teman-teman saya mengajak untuk pergi ke sebuah tempat yang jauh dengan berjalan kaki sambil belajar. dengan bus saja jarak itu ditempuh memakan waktu dua puluh empat jam. saya menolak untuk ikut, terlalu berat dan tidak praktis. di mana akan menginap, bagaimana membawa barang yang berat sambil berjalan dan duduk belajar. lebih baik naik kendaraan untuk cepat tiba di tujuan kemudian belajar dengan tenang di sana. saya menduga perjalanan seperti itu bakal butuh tiga empat hari jika ditempuh dengan berjalan kaki. usul saya, meski masuk akal, dianggap membatalkan rencana yang bagus.

itulah mimpi tadi malam. ditambah episode lain tentang seorang tetangga yang mirip pak emil salim, datang menangkap merpati dan menjelaskan bahwa otak merpati itu menyebar hingga ke sayap kiri dan kanannya. itulah sebabnya mereka bisa terbang. jika otak mereka hanya di kepala, mereka hanya bisa bergerak ke atas dan ke bawah seperti langkah kaki manusia. penyebaran itu terjadi secara evolusi. kamu juga bisa begitu kalau ingin bisa terbang, katanya pada saya. sementara itu datang seorang tetangga lain, mahasiswa bersuara kanak-kanak yang membuat heran suami saya ada orang dewasa bersuara seperti itu. anak itu menyebut-nyebut kata negro, kebetulan ada seorang kulit hitam dokter gigi yang tinggal di rumah saya. menjelang malam ketika halaman rumah sudah sepi saya membawa anak itu ke tempat sepi dan memberitahu kepadanya untuk tidak menyebut kata negro di depan orang kulit hitam. kata tersebut mengandung penghinaan buat mereka. ada sejarah panjangnya yang bisa dibaca di buku-buku. habis. bangun.

saya kira mimpi yang pertama menunjukkan betapa saya sering berbeda pendekatan dan cara pikir dengan teman-teman. yang ada di dalam mimpi itu adalah yani, tyas, dan beberapa sosok lain yang saya kira adalah peserta pengajian itu. saya sepertinya berpikiran bahwa mereka berbelit-belit dan ingin melakukan sebuah amal secara berlebihan sementara ada cara yang lebih praktis.
__
ada matsuri di sepanjang jalan utama musashi koganei hari ini. berbeda dengan awa odori yang ramai. dalam matsuri ini orang-orang denagn kimono tipis berwarna cerah memikul tandu berisi pagoda keemasan sambil menari-nari, diiringi musik tiup dan xylophon dan drum kecil. di depan rombongan pagod itu ada rombongan tabuh besar, yang dipukul dengan tongkat baseball sekuat tenaga. di barisan paling belakang terdapat dokar panggung yang berisikan penari topeng dan pemusiknya.

tiga rombongan ini yang digiring sepanjang jalan dari utara ke selatan stasiun. hampir semuanya laki-laki. mereka pakai kimono pendek sampai paha, tanpa celana panjang. belahan kimono yang tidak rapat tersingkap memperlihatkan apa yang mereka sembunyikan di baliknya.

saya lewat di dekat rombongan itu ketika mereka sedang beristirahat. anak-anak muda berambut dicat merah coklat dalam kimono oranye duduk di jalan dan pinggiran trotoar sambil makan dari mangkok styrofoam. bau shoyu dan wijen memenuhi udara. sepeda dan orang jalan kaki saling bersenggolan, saya harus menunggu lama sebelum dapat beringsut maju sejengkal-sejengkal.

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas