Saya benci mendengar bunyi ledakan bom. Bunyi itu meledakkan kepiluan. Saya akhirnya menyaksikan perang ini pecah, tidak percaya, tidak berdaya, hanya bisa ikut merasakan luka dan ketakutan yang mencekam warga di sana.

Perang ini akhirnya betul-betul terjadi. Ketika mengikuti perkembangannya dari hari ke hari, diam-diam saya berharap ini tidak akan berakhir dengan perang. Suatu saat ada sebuah kekuatan yang dapat menahannya. Ancaman-ancaman yang dilontarkan Bush itu semoga sekadar kata-kata, persiapan militer itu akan segera ditarik dan mereka akan kembali ke akal sehat. Tapi tampaknya akal sehat itu tidak menyentuh mereka. Mereka hanya melihat kebenaran ada di dalam pilihan mereka.

Perang akan selalu ada di muka bumi ini. Di masa hidup saya, saya belum pernah berada di tengah sebuah perang. Perang antarsuku cukup sering terjadi di Indonesia, maluku lawan dayak, perang ambon, perang di aceh. Hidup di daerah itu ketika kerusuhan berlangsung tentu tidak jauh bedanya dengan perang antarnegara. Satu-satunya situasi terdekat dengan suasana perang yang pernah saya alami adalah pada tahun 98, ketika orang berebut sembako karena krisis moneter.

Perang hebat di negara lain yang terjadi semasa hidup saya adalah perang bosnia, perang chechen, perang yang tak berujung di palestina.

Tapi perang kali ini berbeda betul. Sebuah negara memaksa negara lain untuk mengganti pemimpinnya. Ini adalah agresi. Saya tidak mengerti mengapa tidak ada satu kekuatan penengah yang bisa menahan ini. Apakah Amerika akan selalu bisa memaksakan kehendaknya di dunia ini. Apakah dunia akan dikuasai oleh Amerika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)