The Rug Merchant


Tak terlalu jelas apa yang secara khusus menarikku memilih buku ini ketika pada suatu sore akhir Mei aku masuk ke halaman Mizan yang sedang menggelar apa yang mereka namakan Pesta Buku Rakyat. Mungkin subjudulnya yang berbunyi ‘ketika kesepian begitu mendera cinta adalah satu-satunya penawar’ (ow, bagaimana cinta berhasil menawar kesepian itu) atau kotak hitam kecil di sampul yang mengumumkan ‘segera difilmkan oleh Fox Searchlight Pictures (produser Slumdog Millionaire)’ (yup, lebih baik baca novelnya dulu baru nonton filmnya) atau foto sorot-dekat wajah lelaki Timur Tengah di sampulnya (ah, Timur Tengah, terutama Iran, kebudayaan yang memikat). Mungkin kombinasi ketiga hal itulah yang memunculkan keputusan seketika untuk membelinya, saat aku tidak punya niat untuk membeli buku tertentu pada kesempatan itu.

Novel ringkas ini dibuka dengan suasana kota New York yang ramai sebagai latar kontras bagi hidup Ushman--tokoh utama kita, imigran pedagang permadani dari Iran--yang sepi, sedang melayani salah seorang pelanggan setianya, Ny. Roberts. Sejak bab-bab awal kita langsung dibawa ke tengah persoalan yang mendera Ushman di sana: hidup sendiri di tempat asing, angan-angan tak tergapai tentang kedatangan istrinya dari Teheran untuk bergabung bersamanya di New York, dan pelanggan yang sulit untuk dipuaskan. Ke dalam kesendirian hidupnya di tempat asing ini masuklah Stella, mahasiswi tingkat pertama Barnard College, anak tunggal berusia sembilan belas tahun yang sedang ditinggal kedua orangtuanya berpelesir ke Itali.

Sebuah hubungan yang diawali dengan gugup oleh Ushman yang tumbuh dewasa dalam norma pergaulan yang berlaku di Iran. Tak ada logika dalam persahabatan mereka, kata Ushman. Ia merasa dirinya tidak bisa diandalkan, orang asing, terlalu tua, dan tak punya teman. Sering dia menyatakan ketakjuban bagaimana mungkin Stella bisa memilih dirinya di antara semua kemungkinan yang terbuka baginya.

Kecanggungan luar biasa Ushman luruh oleh sikap Stella yang ringan. “Ushman berkata pada dirinya sendiri, segala sesuatunya berbeda di sini, Setlla bisa menyentuh tubuhku seperti itu, menyandarkan kepalanya tepat di atas jantungku, kemudian mengangkatnya lagi. Itu tidak berarti apa pun.” Stella berpikir dia bisa mencegah kecanggungan dengan hanya bersikap jujur. Dengan begitulah mereka saling membuka diri dengan menceritakan kesedihan dan kebahagiaan yang hadir bersamaan dalam hidup mereka. Kehadiran Stella seperti memberi harapan bagi Ushman, sebuah peta untuk menempatkan dirinya di tengah dunia barunya.

Sepanjang novel ini suasana sunyi sangat terasa. Kita bertemu tiga orang dengan bentuk kesepian masing-masing, mencari penawar bagi situasi mereka dalam caranya sendiri-sendiri. Gaya bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal membawa kita masuk jauh ke dalam pikiran satu tokoh utama. Dalam beberapa bagian kita berasyik masyuk dengan galau emosi dan pikiran Ushman yang tidak bertemu siapa-siapa, ikut dalam kebimbangannya, kecanggungannya berada di tempat asing. Bahkan dalam bisnis permadani Ushman, hanya ditampilkan satu orang pelanggan yang berinteraksi dengannya sepanjang cerita. Ada efek klaustrofobik, seakan cerita membawa kita bergerak di dalam ruang yang sempit. Dan pada bagian-bagian tertentu saat kita begitu dekat merasakan kerawanan hati Ushman, kita jatuh iba padanya, ingin menahannya dari melakukan tindakan-tindakan tertentu yang sepertinya nekat atau tak perlu.

Apakah cinta Stella ini dapat menawar kesepian Ushman? Barangkali untuk sementara, ketika fantasi menjadi sebuah daya apung di bawah kakinya, degup cepat di dalam dadanya. Namun ternyata bukan itu. Ketika bercerita tentang akhir hubungan mereka kepada Ny. Roberts, Ushman berkata, ‘Saat ia berkata bahwa ia mencintai saya, ... saya berkata kepadanya “Tidak, ini bukan cinta. Jangan biarkan hasrat yang kau rasakan sekarang menjadi harapan akan cinta. Lupakan perasaan itu. Suatu hari kau bisa berdiri berdampingan dengan cinta dan jika itu tidak terasa seperti ini kau akan kecewa. Karena cinta bukan hasrat. Cinta adalah pengorbanan. Ia matematis, bukan kimiawi.”’

Ushman harus berhadapan kembali dengan kesendiriannya, namun mungkin tidak lagi sepi, karena jiwanya pernah disapa di negeri asing ini. Ia telah dikenali oleh sebuah jiwa yang lain. Itulah barangkali penawarnya, karena yang lebih menakutkan dalam kesendirian bukanlah sepi, melainkan ketiadaan cermin untuk mengenal diri. Bukankah Tuhan sendiri memutuskan untuk menciptakan manusia agar Dia dapat dikenali? Bahkan Tuhan tak betah dalam kesendirian. Bahkan Tuhan rindu untuk dikenal.

Comments

Artikel Baru

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Momen Serendipitas