Putri, Azmi, dan Anna Karenina



Namanya Putri Aulia. Saya melihat namanya di pojok kanan atas selembar kertas. Putri Aulia menuliskan pohon keluarga Anna Karenina karya Leo Tolstoy setelah selesai membaca buku tersebut. Bikin saya tercengang. Anak 12 tahun yang sekarang duduk di kelas 7 Mts Sukamiskin, Bandung, itu sudah mampu melahap novel berat dan menuliskan rangkumannya. Setelah Anna Karenina, sekarang Putri mulai membaca Pramudya dan Alkemis dari Paulo Coelho.




Putri Aulia adalah salah satu siswa yang mengikuti sekolah samin yang diselenggarakan Yayasan Odesa. Dia sangat suka membaca novel dan komik. Setiap minggu dia meminjam buku di Perpusatakaan Odesa Indonesia, menamatkannya dalam seminggu atau kurang, lalu meminjam lagi buku baru. Setelah banyak membaca dia mulai juga rajin menulis dibimbing para mahasiswa relawan.


Semangat ini semakin meningkat pada masa pandemik ketika kegiatan belajar di sekolah dipindah ke rumah. Anak-anak jadi lebih sering datang ke Odesa karena mereka jadi punya waktu seperti masa liburan panjang.

Menurut Ibu Yani, yang mengelola sekolah dan perpustakaan Samin, kerakusan anak-anak untuk belajar dan melahap bacaan membuatnya “merinding.” Ibu Yani ingin mengakomodasi semangat mereka sebaik-baiknya, tak mau kehilangan momen dan membuat kecewa anak-anak, misalnya karena tidak tersedia buku bacaan baru atau karena ketidakhadiran dirinya saat mereka datang berkunjung.

Selain Putri, ada lagi Azmi Ahmad Nasrullah yang juga berusia 12 tahun. Azmi sekarang duduk di kelas 6 SD Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kab. Bandung. Dia sudah mulai ikut kegiatan belajar pada akhir pekan di Odesa sejak kelas 3 SD. Azmi paling suka membaca buku tentang sains-teknologi, dan buku bergambar.




Kata Azmi, “Aku suka belajar kapan saja karena rumahku dekat dengan Perpustakaan Odesa. Kapan aku suka meminjam buku aku langsung ke perpustakaan. Aku senang belajar di Odesa karena banyak teman dan aku merasa cepat pintar karena belajarnya menyenangkan.”

Anak-anak ini datang dari keluarga tidak mampu. Orangtua mereka sering kali tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk menemani kegiatan belajar anak, tidak ada waktu karena tuntutan ekonomi, kesibukan mencari nafkah dan kegiatan rumah tangga.

Sekolah samin terus berkembang. Dari dua lokasi pada tahun lalu, kini sudah dibuka di 10 lokasi kampung dengan jumlah peserta total lebih dari 120 anak. Dibutuhkan lebih banyak relawan, lebih banyak bahan bacaan, lebih banyak kemauan untuk memberikan bantuan dan dukungan.

Mengutip Budhiana Kartawijaya, salah satu pengurus Odesa, “Kalau sistem pendidikan kita adil, anak-anak cerdas di kampung akan mencapai masa depan gemilang. Tapi karena belum adil, anak cerdas cuma jadi kuli.” Semoga mereka dapat mencapai pendidikan tinggi, dan mendapat dukungan yang cukup dari keluarga dan lingkungan untuk meraih cita-cita.




Comments

Artikel Favorit

Rindu Laut

Pesan dari Capernaum