Memoar seorang Joseph Anton


Setelah hampir seperempat abad hidup dalam persembunyian--semenjak mendapat fatwa hukuman mati dari Ayatollah Khomeini pada 14 Februari 1989-- pada bulan ini Salman Rushdie menerbitkan sebuah memoar untuk dirinya sendiri dengan judul Joseph Anton: A Memoir

Kita tahu, hukuman itu difatwakan kepada Salman Rushdie  setelah dia menuliskan novel Ayat-Ayat Setan yang dinilai menghujat Islam, Nabi Muhammad dan Kitab Suci Al-Quran. Sejak saat itu Salman Rushdie bersembunyi, senantiasa pengawalan agen keamanan, tak bebas bepergian, bahkan diminta polisi menggunakan satu nama kode untuk dirinya. Dia memilih nama depan dari dua penulis yang dikaguminya: Conrad dan Chekov. Nama kodenya adalah Joseph Anton.  

Secara pribadi saya tertarik untuk membaca memoar ini. Setelah menerjemahkan dua karyanya ke dalam bahasa Indonesia, Midnight's Children dan Luka and the Fire of Life, saya terpikat pada luasnya imajinasi Rushdie dan kelincahannya memainkan kata. 

Kisah kehidupan seseorang yang unik dan penuh karya seperti ini tentu menarik, bagaimana dia dibesarkan, apa yang menginspirasinya, bagaimana dia di tengah keluarganya--dua di antara karyanya secara khusus dituliskan untuk putranya. Lepas dari segala kontroversi yang melekat pada diri seorang Salman Rushdie, saya berharap semoga ada penerbit yang mau menghadirkan edisi Indonesianya.


Comments

  1. Anonymous10:05 PM

    Mizan gak ada rencana nerjemahin? Eniwey, saya baca terjemahan Midnight Children&Luka and The Fire of Life. Keren!

    ReplyDelete
  2. Saya sih berharap penerbit buku2 Salman Rushdie sebelumnya yang akan menghadirkan edisi indonesianya di sini: Penerbit Serambi.

    ReplyDelete
  3. o iya, terima kasih utk apresiasi atas hasil terjemahan saya :)

    ReplyDelete
  4. Anonymous7:14 PM

    Oh, ya, Serambi. Maaf saya jadi kecetus Mizan sebab saya teringat buku2 Karen Armstrong yang beberapa juga Ibu yang terjemahkan. Saya pun suka sekali membacanya. Khususnya yang The Great Transformation dan Menerobos kegelapan :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas