Jalan Swaterbit di KDP Amazon




Swaterbit adalah pilihan yang sangat terbuka saat ini bagi mereka yang ingin menerbitkan buku. Teknologi print-on-demand (POD) telah membukakan kemungkinan swaterbit seluas-luasnya. Ada banyak jenis layanan yang tersedia. Di Indonesia sudah ada sejumlah usaha percetakan yang menerima pemesanan POD seperti di sini dan di sini. Tidak ada jumlah cetak minimal. Harga dan kualitas untuk cetak satu eksemplar, sama saja dengan cetak banyak. Demikian asas yang berlaku dalam POD. 

Tapi dalam swaterbit, yang kita perlukan adalah layanan penerbitan, bukan sekadar percetakan. Oleh karena itu, kedua alternatif yang saya sebut di atas dan layanan sejenisnya tidak memadai. Dua di antara banyak layanan swaterbit yang sekaligus berperan sebagai outlet penjualan buku tersebut yang saya ketahui adalah Amazon dan Lulu

Pada print-on-demand biasa, kita hanya dapat mencetak buku, lalu membayar sejumlah biaya sesuai banyak cetakan yang diinginkan. Pemesanan dan penjualan buku selanjutnya menjadi urusan  kita sendiri. Layanan swaterbit Amazon dan Lulu melangkah lebih jauh dari itu. 

Pertama, kita tidak harus mengeluarkan biaya untuk menerbitkan buku. Kedua, pemesanan dan penjualan menjadi bagian dari layanan platform. Kita mendapatkan royalti dari penjualan. Pendapatan dari penjualanlah yang sepenuhnya akan menjadi pemasukan bagi platform penyedia layanan swaterbit. Bagi hasil antara platform dan penulis berkisar 30:70 dari harga buku setelah dipotong biaya cetak.


Oleh karena itu, untuk program swaterbit, saya lebih sreg dengan kedua platform yang disebut terakhir ini, karena segala hal yang terkait dengan pemesanan dan penjualan buku setelah terbit ditangani sekaligus oleh platform tersebut.   

Ini untuk kedua kalinya saya menggunakan layanan swaterbit Amazon dan Lulu. Sebelumnya saya menerbitkan ulang buku lama Kids Reading Journal. Buku ini sudah pernah terbit sebelumnya di Mizan pada tahun 2009. Saya menata ulang tampilan isi dan menggunakan desain sampul baru untuk edisi  swaterbit di 2020.



Lalu yang kedua adalah buku ini, Barefoot on the Beach. Buku foto tematik laut yang menampilkan koleksi foto pilihan yang saya ambil dari tahun 2012 hingga 2019. Setelah mengunggah file desain dan melewati proses konfirmasi tak sampai 48 jam, buku sudah tayang di amazon. Saya sebagai pengunggah bisa memesannya untuk diri sendiri dengan harga produksi. 

Seperti menanti kelahiran bayi, rasa waswas tentang sosok buku baru ini memenuhi pikiran saya hingga saat bertemu dengannya.  Meski ini bukan pertama kali saya mencoba print-on-demand, tapi setiap kali melewati prosesnya, cemas dan harap tak terelakkan. Tak beda dengan menantikan kelahiran bayi.


Pagi ini, pesanan saya tiba. Saya mendapatinya dalam keadaan yang menggembirakan. Cetakan tajam, warna bagus, jilidan kuat, ketebalan kertas memadai, konstruksi  baik. Secara keseluruhan memuaskan. 

Ada banyak kegembiraan dalam proses menghadirkan buku ini sampai akhirnya tiba di tangan saya. Mulai dari kurasi foto, memilih yang paling tepat untuk bicara aneka aspek tema terkait, lalu menatanya dalam urutan yang menunjukkan kekuatan setiap foto dalam konteks keseluruhan buku. 

Sesungguhnya ada beberapa hal yang ingin saya raih melalui penerbitan buku ini. Pertama tentu saja keinginan untuk merasakan kehadirannya secara fisik. Tak ada yang salah dengan foto dalam bentuk piksel di layar. Kita bisa melihatnya kapan saja di mana saja. Tapi kehadiran koleksi foto dalam bentuk  tercetak di atas kertas, terkumpul dalam satu jilid utuh dengan tema yang padu dan cerita yang mengalir, menghadirkan kesenangan berbeda yang sangat layak dinikmati. 



Kedua, saya juga ingin menjalarkan semangat kreatif dan meruntuhkan kesan eksklusif dalam penerbitan buku foto. Tak perlu berlebihan mengagungkan atau meremehkan genre ini. Kalau kamu memiliki koleksi foto yang kohesif, konsisten merekam momen dan tema tertentu, lakukan kurasi atas foto-foto tersebut untuk mendapatkan cerita dan alur yang kuat. 

Tentu saja, perlu sentuhan editorial untuk dapat menampilkannya dengan baik dalam bentuk buku. Itu yang menentukan kualitasnya, bukan validasi dari individu, komunitas atau lembaga mana pun. 

Kreativitas tidak perlu menunggu validasi. Pun setelah sebuah kreativitas mewujud, tak perlu menghitung keberhasilan dalam angka penjualan, metrik popularitas, jumlah like dan follower.

Kepuasan dalam proses penciptaannyalah yang lebih menarik. Kegembiraan yang muncul setelah kehadirannyalah yang penting untuk dibagi. Maka setelah satu karya tercipta, selalu muncul dorongan untuk membuat karya lain berikutnya. Afirmasi dan validasi akan datang sendiri jika ada konsistensi.

Semoga spirit ini dapat menjalar dan menginspirasi.

Klik tautan ini untuk memesan Barefoot on the Beach.

 


Komentar

Populer

Ancika: Pilih Asli, Jangan Bajakan

Hari Literasi Dunia

Raisa Bercerita Kembali