The Casual Vacancy: Dari Fantasi ke Dunia Nyata


Saat ini perhatian dunia perbukuan sedang terarah pada karya terbaru JK Rowling, The Casual Vacancy. Novel dewasa pertama yang ditulis oleh pengarang serial Harry Potter ini memang mencatat rekor luar biasa. Sebelum terbit edisi Inggrisnya terbit pada 27 September 2012, pemesanan telah mencapai angka 1 juta eksemplar. Pada hari penerbitannya, The Casual Vacancy langsung menduduki peringkat pertama daftar buku terlaris di AS, menggeser Fifty Shades of Grey yang telah menghuni posisi itu selama 21 pekan.


Penerbit dan toko buku seluruh dunia antusias menanti kehadiran buku setebal 512 halaman ini. Majalah The Bookseller menyebutnya sebagai buku yang terjual paling cepat dalam tiga tahun terakhir di Inggris. Banyak pihak yang optimis penjualannya akan melampui rekor Harry Potter jilid ketujuh yang terjual 2,5 juta eksemplar dalam 24 jam pertama. Pembaca Indonesia pun tak sabar menantikan kehadiran edisi Indonesianya dari Penerbit Mizan pada pertengahan November 2012.

Buku yang penerbitannya dikawal dengan sangat ketat dan penuh rahasia ini memancing reaksi yang amat beragam. Sebagian peresensi habis-habisan mengkiritiknya, menyebut Rowling telah kehilangan daya sihirnya dan lebih baik menulis untuk anak-anak saja. Tak sedikit yang memuji upayanya untuk berpindah dari genre fantasi remaja yang telah membesarkan namanya.



Novel ini seolah menjadi pembuktian bahwa JK Rowling memiliki kemampuan menulis yang istimewa. Dia berhasil menyeberang ke genre novel dewasa yang realis secara mulus. Karya terbarunya ini mendorong sebagian orang memperbandingkan JK Rowling dengan Charles Dickens lantaran kefasihannya menggambarkan realitas sosial masyarakat kelas menengah dengan amat dekat, dan kepiawaiannya meramu kisah zaman kontemporer yang cerdas dan menggugah.


Novel ini memang sangat berbeda dari serial Harry Potter. Setelah tujuh jilid kisah di negeri sihir sekolah Hogwarts, JK Rowling membawa pembaca ke dunia non-sihir para Muggle, dunia manusia biasa seperti kita. Yang ditampilkan JK Rowling dalam novel ini adalah gambaran realitas sosial yang sangat mirip dengan apa yang terjadi di berbagai penjuru dunia: perebutan jabatan kosong di dewan kota setelah kematian mendadak salah satu anggotanya, masyarakat yang terbelah oleh kepentingan politik, penyalahgunaan narkoba, dan kekerasan dalam rumah tangga. Banyak aktivitas ilegal yang ditemui di tengah masyarakat terungkap secara apa adanya di halaman-halaman buku ini, sehingga terasa menusuk dan amat nyata mencerminkan dunia kita saat ini.

Saat tersebar berita bahwa JK Rowling akan kembali menulis setelah vakum lima tahun sejak terbitnya Harry Potter dan Relikui Kematian, mungkin banyak penggemar berharap JK Rowling akan menuliskan karya yang menyerupai serial novel sukses itu. Banyak reviewer tampaknya terjebak dalam ekspektasi seperti itu, sehingga tak hentinya membanding-bandingkan The Casual Vacancy dengan Harry Potter, dan menemukan betapa harapan mereka tidak terpenuhi.

Namun tak dapat diabaikan bahwa narasi Rowling di buku ini luar biasa bernas dan padat. Setiap tokoh terhubung satu sama lain melalui aksi-aksi yang saling memengaruhi seluruh komunitas. Cerita beralih dari satu tokoh ke tokoh lain dalam kisah-kisah tersendiri tanpa kehilangan kaitan dengan keutuhan cerita yang mempersatukannya.

Buku ini memuaskan dahaga kita akan bacaan yang berhasil merekam dengan baik realitas sosial zaman ini, ketika banyak novel mengandalkan suguhan kisah yang ringan dan tak dalam. Terlepas dari komentar media dan para peresensi, yang lebih menentukan pada akhirnya adalah respons dari pembaca secara umum, yang telah melejitkan buku ini ke peringkat pertama pre-order di Amazon dan melekatkan nilai lima bintang pada kolom review.

Artikel Baru

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Momen Serendipitas