Agar Tak Disandera Amygdala

Ini adalah bagian pertama dari rangkaian catatan “mengikat makna” dari sebuah buku yang menemani saya selama enam bulan terakhir, sejak saya menerimanya sebagai hadiah dari Mas Hernowo atas endorsment untuk buku Mengikat Makna Update,. Judulnya What Happy People Know, karangan Dan Baker, edisi Indonesianya diterbitkan Kaifa pada Desember 2006. Saya membacanya sedikit-sedikit di waktu luang yang terselip ketika menjemput anak dari sekolah, antre di dokter atau di bank. Buku ini memang jenis bacaan yang cocok untuk mengisi kesempatan-kesempatan seperti itu—tidak mengandung ketegangan yang membuat kita sulit berhenti membacanya, isinya perlu diendapkan sedikit-sedikit untuk meninggalkan kesan yang kuat.

Banyak hal menarik yang ingin saya simpan dari buku itu. Pengarangnya sendiri menyarankan, “Saya setulusnya berharap bahwa Anda berusaha memahami pokok-pokok yang saya sampaikan dalam buku ini—berusaha untuk benar-benar merasakan dan memanfaatkannya. Buku seperti ini sangat mudah untuk dibaca dan berbagai cerita di dalamnya pun cukup menghibur. Hafalkan saja beberapa pepatah yang mengandung kebaikan, dan kemudian biarkan semua mengendap di alam bawah sadar” (h. 258).

Hal pertama yang berkesan bagi saya adalah uraiannya tentang biologi sistem rasa takut. Di berbagai buku dan artikel sudah sering saya menemukan istilah seperti otak reptilia, thalamus, amygdala dan neokorteks, tapi baru kali ini mendapatkan penjelasan yang terasa “klik” untuk dimengerti. Bagian ini barangkali tidak terlalu menarik karena sifatnya agak ilmiah, tapi saya mendapatkan pengenalan ringkas yang baik tentang cara kerja otak kita dari uraiannya.

Dan Baker menjelaskan ada tiga bagian dalam otak manusia.Pertama dalah batang otak yang sering dirujuk sebagai otak reptilia. Bagian otak reptilia ini menyimpan rasa takut bawaan dan tidak mampu memproses pikiran dan emosi yang kompleks. Kita bisa melihat cara kerja otak ini pada binatang yang langsung bereaksi kabur, melawan atau mati kutu ketika berhadapan dengan sebuah serangan atau gangguan.

Bagian kedua adalah otak mamalia yang menyimpan biang keladi lain dari simfoni rasa takut, yaitu amygdala. Amygdala adalah tempat penyimpanan semua pengalaman yang menyakitkan dan mengancam. Amygdala terhubung dengan kelenjar endoktrin yang memproduksi berbagai hormon, antara lain hormon untuk melindungi tubuh dari bahaya dan menjaga kelangsungan hidup.

Bagian ketiga adalah neokorteks yang mampu melakukan penalaran abstrak dan menyimpan ingatan jangka panjang. Neokorteks merupakan bagian otak yang berkembang paling akhir di dalam rahim. Bagian otak ini mampu menguasai sistem rasa takut yang dijeritkan tanpa henti oleh otak reptilia dan amygdala. Dan Baker bahkan mengatakan neokorteks adalah lokasi fisik jiwa manusia.

Selain ketiga bagian itu, dalam otak kita ada sebuah jendela yang menerima semua pesan dari mata, telinga dan organ-organ pengindera lainnya. Jendela itu dinamai thalamus. Setiap kali thalamus menerima pesan, dia akan mengirimkannya ke dua tempat: amygdala dan neokorteks.

Amygdala lebih dulu menerima pesan dari thalamus. Kecepatan proses ini menguntungkan bagi proses kelangsungan hidup. Hampir dengan segera amygdala akan memberi tahu jika kita perlu merespons dengan melawan, kabur, atau diam. Amygdala memunculkan sikap reaktif terhadap rasa takut. Bersikap reaktif selalu terasa lebih mudah karena merupakan sifat bawaan di dalam otak kita.

Neokorteks yang terletak lebih jauh dari pusat persepsi lebih lambat menerima pesan. Namun setelah menerimanya, neokorteks memiliki kekuatan penilaian yang menakjubkan. Neokorteks tidak memainkan simfoni satu nada seperti amygdala. Ketika neokorteks menerima pesan, tidak ada reaksi spontan seperti yang dilancarkan amygdala, tetapi neokorteks akan mengambil jeda untuk mempertimbangkan pesan itu. Neokorteks tidak dipengaruhi secara berlebihan oleh ketakutan yang identik dengan amygdala.

Sebagian besar input dikirim oleh thalamus ke neokorteks, bukan ke amygdala. Neokorteks menerima kira-kira 95% pesan, dan hanya 5% yang sampai langsung ke amygdala. Tapi yang 5% ini dapat merusak dan mengacaukan! Pesan yang langsung sampai ke amygdala itu dapat memicu reaksi rasa takut berantai yang tidak logis dan sulit dihentikan. Reaksi berantai ini juga dapat menyulut kelenjar endoktrin sehingga membuat jantung berdenyut lebih cepat dan otot-otot mengejang.

Rasa panik yang ditimbulkan oleh amygdala memperkuat dirinya sendiri dan mengesampingkan nalar. Pikiran negatif mulai berdatangan dari mana saja dan membanjiri neokorteks. Rasa takut mulai menumbuhkan kekuatan sendiri. Akibatnya otak disandera oleh rasa takut.

Nah, bagaimana mengatasi dominasi rasa takut yang dibangkitkan otak reptilia dan amygdala? (Bersambung ke catatan kedua).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)