Turunkan Kecepatan

“Apakah kaupunya kesabaran untuk menunggu hingga lumpurmu mengendap dan air menjadi jernih? Bisakah kau diam hingga tindakan yang benar muncul dengan sendirinya”—Lao Tzu



Saat berjalan kaki pagi ini, tiba-tiba saya teringat, betapa sudah lama saya tidak berjalan kaki hanya untuk menikmatinya. Berjalan kaki yang bukan untuk mengantarkan ke sebuah tujuan. Tak ada yang perlu dikejar. Tak perlu melihat jam.

Kesempatan seperti ini semakin langka saja. Entah karena tak ada waktu atau karena kebiasaan. Dengan berlambat-lambat seperti ini, banyak hal jadi terasa lebih dekat, lebih menarik. Udara sejuk menerpa wajah, gemericik air, selokan butek, kicau burung, sampah yang menumpuk di pinggir jalan. Apa-apa yang terabaikan ketika dilewati dalam kecepatan tinggi jadi tersentuh dan membekas di segenap indera.

Dalam War of the Worlds, Mark Sluoka memberi ilustrasi tentang ketidaknyataan yang meningkat seiring dengan bertambahnya kecepatan: “Saat berjalan kaki dengan kecepatan 10 km/jam, kita akan memperoleh pengalaman yang khas di tiap tempat: bau, suara, warna, tekstur dan sebagainya. Akan tetapi, saat melaju dengan mobil berkecepatan 120 km/jam, pengalamannya jauh berbeda. Mobil mengisolasi kita, menciptakan jarak; dunia yang berada di balik kaca jendela tampak tak nyata. Pada kecepatan supersonik keterceraian menjadi sempurna. Pemandangan dari ketinggian 10.000 meter adalah sebuah abstraksi, tak serupa dengan kenyataan, bak lukisan.”

Dengan kecepatan berapakah kita menjalani hidup saat ini? Dan berapa jauh kita terpisah dari yang nyata karena melaju dengan kecepatan seperti itu? Sulit mengukurnya, tapi jelas lebih tergesa-gesa dibanding sepuluh tahun lalu. Rasanya kita kini makin tidak sabaran saja dengan segala yang lambat. Bukankah kita kerap merasa kesal ketika sambungan Internet terasa lamban, atau ketika program Windows membuka sekian detik lebih lama dari biasanya. Kita sudah lama lupa debar perasaan saat berhari-hari menanti sepucuk surat, diganti dengan deg-degan menunggu baris selanjutnya dalam kotak chatting, dering selanjutnya dari balasan SMS yang diharap muncul dalam hitungan detik.

Mau ke mana sih kita dengan segala ketergesaan dan kesibukan ini? Apa yang kita kejar? Sempatkah kita bertanya seperti itu? Kecepatan adalah berkah hidup di zaman kita. Untuk semua itu kita barangkali generasi yang lebih beruntung. Tapi, sesekali melambat akan membantu untuk meraih kembali apa yang hilang dalam hidup yang serba cepat ini. Sesekali bersepeda, atau berjalan kaki. Melewatkan waktu tanpa terburu-buru. Meluangkan cadangan waktu yang lebih longgar untuk tiba “di sana.” Saya yakin itu akan membantu untuk menyeimbangkan hidup yang serba tergesa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)