Untung saya bukan seorang wartawan atau pekerja di surat kabar atau pembaca berita di televisi. Kalau tidak, saya tentu akan kelimpungan mencari cara untuk menghindarkan diri dari terpaan kepiluan karena harus mengikuti perkembangan perang Irak setiap hari. Kini saya tidak lagi ingin tahu tentang perang ini, saya tidak kuat menyaksikan bom yang terus dijatuhkan di rumah-rumah rakyat Irak, pasukan-pasukan yang terus bergerak ke ibukota sambil menghancurkan apa saja yang mereka lewati. Mereka masuk ke dalam kota yang sudah terlebih dahulu mereka serang lewat udara. Kota itu hancur, sepi, ditinggalkan warganya yang kini hidup di pengungsian, kelaparan, kehausan dan ketakutan. Menyaksikan rumah sakit yang dipenuhi korban anak-anak dan rakyat sipil yang terluka di tempat-tempat yang tidak biasa. Saya tidak lagi berpikiran dapat menyaksikan harapan dan tanda-tanda di dalam berita. Ternyata perang ini tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Saya terkejut ketika mengetahui bahwa rapat PBB itu bicara hanya tentang nasib Irak pascaperang. Rupanya mereka pun tidak bisa berbuat sesuatu untuk menghentikan perang ini meski jutaan penduduk dunia menuntutnya setiap hari. Kini kita tinggal menunggu Bush bunuh diri atau Ramsfield ditembak mati lantaran ambisinya sendiri.

Saya sering bertanya dalam hati, apa yang pertama muncul dalam pikiran Bush ketika dia baru bangun pagi. Bagaimana perasaannya. Apakah ada dalam hatinya sedikit rasa bersalah, sedikit keraguan tentang keputusannya dan sentuhan kemanusiaan terasa mengetuk hatinya? Saya ingin tahu, meski saya yakin dia sudah larut dalam kegilaannya.

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Kafka di Tengah Hujan Badai

Momen Serendipitas