Catatan FBF 2012


Panji-panji berwarna merah dan putih berderet di halaman kompleks Frankfurter Messe, menandai penyelenggaraan pameran buku terbesar dunia di tempat itu pada 10-14 Oktober lalu. Diikuti oleh 7.300 peserta dari 100 negara, pameran tahun ini mengambil tema penerbitan digital dan buku anak. Namun bagi saya yang baru menghadirinya pertama kali, pameran ini jelas memiliki daya tarik melebihi tema-tema yang diunggulkannya.  


Pertama tentu saja tentang cakupannya yang luas. Pameran ini menempati ruang-ruang aula di delapan bangunan seluas total tiga ratus ribu meter persegi dengan jumlah pengunjung  mencapai seperempat juta orang. Mereka berasal dari kalangan profesional penerbitan dan pemasaran buku, pustakawan,  agen naskah, serta produser film, televisi dan game, pakar teknologi penerbitan, dan semua yang terlibat dalam lisensi konten untuk berbagai media. Tiga hari pertama pameran ini hanya terbuka bagi pengunjung profesional, baru pada dua hari terakhir terbuka untuk umum.





Hari pertama kunjungan saya khususkan untuk mengenal seluruh aula pameran, menandai tempat-tempat yang harus saya datangi sesuai janji pertemuan. Berbekal denah lokasi, saya mendatangi setiap aula, memperkirakan  jarak dan waktu yang diperlukan untuk mencapai satu aula ke aula lain, karena hari kedua dan ketiga penuh dengan agenda pertemuan dengan jadwal yang ketat. Jika tak mengenal medan dengan baik, bisa-bisa gagal mendatangi tempat pertemuan tepat waktu.

Panitia menyediakan free shuttle bus untuk mengantarkan pengunjung berkeliling di lokasi pameran. Bus ini datang setiap dua menit sekali, berhenti di setiap aula untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Namun pada hari pertama saya tidak menumpanginya, karena ingin menjelajahi setiap tempat yang tertera di dalam denah, menyusuri lorong-lorongnya, menyinggahi stand-stand yang menarik, dan memotret. Harus kuat jalan kaki jarak jauh untuk memuaskan diri mengelilingi arena pameran yang sangat beragam dan penuh warna ini. Stand-stand peserta ditata memikat, membuat betah untuk berlama-lama mengamati produk yang ditawarkannya.



Penerbitan digital tampak ingin ditampilkan sebagai bagian integral dari dunia perbukuan saat ini, tidak ditempatkan secara terpisah dari produk buku cetak. Di aula  yang sama dengan penerbit Random House, Penguin, HarperCollins, Hachette Book Group, kita dapat menemukan stand kobo, GooglePlay, Aptara, Silk, Bookmasters, yang bergiat menawarkan berbagai solusi dan layanan penerbitan digital.

Salah satu panel diskusi bertajuk Global 50 CEO yang diikuti para eksekutif media dan retail digital dunia membahas perluasan pasar yang ditimbulkan oleh penerbitan digital. "Ebook akan menguntungkan semua pihak dalam ekosistem konten," kata James Iannone, presiden Barnes & Noble Digital Products, karena pada intinya hal itu memudahkan bagi pembaca. "Akses kepada buku dalam berbagai bahasa menjadi lebih mudah, demikian pula akses kepada karya-karya dari pengarang independen atau penerbit-penerbit kecil."


Jual-beli rights tentu saja merupakan agenda paling menyibukkan dalam pameran legendaris ini. Selain menyediakan satu aula khusus untuk agen naskah di Hall 6, stand masing-masing peserta juga dilengkapi  meja-meja negosiasi jual-beli rights. Para pengunjung lama dan reguler di pameran ini seperti bertemu teman lama ketika mengawali pembicaraan mereka di meja negosiasi.

Menurut laporan Publishers Weekly, kesuksesan novel E.L. James, Fifty Shades of Grey, menunjukkan pengaruh besar di  arena perdagangan hal terjemahan: permintaan terhadap genre erotika meningkat, bahkan dari penerbit-penerbit yang sebelumnya tidak meminatinya. Saya tidak tahu pasti apakah kenaikan minat yang sama terjadi kalangan penerbit dari Indonesia.

Negara yang menjadi tamu kehormatan pada tahun ini adalah New Zealand. Mereka hadir dengan mengusung tagline yang khas mencerminkan negara yang posisinya paling timur di muka bumi ini: "While You Are Sleeping", maksudnya mereka telah sibuk bekerja sementara seluruh dunia masih terlelap. Sebuah papan terpampang di halaman depan kompleks pameran bertuliskan bait-bait puisi dengan tagline ini.

The world turned upside down, while you were sleeping
A land fished from the sea, while you were sleeping
A gift from New Zealand, made, while you were sleeping
Four million people dreaming, while you were sleeping
Thousand of books written, while you were sleeping 
....



Sebagai tamu kehormatan, New Zealand diberi aula khusus untuk menampilkan karya kreatif negeri mereka. Di Hall 1, mereka menggelar panggung seni dan instalasi yang menampilkan suasana malam penuh bintang di langit selatan New Zealand. Sebanyak 60 pengarang dari negeri kiwi itu diberi forum tersendiri untuk berbicara dan memperkenalkan buku-buku mereka.

New Zealand tampak begitu bangga dengan budaya lokal, keindahan alam, seni kuliner dan kekhasan bahasanya.  Tamu kehormatan berikutnya adalah Brasil, kemudian Finlandia pada 2014. Kabarnya Indonesia akan mendapat kehormatan itu pada 2015. Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan  karya kreatif Indonesia dan bisa mempersiapkannya dengan baik.

Saya ingin mengibaratkan kunjungan pertama ke Frankfurt Book Fair sebagai sebuah rites of passage bagi seorang yang berkecimpung dalam dunia penerbitan. Datang dan hadir di tengah pameran ini adalah pengalaman penting untuk meluaskan horison dan jaringan, menumbuhkan wawasan internasional.

Hubungan yang selama ini telah terjalin dengan berbagai agen dan penerbit melalui dunia maya, makin diperteguh dengan pertemuan langsung. Yang tak kalah penting setelah kunjungan ini  tentu saja menjaga hubungan baik dan terus menumbuhkan kepercayaan para agen dan penerbit yang telah sempat bertemu muka pada pameran itu.


Artikel Baru

Dua Bulan di Langit 1Q84

Dilema Schadenfreude

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan