The Year of Living Dangerously


Judul novel ini terinspirasi oleh pidato Presiden Sukarno pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun 1964. Sukarno menjuduli pidatonya tahun itu sebagai Vivere Pericoloso, Hidup Penuh Bahaya, terekam pada bab penutup dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” jilid kedua.

Novel ini mengambil latar di Jakarta pada tahun-tahun terakhir kepresidenan Sukarno yang ditandai dengan pecahnya peristiwa Tiga Puluh September. Meskipun ekonomi Indonesia mulai runtuh dalam kurun waktu itu, Presiden Sukarno tetap menghabiskan uang untuk membangun menara-menara, menggerakkan massa melawan imperialis asing, terutama Amerika dan Inggris.

Tokoh-tokoh utama dalam novel ini adalah beberapa jurnalis asing yang ditempatkan di Jakarta, terutama Guy Hamilton, perwakilan radio Australian Broadcasting Service yang baru datang, Billy Kwan juru kamera lepas, juga dari Australia; dan Jill Bryant, yang bekerja untuk kedutaan Inggris. Nasib mereka bertiga secara tak langsung berkaitan dengan Sukarno.

Billy adalah seorang kate achondroplastic yang punya banyak fantasi rahasia, antara lain bahwa kurcaci membentuk sebuah ras terpisah. Billy pada awalnya pemuja Sukarno, yang telah membawa Indonesia ke ambang revolusi. Namun pada pekan-pekan terakhir sebelum kudeta, Billy berbalik membenci Sukarno dan memutuskan untuk mengambil tindakan yang ternyata berakibat fatal bagi dirinya sendiri.

Novel ini diceritakan melalui seorang narator, jurnalis Inggris yang bernama R.J. Cook (Cookie). Melalui sudut pandang dialah kita membaca berbagai peristiwa politik dan pribadi yang berlangsung dalam tahun penuh pergolakan ketika Sukarno akhirnya digulingkan dan Suharto mengambil kendali atas pemerintahan Indonesia setelah G30S.

Akan tetapi, Cookie sendiri tidak banyak memainkan peran dalam kisah itu. Dia seorang narator pasif, bukan tokoh utama. Yang menjadi tokoh utama adalah Guy Hamilton. Kadang kisah bergulir tanpa kehadiran narator, hanya Hamilton dan Kwan, membuat kita bertanya-tanya bagaimana narator bisa mengetahui. Tapi pengarang mengatasi hal ini dengan sesekali menyelipkan kalimat “seperti yang diceritakan oleh Hamilton kepadaku.”

Cara penceritaan seperti ini, meski agak ganjil, bukannya tidak biasa. Di dalam novel ini tokoh narator berfungsi sebagai seseorang yang mengamati dengan lekat tokoh utama ceritanya. Gaya yang sama dapat ditemukan antara lain dalam Wuthering Heights (Emily Bronte) atau The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald).

Di dalam versi filmnya (Peter Weir, 1982) kehadiran Cookie nyaris sama sekali tidak terdeteksi. Filmnya sepenuhnya menampilkan cerita dari sudut pandang Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Billy Kwan (Linda Hunt).

Edisi Indonesia buku ini akan segera diterbitkan Serambi, September 2009.

Comments

Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)