ribut-ribut ruu sisdiknas di indonesia. pada awalnya saya tidak mengerti apa yang jadi persoalan. selama ini pendidikan agama di sekolah sudah menjalankan seperti yang disebutkan dalam ruu, sekolah menyediakan guru sesuai keyakinan agama masing-masing. saya tidak tahu apa yang salah di situ sampai saya membaca pengalaman seseorang di milis madia.

dia seorang pastur. dia sudah menetapkan cita-cita itu sejak kecil. umur tujuh tahun dia masuk sekolah dasar negeri di tebet yang, karena hanya punya sedikit murid kristen, tidak bisa menyediakan guru kristen untuknya. dia lantas ikut kelas agama islam, ikut menghapal rukun islam, rukun iman, belajar mengaji dan menghapal juz amma. hingga umur tiga belas tahun dia belajar islam, tapi itu tidak mengubah cita-citanya. kini dia jadi tahu tentang islam dan tahu apa yang membuat orang islam marah apa yang menyakiti hati orang islam. bekal penting buat dia sebagai pastur. tamat sma dia masuk sekolah teologia.

yang saya peroleh dari cerita pengalamannya ini adalah penyadaran tentang apa yang semestinya diberikan dalam pelajaran agama kepada anak-anak. pelajaran itu semestinya tidak membuat anak-anak buta tentang agama lain, atau bahkan jadi penuh prasangkan yang menyulut kebencian dan sikap bermusuhan. anak-anak sekarang tidak perlu mengulangi sikap orang-orang dewasa sekarang yang hanya menganggap agamanya saja yang paling benar sehingga semua kekerasan dan sikap anti terhadap orang beragama lain dengan mudah mereka tunjukkan dan terus bawa hingga dewasa, ketika mereka menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat yang menentukan sebuah keputusan.

pengetahuan formal tentang agama mestinya juga menjadi tanggung jawab orangtua. pengenalan tentang sisi ritual agama diperoleh anak-anak melalui contoh yang diberikan orangtua dalam kehidupan sehari-hari. sekolah barangkali lebih pada sisi pendidikan agama yang bersifat universal filsofis, sehingga yang perlu disediakan sekolah hanyalah satu guru agama untuk setiap kelas.

baru mengerti saya sekarang. bagus juga kalau bisa gol pengaruh para pendialog antaragama ini.

10:55 AM

ini mengingatkan saya pada anak-anak pasangan indonesia-jepang yang sedang saya ajari baca al-quran. di antara mereka ada yang kelihatannya tidak punya motivasi sama sekali, seperti hanya karena dipaksa orangtua saja dia ikut hadir di situ. dengan malas-malasan dia membaca buku iqra, mengaku lupa huruf-huruf yang padahal baru saja dia baca di halaman yang lalu. senyum-senyum melirik temannya, seperti tidak sabar untuk segera mengakhiri pelajaran yang baru saja dimulai.

mungkin dia tidak pernah tahu mengapa harus belajar membaca al-quran. apa pentingnya buat dia mengenal huruf arab, hanya menambah beban pelajaran yang sudah cukup bikin pusing setelah harus mengenal hiragana dan kanji di sekolah. saya bayangkan dia betul-betul merasa kesal dipaksa belajar itu, tak ada ujung pangkalnya, bahkan mungkin dia tidak tahu apa itu agama. apa perlunya agama buat dia. dia tidak melihat agama dalam hidup orangtuanya. agama tidak pernah diajarkan di sekolahnya.

saya jadi ingin mengatakan pada orangtuanya ada yang lebih penting daripada menghapal dan mengenal huruf-huruf arab itu. pertama, buat anak itu mengerti tentang tuhan secara sangat sederhana. bicara dan tunjukkan lewat pengalaman sehari-hari. tumbuhkan rasa ingin tahunya. perlihatkan peran agama dalam kehidupan sehari-hari. bagaimana shalat, mengapa shalat, bagaimana dan mengapa puasa. setelah melihat itu berjalan dalam kehidupan sehari-hari, anak yang secara kejiwaan punya kecenderungan kuat untuk meniru orangtuanya akan mempunyai dorongan untuk mengenal agamanya. dia ingin tahu dan ingij belajar. dia tidak perlu dipaksa untuk belajar karena dia punya kebutuhan sendiri untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Comments

Artikel Baru

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Momen Serendipitas