[Photoblog] Cerita Lain dari Ubud

Pada 7-9 Oktober 2011, saya berkesempatan berkunjung ke Ubud untuk mengikuti Ubud Writers and Readers Festival, kegiatan sastra setahun sekali yang menghadirkan penulis dari berbagai negara untuk bertemu dan berbagi pengalaman dengan pembaca. Di sini, para penulis menikmati "momen selebritas", karya mereka diapreasiasi, pembicaraan mereka disimak dengan antusias, tanda tangan mereka dicari, dan kehadiran mereka dinantikan oleh rombongan fans.

Di antara para  penulis yang hadir tahun ini adalah Agustinus Wibowo, Izzeldin Abuelaish, Tariq Ali Alexander McCall Smith, Alice Sebold, Alberto Manquel, DBC Pierre, Paul Kelly, Professor Tim Flannery, Alex Miller, Dr Izzeldin Abuelaish, Andrea Hirata, Tariq Ali, Glen David Gold, Trinity (the naked traveler), Benjamin Law, Putu Wijaya, Juan Gabriel Vasquez, Corinne Grant, Peta Mathias dan the Cambodian Space Project.

Saya dan teman-teman menginap di Yulia's Inn. Saat baru tiba di penginapan yang terletak di jalan Monkey Forest ini, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah pengumuman acara peluncuran buku berjudulLasmi, terbitan lokal, yang tertempel di lobi. Senang mengetahui bahwa lanskap penerbitan lokal Bali cukup bergairah. Sudah semestinyalah penerbitan buku tidak berpusat hanya pada kota-kota tertentu agar dapat melayani kebutuhan lokal yang khas.


Ubud penuh ekspresi seni di mana-mana, patung, lukisan, ukiran dan kolase kembang. Patung-patung penjaga teras pertokoan sepanjang jalan Monkey Forest.






Panitia Ubud Writers and Readers Festival memberlakukan aturan tidak boleh memotret selama berlangsung acara, maka saya hanya bisa mengambil gambar sebelum sesi dimulai, ketika panggung masih sepi dan para pembicara masih santai.




Buruh bangunan di Ubud adalah perempuan-perempuan perkasa seperti ini. Iklan minuman kuat itu keliru besar.



Di ujung pertigaan jalan Monkey Forest, di depan pasar Ubud yang menjual banyak barang kerajinan tangan dan kesenian, terdapat sebuah pura besar. Sayangnya saya tidak berkesempatan masuk ke dalamnya, tapi setidaknya sempat merekamnya dalam potret ini pada pagi hari, ketika jalan di depan pura masih sepi, belum berdesakan dalam kemacetan yang kerap melanda di sana.



Comments

Artikel Baru

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Momen Serendipitas