Atonement (Novel)





Menulis novel ternyata bisa dipilih sebagai jalan penebusan dosa bagi pengarangnya. Caranya, dengan memberikan akhir bahagia bagi dua kekasih yang tak dapat menggenapkan cinta mereka dalam kehidupan nyata lantaran kesalahan yang dibuat oleh si pengarang. Itulah yang dilakukan Briony, tokoh novelis dalam Atonement, karya Ian McEwan.

Ian McEwan barangkali tidak terlalu dikenal di Indonesia, karena sepertinya belum ada satu pun karyanya yang diterjemahkan di sini. Di Inggris dia bereputasi sebagai penulis fiksi yang gemar menampilkan kisah roman berbumbu kekerasan dengan orang-orang yang punya kelainan psikis dan paranoid (dalam novel pertamanya The Cement Garden (1978), misalnya, tokoh utamanya mengubur ibu kandungnya sendiri di bawah lantai kamar yang kemudian dilapisi semen). Atonement (2001) adalah novelnya yang kesembilan, mengeksplorasi tema keluarga, cinta, dan permaafan.

Novel ini dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama berlangsung pada suatu hari di musim panas 1935. Bagian kedua dan ketiga di Prancis dan London semasa perang dunia kedua, dan bagian terakhir yang singkat berlatarkan London masa kini.

Bermula pada siang yang gerah ketika Briony, gadis berusia tiga belas tahun, menyaksikan sebuah adegan di taman antara kakaknya Cecilia dan Robbie, anak tukang kebun. Pikiran Briony yang imajinatif tidak dapat memahami sepenuhnya adegan dua orang dewasa yang dilihatnya dan mengakibatkan serangkaian reaksi berantai katastropik; yang memisahkan Cecilia dan Robbie—pasangan kekasih itu—dan membuat Briony hidup dengan memikul rasa bersalah sepanjang hayat.

Membaca bagian pertama ini membuat saya nyaris putus asa karena uraian yang sangat deskriptif, berbunga-bunga tentang karakter-karakter aristokrat Inggris, pemandangan alam, dan arsitektur tahun 1935. Peristiwa terasa berjalan lambat. Meski begitu  gaya menulis Ian McEwan yang elegan, indah, dengan mudah membangkitkan kegelisahan, rasa ingin tahu, menggiring masuk ke dalam pikiran, kenangan, deksripsi fisik, tanpa kehilangan relevansi dengan plotnya. Kalau bukan karena “janji” tentang sebuah konflik yang sudah disinggung sejak awal sekali, sangat mungkin saya akan batal membaca buku ini.

Novel ini telah difilmkan pada pada 2007, dibintangi oleh  James McAvoy, Keira Knightley,Benedict Cumberbatch. Ketika akan menonton film ini saya jadi ingin tahu sedalam apa kiranya film itu berhasil menyamai kemampuan Ian McEwan melukiskan karakter, seting dan isi pikiran tokoh-tokohnya. Karena dalam novelnya kita bisa tahu kesepian yang dirasakan Briony, kepolosan pikirannya, kebutuhannya akan perhatian, dorongannya untuk menulis cerita. Kita bisa tahu motifnya. Di dalam film, tindakannya muncul seperti kejahatan atau paling mungkin didorong kecemburuan semata. Bisa diduga, film gagal menampilkan kedalaman novelnya.




Peristiwa pada bagian pertama yang berlangsung dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam ini mengambil porsi hampir sepertiga panjang novel. Masuk ke bagian kedua, nada novel itu berubah tajam, rasanya seperti membaca novel yang berbeda—perubahan nada yang tiba-tiba ini juga terasa pada filmnya—dari suasana pinggiran London yang hijau, damai, sontak pindah ke medan peperangan Dunkirk 1940. Sangat kontras.

Setelah insiden pada musim panas itu, Cecilia dan Robbie hanya sempat bertemu kembali selama setengah jam sepanjang hidup mereka. Perjumpaan yang telah didahului oleh surat-surat, digambarkan secara liris oleh McEwan:


Robbie and Cecilia had been making love for years—by post. In their coded exchanges they had drawn close, but how artificial that closeness seemed now as they embarked on their small talk, their helpless catechism of polite query and response. As the distance opened up between them, they understood how far they had run ahead of themselves in their letters. This moment had been imagined and desired for too long, and could not measure up.


Robbie menemui ajal sehari sebelum evakuasi dari Dunkirk. Cecilia tewas dalam kecelakaan ledakan pipa di pengungsian bawah tanah. Mereka tak pernah bersatu kembali. Briony tak sempat mendapatkan maaf dari mereka.

Melalui kisah ini McEwan berhasil menunjukkan betapa tiadanya maaf merupakan hukuman terberat bagi sebuah kesalahan, bagaimana sebuah tindakan tak disengaja pada hari ini bisa mengakibatkan konsekuensi yang tak pernah dapat ditebus untuk selamanya. Setelah upaya revisi sekian kali, akhirnya Briony menuliskan novel ini untuk penebusan dosanya. Sebuah novel yang rumit, dengan penutup yang tak terduga.[]

Comments

Artikel Baru

Dua Bulan di Langit 1Q84

Dilema Schadenfreude

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan