Yusuf Ali: Kesepian di Akhir Hayat (Bag. 4)

World’s most popular Abdullah Yusuf Ali Quran Translation
in English published alongside the original Arabic text,
completed in Lahore on the fourth of April 1937.

Aktivitas publik sangat dominan sepanjang kehidupan Yusuf Ali. Pengabdian pada imperium adalah bagian dari kehidupan pribadinya. Tapi Yusuf Ali tak berhasil mengimbangi tarikan kuat ke arah publik ini dengan perhatian yang cukup untuk keluarganya.

Sejak perceraian Yusuf Ali dari Teresa pada 1912, anak-anaknya tumbuh dalam kebencian terhadap dirinya. Keadaannya dengan Masuma, dan putranya Rasyid, tidak jauh berbeda. Penggal akhir hidup Yusuf Ali dilalui dengan kesendirian di tengah reputasinya yang makin cemerlang.

Pada 1938 nama Yusuf Ali sebagai seorang intelektual Islam telah menyeberangi Samudra Atlantik. Terjemahan dan ulasan Al-Quran itu diterbitkan oleh Hafner di New York dan Murray di Cambridge, Massachusetts.

Kitab itu memuat lebih dari enam ribu catatan kaki untuk terjemahannya, serta lampiran dan tafsir yang dituliskan dalam gaya syair tak bersajak. Semua ini merupakan suatu upaya monumental yang memadukan pikiran yang cerdas dan tafakur akan keagungan Al-Quran. Yang menonjol dari karyanya adalah tekanan pada dimensi spiritual Islam dan pesan kebangkitan moralnya.



Cikal-bakal dari orientasi ini dapat ditelusuri pada pengalaman hidup Yusuf Ali, pada cita-cita dan kesetiaan ideologinya. Kehidupan rumah tangga yang kacau, keahlian akademis di usia dini dan pekerjaan sebagai seorang pemimpin merupakan pengalaman-pengalaman yang saling berjalin dengan visinya mengenai makna Al-Quran.

Ini membuat upaya telaahnya bersifat sangat pribadi. Dia bahkan menutup-nutupi masa-masa riset yang dilakukannya secara diam-diam. Pamflet-pamflet dalam serial "Islam Progresif" antara 1925 dan 1933 tidak mengemukakan apa-apa tentang tafsir Al-Quran yang sedang dikerjakannya.

Pesan Al-Quran mengenai pertolongan dan harapan adalah yang paling menarik bagi Yusuf Ali. Dalam Kata Pengantar untuk The Holy Qur'an: text, translation and commentary, ada gambaran tentang "betapa banyak pergolakan batin yang hebat yang ternyata merupakan kabar baik akan datangnya pemahaman spiritual. Peristiwa itu menyucikan jiwa kita dan menyuburkan kehidupan spiritual yang dulunya bagaikan padang pasir."

Perasaan terluka Yusuf Ali yang terkubur dalam-dalam baru tampak pada September 1940 ketika dia menuliskan surat wasiatnya. Yusuf Ali seakan ingin menghukum anak-anaknya yang telah menjadi asing dengannya karena tetap mempertahankan sikap buruk dan kebencian mereka meskipun "saya telah melakukan segalanya untuk mereka."

Wasiatnya tidak menunjukkan kemurahan hatinya kepada anak-anaknya. Mereka dikesampingkannya, "Akibat kelakuan buruk yang terus-menerus mereka tunjukkan, saya telah menghapuskan kasih sayang saya kepada mereka. Saya tidak akan memberikan apa pun kepada mereka melalui surat wasiat ini."

Selanjutnya dia menyerahkan seluruh kekayaannya yang melimpah kepada Court of University of London untuk kepentingan "para mahasiswa India di Universitas itu." Masuma ditinggali perlengkapan rumah tangga, tulisan-tulisan dan naskah-naskahnya serta setiap buku yang disukainya dari koleksinya dan 40 pounsterling setiap tiga bulan "hingga dia menikah lagi."

Setiap buku yang ditinggalkannya dikirim ke perpustakaan Islamia College, Lahore, sementara instruksi-instruksi sangat khusus diberikan menyangkut penanganan buku-buku catatan hariannya.
"Saya wariskan kepada Universitas Muslim Aligarh seluruh catatan harian saya (yang kini tersimpan di dalam sebuah kotak baja hitam terkunci), dan saya memerintahkan catatan-catatan harian itu disimpan oleh Universitas di dalam perpustakaannya dan tidak boleh dibuka hingga jangka waktu 30 tahun sejak hari kematian saya."

Catatan-catatan tersebut tidak pernah dikirim ke Aligarh dan nasibnya barangkali merupakan salah satu rahasia yang dibawa Masuma ke liang lahat pada 1962.

Tahun-tahun senja kehidupan Yusuf Ali pun menjelang. Lingkaran teman-temannya semakin menyusut. Terpisah dari istri dan anak-anaknya.

Pada malam 9 Desember 1953, polisi menemukan Yusuf Ali sedang duduk di undakan sebuah rumah di Westminster. Dia dibawa ke Rumah Sakit Westminster. Pada hari berikutnya petugas melepaskannya dan seorang polisi meninggalkan Yusuf Ali di sebuah lembaga penyantun orang lanjut usia di Dovehouse Street, Chelsea. Keadaan Yusuf Ali terus memburuk saat itu. Dia jatuh sakit lagi dan meninggal di St Stephen's Hospital di Fulham pada 10 Desember.

Selembar surat kematian yang dikeluarkan menyebutkan "degenerasi myocardical karena usia uzur" sebagai penyebab kematiannya. Staf di Komisi Tinggi Pakistan mengatur pemakaman. Yusuf Ali dikubur di Brookwood Cemetery, Surrey, tidak jauh dari Masjid Woking. Pusaranya dekat dengan pusara Marmaduke Pickthall, ahli Al-Quran terkemuka lainnya.

Comments

Popular posts from this blog

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

Dua Bulan di Langit 1Q84

Atonement (Novel)