siang ini saya bersepeda keluar semata-mata demi alasan menyegarkan pikiran. saya merasa sumpek siang ini karena runtutan peristiwa virtual di milis asah dan kegundahan saya sendiri yang masih belum melihat cahaya terang di ujung terowongan ini. saya melewati jalan nokodaidori. saya tidak merencanakan rute, hanya membiarkan kaki mengayuh dan mengantar saya ke sebarang tempat. semacam freewriting, ini adalah freeride. ternyata saya melalui tempat-tempat yang paling biasa saya lewati dalam keadaan tidak direncanakan itu.waktuu tiba dekat kuriyama koen, saya mengarahkan secara sadar. saya harus menghindari koen itu supaya hanifa tidak menuntut untuk mampir ke sana. saya lewat rumah-rumah dan gang kecil di belakang inageya. daerah yang belum pernah saya datangi. di sana ada kebun bonsai. satu halaman luas yang dipenuhi meja berisi pohon-pohon kerdil yang berusia tua. saya tidak berani terlalu jauh, saya kembali berbalik lewat jalan yang lain dan akhirnya mampir ke nagasakiya. ternyata freeride yang tidak disadari mengantarkan saya ke tempat-tempat yang saya kenali. dalam freeride yang terfokus saya tidak berani pergi terlalu jauh ke tempat yang tidak saya ketahui tanpa kepastian arah dan batas waktu. itukah yang juga terjadi pada saya dalam freewriting.

dua hari menjelang pemilihan walikota koganei. sejak seminggu lalu papan bertempelkan wajah calon-calon yang ikut pemilihan tersebar di mana-mana. hanya ada tiga calon untuk koganei. di hibiya ada sekitar empat puluh. di mitaka sekitar tiga puluh, kata mas budi. dan dalam perjalanan ke pameran kemarin, melewati chuo-ku dan beberapa daerah timur lain saya lihat papan itu ditempeli sampai enam puluhan wajah calon.

dalam perjalanan bersepeda tadi saya berpapasan dengan mobil kampanye doi hideo. dia calon termuda untuk koganei, berusia empat puluh tiga. dua calon lainnya enam puluhan, termasuk yang kini menjabat, inaba takahiko. pesan yang disampai juru kampanye di sini terlalu gamblang, pilihlah doi hideo, katanya, calon berusia muda dengan pengalaman perencanaan kota sejak dari hokkaido hingga okinawa. dia mempromosikan rencana membuat kota yang mengakomodasi orang-orang berjalan kaki dan bersepeda. program perencanaan ruang kotanya terasa ramah dibanding proyek peremajaan kota berskala besar yang sedang diajukan oleh walikota yang sekarang. saya setengah berharap calon termuda ini yang terpilih, walaupun saya tidak akan sempat melihat hasil kerjanya dalam sisa waktu saya tinggal di sini. tapi saya akan mengingat bagaimana wujud kota yang diidamkannya. kota yang dihidupkan oleh kegiatan kemasyarakatan.

kita tidak bisa memandang waktu di depan sebagai sebuah tempat yang suatu saat akan didatangi dengan tiba-tiba dalam sebuah keadaan yang mengejutkan. detik-detik yang mengantarkan ke sana harus dilewati. entah ada perubahan atau tidak, dia akan terus bergulir. saya baru membaca lagi apa yang saya tulis kemarin tentang pagi yang penuh harapan. saya harus mengingatkan diri saya bahwa perubahan yang terjadi pada diri saya tidak mungkin terjadi dengan tiba-tiba. keadaan itu hanya bisa diciptakan melalui tindakan-tindakan kecil setiap hari, tindakan yang meneguhkan rasa percaya diri dan mendekatkan pada cita-cita. ada rasa berarah, bukan tindakan yang setiap kali justru mengurai lagi seluruh benang yang sudah dipintal sebelumnya.

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas