waktu selalu terasa semakin habis dan tidak cukup kalau kita tidak mengerjakan sesuatu yang semestinya kita kerjakan. saya kira cara pandang tentang waktu ini ada hubungannya juga dengan sikap pesimis dan optimis. bagi seorang pesimis, gelas terlihat setengah kosong, si optimis melihatnya setengah berisi. pandangan gelas setengah kosong itu terlihat di mana-mana. rusak sedikit dianggap rusak besar dan sebuah barang lantas dibuang karenanya. bunga yang sedikit layu dianggap tidak indah sama sekali lantas dicabut dan dibuang, padahal dengan sedikit perawatan dan kesabran bunga itu bisa tumbuh sehat dan cantik kembali.

saya sering mendapatkan diri saya berada dalam sisi pengamat gelas setengah kosong. saya anggap setengah jam terlambat dari biasanya sebagai sebuah kegagalan dan memutuskan untuk tidak memulai sama sekali. sebuah kotak bento yang retak tutupnya sebagai benda yang tak lagi bisa dipakai. saya sering memandang sesuatu yang kurang sempurna, sesuatu yang tidak utuh sebagai tidak layak pakai, tidak bisa dimanfaatkan, tidak pantas dipertahankan. termasuk soal umur, umur yang sudah mencapai tiga puluhan lebih dianggap sudah terlalu terlambat untuk memulai sesuatu.

mestinya saya bisa meyakinkan diri bahwa itu keliru. waktu, umur, kesempatan, pengakuan sama sekali tidak perlu menjadi faktor jika orang ingin melakukan sesuatu yang baru dalam hidup, yang penting adalah kemauan. siapa yang terlalu peduli dengan hasil akhirnya, jika perjalanannya sendiri adalah sebuah kenikmatan.

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas