Posts

Showing posts from 2016

Children and Books: Start Early, Stay Long

Image

Kelahiran puisiku

Puisiku lahir dari solilokui Dalam perjalanan panjang  Menembus pekat malam Menunggu dalam antrean
Puisiku lahir dari observasi  Pikiran yang tak henti bicara  Ego-ego yang ingin menang Orang-orang berebut perhatian Suara-suara yang ingin pengakuan
Puisiku ingin mengatakan kepadamu Aku tak takut melihat ke dalam Inilah yang kupahami dari diriku dan dirimu Kini kutunggu puisimu


Pavilion Indonesia, GoH FBF 2015

Image

Clouds

That little space in your mind
So crammed full of words
Everlastingly chattering
You build a wall around yourself
Protecting the thoughts you take as truth

But thoughts are like clouds
They are forever changing
What you now see as camel
in an instant turn into a lion or a kite
Like the restless sea, it is constantly moving

Try for a moment to just let go
Observe your clouds of thought
Without judgement without escaping without fear

Only then there will be light in your path

Telur salmon

Jamuan siang itu adalah tiga tumpukan bola-bola telur salmon
Di atas gumpalan nasi berbalut selendang oranye tipis
Disusun cermat dalam tiga lingkaran bersinggungan
berhias parutan lobak putih dan irisan lemon

Kau tahu, bola-bola oranye pucat itu
tentu telah menempuh sekian kilometer dengan kecepatan tinggi
untuk tiba di sini dengan kesegaran yang menyentak lidah
Seperti letupan kembang api di udara basah,
tajam lembut lumer mengembangkan senyuman
menumpas rasa tak puas

Kuingin kau mengenang siang ini
Dua tiga puluh tahun lagi
tetap membuatmu tersenyum
Seperti masih hari ini


Story of picture

Your eyes can bring life to the death
Those faces frozen in time, framed in the wall,
shining from pages, beaming from screens
Waving from ageless past
All suddenly come alive just by your gaze

Your eyes can bring death to the living
When you pause their breath
By a touch to stop the flow of time
The moment you see will forever stand-still
Racing into the countless future

And for a tiny second, you and I meet in a timeless eternity

So it is like this

What I see when the sun goes down
Is the birth of a new day
So cherish my heart with the warmth that remained

When the new day is born
I find poetry in the perfect morning
With bright sky after rain
I know... night is the darkest precisely just before sunrise

"Follow Your Dreams, Stefano!"

Image
“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia...”  Demikian lirik pembuka lagu Laskar Pelangi, film Indonesia kesukaan Stefano. Buku ini seperti pembuktian bagi pernyataan itu bagi sang penulis. Sejak lama Stefano memimpikan untuk menerbitkan buku dari kumpulan fotonya mengenai Indonesia. Sejak kunjungan pertamanya di negeri ini, dia yang merasa seperti menemukan kampung halaman kedua di sini, kini berhasil mewujudkan mimpinya.

Penerbit Mizan dengan bangga mempersembahkan buku Kampungku Indonesia, buku foto pertama karya Stefano Romano. Penerbitan buku ini sejalan dengan komitmen kami untuk mendukung orang-orang kreatif dengan passion yang kuat untuk memajukan perkembangan manusia Indonesia secara positif, dalam hal ini di bidang fotografi dan kemanusiaan.

Buku ini merupakan buah dari beberapa kunjungan Stefano Romano ke Indonesia pada  tahun 2010, 2011, 2014. Foto-foto yang  ditampilkan di dalam buku ini bukanlah gambaran yang serba indah dan eksotis tentang Indonesia sebagaimana …

Roman Eyes, Indonesian Heart: Interview with Stefano Romano, Author of “Kampungku Indonesia”

Image
Is it possible to feel a land as our own homeland, without being one? For Stefano Romano, a photographer based in Rome, Italy, the answer is “yes” if the land is Indonesia. That’s the first sentence he wrote in the Preface to his first photo-book to be published in Indonesia by Penerbit Mizan in July 2016, titled Kampungku Indonesia (My Own Private Indonesia).

Stefano started working as a photographer in 2009 with migrant communities from Bangladesh in Rome. Since then he never stopped taking pictures, getting in touch with other foreign communities, especially of Southeast Asia and

Mata Orang Roma, Hati Orang Indonesia (2)

Image
Wawancara dengan Stefano Romano, Penulis Buku “Kampungku Indonesia” (Bagian Kedua)

Stefano Romano berkesempatan berkunjung ke Indonesia pada momen pergantian tahun 2010 dan 2011 serta pada 2014, bertepatan dengan momen Ramadhan, Idul Fitri, dan 17 Agustus. Dalam kedua kunjungan tersebut, Stefanomengabadikan banyak momen dari sudut pandangnya sebagai orang Italia yang melihat kehidupan orang Indonesia dan kaum muslim di sini. Dalam waktu yang sama Stefano membagi ilmu lewat beberapa acara workshop fotografi bersama komunitas fotografi di Jakarta dan Yogyakarta. Foto-foto terpilih dari hasil kunjungannya itulah yang kini disajikan dalam bukunya Kampungku Indonesia, dilengkapi dengan cerita menarik di balik potret-potret tersebut.
Tahun ini Stefano akan kembali berkunjung ke Indonesia dari 4 Juli hingga 28 September 2016,

Mata Orang Roma, Hati Orang Indonesia (1)

Image
Wawancara dengan Stefano Romano, Penulis Buku-Foto “Kampungku Indonesia”

Mungkinkah seseorang merasakan suatu negeri sebagai kampung halamannya, padahal dia bukan berasal dari sana? Bagi Stefano Romano, seorang fotografer asal Italia, jawabannya adalah “ya” jika negeri itu adalah Indonesia. Demikian bunyi kalimat pertama pada bab pertama buku fotonya yang akan segera terbit dari Penerbit Mizan, berjudul Kampungku Indonesia. Stefano mulai bekerja sebagai fotografer sejak 2009. Berawal dengan memotret komunitas orang Bangladesh yang tinggal di Roma, kemudian meluas ke berbagai komunitas negara Asia lainnya. Hampir seluruh komunitas yang diakrabinya dicirikan oleh satu hal yang sama, yakni mereka adalah negara-negara bermayoritas penduduk Muslim. Bergaul dengan mereka memicu rasa ingin tahu Stefano mengenai Islam. 

Ketertarikannya secara khusus terpicu oleh pengamatannya sebagai fotografer pada saat memotret wanita berhijab. Menurut Stefano, wajah wanita berhijab

Oleh-oleh dari Bologna

Image
Tahun ini Indonesia hadir untuk kedua kalinya di pameran buku anak Bologna. Kehadiran Indonesia di pameran yang berlangsung dari 4 hingga 7 April 2016 ini terasa lebih semarak karena besarnya momentum yang diciptakan oleh kesuksesan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair tahun lalu. Meski udara Bologna awal April sepanjang hari sejuk bikin mengantuk, aktivitas di stand Indonesia selama empat hari itu tak pernah sepi dari pagi hingga sore.


Stand Indonesia tahun ini tampil dengan desain yang jauh lebih menarik dibanding sebelumnya. Ornamen logo 17 Islands of Imagination menghiasi dinding lemari sekeliling stand. Lampu pijar yang berjejer di atas kepala menciptakan suasana hangat dan akrab. Pameran di Bologna dikhususkan untuk buku anak yang dicirikan oleh kekuatan ilustrasi, maka pada dinding luar stand ditampilkan gambar karya ilustrator Indonesia yang terpilih untuk dibawa ke Bologna tahun ini, Renata Owen.


Sejak hari pertama, stand Indonesia yang kali ini berukura…

Akhirnya ke India

Image
Apa yang kaulihat di jalanan kota New Delhi, Agra, Uttar Pradesh, barangkali tak jauh beda dengan apa yang tampak di Pariaman, Sumedang, Bandung. Yang datang menemuimu siang terik itu barangkali punya cerita yang sama dengan gadis-gadis muda yang terpaksa menjadi ibu ketika usia belum lagi dua dekade.

Tapi tetap engkau termangu sambil matamu membuka lebih awas, kulitmu serasa lebih peka. Udara terasa lebih kental digelayuti masa lalu. Debu yang terhirup seperti membawa cerita eksotis yang tak kaurasakan hadir di tempatmu berasal. Jalanan terasa lebih padat dan sesak dengan kisah dari masa-masa yang panjang. Sementara pikiranmu menjelajah ke dalam memori yang juga tak ingin kaulepaskan.