Melihat tentara Irak yang sudah menyerah duduk di tanah dikawal senjata oleh tentara Amerika, saya berulang kali mengingatkan diri bahwa yang saya saksikan ini bukan penggal adegan sebuah film. Seluruh perang ini bukan film. Setelah kamera merekam gambar, mereka tidak bisa bubar, pulang ke rumah masing-masing. Mereka akan tetap duduk di situ, kelaparan, kehausan, dengan kecemasan yang terus bertambah dan ketakutan akan nasib keluarganya. Ledakan-ledakan yang menghancurkan rumah-rumah penduduk itu juga bukan film. Korban-korban sipil yang masuk rumah sakit dan berteriak mengutuk Bush itu akan merasakan penderitaan ini seumur hidup mereka.

Saya tidak mampu untuk mengerti sudut pandang pemerintah Amerika. Ketika perang belum pecah saya pernah berusaha membujuk diri untuk melihat dari cara pandang mereka. Barangkali benar Saddam adalah pemimpin zalim yang harus diganti, senjata biologis yang dikembangkannya mungkin benar-benar ada dan mengancam keselamatan dunia. Tapi semua usaha saya untuk memihak itu hancur begitu melihat akibat perang ini. Perang tidak bisa memilih korbannya. Amerika menyebut mereka hanya akan menyasar instalasi militer, tapi bagaimana mengelakkan peluru yang melesat ke tempat selain itu.

Comments

Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)