelumnya, tidak datang hari ini. Hanya mendung. Itu bagus, karena perjalanan ini jadinya tidak harus dilewati di bawah terik matahari. Langit tidak biru, tidak mengapa. Toh, sebagian besar langit akan tertutup pepohonan sepanjang perjalanan.

Naik angkot dari Japati ke Bukit Moko, melewati Padasuka. Saya kenal daerah ini, tapi belum pernah naik sejauh ini. Tinggi juga. Bisa lihat Bandung yang datar di bawah sana. Angkot yang bersuara ringkih ini ternyata kuat juga menempuh jalan menanjak berkelok yang tidak mulus. Kadang cukup tajam. Banyak perumahan di sepanjang kiri kanan jalan. Tapi sepi.

Semua peserta ibu-ibu muda dan bersemangat muda. Mungkin kisaran 30 hingga 60 tahun. Komunitas ibudanbumi bisa mengumpulkan dan mempertemukan kelompok usia ini dalam sebuah kegiatan bersama. 



Saya ikut karena memang suka hiking, tapi jarang melakukannya karena jarang bisa mengajak teman untuk pergi bersama. Kalau rame-rame gini, seru. Siapa tahu, kalau rutin dilakukan, mungkin bisa efektif untuk menurunkan lingkar pinggang yang sekarang sudah mencapai angka 90. Atau mengusir bosan yang sesekali datang ketika waktu luang merentang terlalu panjang. Juga kantuk yang suka menyerobot di pagi dan siang.

Rute Bukit Moko-Puncak Bintang jaraknya 1700 meter sekali jalan. Medannya cukup ramah, menanjak naik dan turun tidak terlalu curam, dan ada juga sedikit bagian yang datar. Detak jantung terasa lebih cepat ketika sedang melewati tanjakan, rasanya panas di dada dan napas pendek. Laju langkah harus disesuaikan, tapi jangan berhenti. Coba lihat lebih saksama pemandangan di kanan dan kiri, supaya bisa lebih melambat. Mengobrol masih mungkin dilakukan, di tengah napas yang tersengal. Keringat mulai muncul. 

Dengar cerita tentang dua orang Sulawesi Tengah yang tak menyangka bisa ketemu di sini. Bagaimana mereka pertama merantau ke Bandung. Seorang dari mereka, suaminya baru operasi besar di jantung. Katup jantungnya bermasalah. Proses operasinya melibatkan dikeluarkannya jantung untuk sementara dari rongga dada, ada bagian tulang rusuk yang harus dipotong dulu saat jantung diambil. Kemudian, katup yang bermasalah dijahit, lalu jantung dimasukkan kembali. Kini sedang pemulihan. Dulu sebelum masalah jantungnya diketahui, suaminya aktif bermain futsal, lari dan olahraga lainnya. Sekarang harus menjalani masa pemulihan, dan kontrol teratur ke dokter sebulan sekali. Semoga nanti bisa aktif kembali seperti dulu.

Seorang peserta bercerita, dia belum bilang ke anak dan suami untuk ikut kegiatan ini. Kalau bilang dulu, pasti tidak diizinkan, katanya. Jadi pergi dulu, baru minta izin. Sejak jadi ibu, ga bisa ke mana-mana. Masa, aku harus di rumah terus, katanya. Kasihan. 

Ada ibu-ibu yang masih harus menjemput anaknya sekolah pukul 2 siang. Harus pulang lebih awal. Ada yang sudah sering pergi hiking ke mana-mana, tapi ikut di sini karena belum pernah ke Puncak Bintang

Jeda makan siang, banyak makanan. Ibu-ibu selalu siap bawa banyak camilan. Rujak, siomay, ketimus, nastar.

Jalan pulang selalu terasa lebih mudah dan cepat daripada jalan pergi. Saya sudah tahu alasannya. Pada saat pergi, kita tak tahu di mana ujung perjalanan. Sensasi pengalaman pertama membuat pikiran kita terus bertanya-tanya. Jalan jadi terasa panjang. Ketika pulang, kita sudah melihat jalan yang sama untuk kedua kalinya. Tujuan lebih terukur. Jarak dapat diperkirakan. Jalan terasa lebih singkat. Persepsi menentukan emosi. 

Tidak banyak foto yang saya ambil. Barangkali hanya dua. Saya merasa tak perlu banyak mengambil gambar. Perjalanan itu sendiri yang jadi tujuan. Kenangannya tidak. Mungkin juga karena pikiran saya sudah terlalu sering bertanya sebelum memotret, apa tujuan mengambil gambar. Sepenting itukah momen ini sehingga perlu diabadikan. Ruang penyimpanan sudah terlalu sesak dengan foto-foto tak penting dari masa lalu, yang kemudian harus dihapus-hapus karena memang tidak penting, dan ruang penyimpanan terbatas. Jadi saya sangat selektif. Barangkali mengamati detail kemudian menuliskannya akan menjadi cara mengingat yang lebih baik daripada dengan memotret.

Selesai tengah hari, sebelum pukul tiga sore sudah di rumah lagi. Hari yang menyenangkan. Perjalanan yang tidak terlalu melelahkan. Komunitas ibudanbumi menjadwalkan empat trip hiking setiap minggu. Mari kita menguji konsistensi, apakah minggu depan akan ikut hiking lagi. Setidaknya sekali seminggu.

Komentar

Populer

Atonement (Novel)

Navigating the Cosmos: Exploring the Harmony Between Islam and Science

Journal of Solitude