Kota Buku Kanda Jimbocho

MENYUSURI Yasukuni-dori di Kanda-Jimbocho bagaikan masuk ke masa silam Tokyo. Meski berada di tengah kota, wilayah itu jauh dari suasana metropolitan. Bangunan-bangunan tua dari masa sebelum Perang Dunia II berjejer di kiri kanan jalan. Di beberapa tempat tampak warung sake gaya lama dengan kendi-kendi putih besar bertumpuk di depan pintunya.

Inilah bagian kota lama Tokyo, wilayah yang pernah terselamatkan dari pengeboman tentara sekutu pada Perang Pasifik 1941 lantaran aset buku-buku berharga di atasnya. Di sinilah terletak kota buku Jimbocho--pusat perdagangan buku Jepang yang sudah aktif semenjak abad kesembilan belas. Sisi selatan jalan itu adalah rumah bagi sekitar 136 toko buku tua, buku langka dan buku bekas, 30 toko buku baru, 25 agen distribusi, dan sejumlah besar perusahaan penerbitan dan editing.

Buku adalah mesin waktu. Buku bekas dan buku antik dijual di sepanjang jalan wilayah Kanda-Jimbocho. Foto (c) Nick D. Wikimedia Commons 


Tumpukan dan pajangan buku tampak sepanjang setengah kilometer di jalan Yasukuni yang lebar. Terbitan dari zaman Edo, lukisan, peta, cetakan di balok kayu, juga buku-buku langka dari berbagai bagian dunia dapat ditemukan di antara jutaan koleksi di sini. Rak dan peti buku melimpah keluar dari barisan toko-toko yang memiliki spesialisasinya masing-masing: buku anak-anak, fotografi, arsitektur, olahraga, militer, musik, film, sastra, hukum, komik, sains, dan apa saja.

Sebagian besar toko itu menampakkan kekhasan tata ruang bangunan di Jepang, sempit namun efisien. Setiap jengkal dimanfaatkan untuk memajang koleksi buku hingga ke langit-langit. Hanya menyisakan ruang kosong berbentuk huruf "u" yang menghubungkan pintu kiri dan pintu kanan, dengan meja kasir di ujung rak tengahnya.

Toko yang terletak di pertigaan bahkan menempatkan rak pajang di sisi dinding luar sejajar gang. Dalam wilayah seluas 16.500 persegi, Kanda-Jimbocho menyimpan hingga 10 juta buku, menjadikannya kota buku dengan tingkat kepadatan koleksi yang tak tertandingi.

Kanda-Jimbocho terletak di belahan timur Tokyo, di pinggir sebelah utara istana kerajaan. Pada zaman keemasan Shogun Tokugawa, Kanda merupakan pusat kota yang ramai, lengkap dengan komplek perdagangan dan permukiman yang padat. Daerah yang pertama kali muncul sekitar 1559 ini dikenal sebagai tempat bermukimnya kalangan ningrat, para daimyo dan samurai.

Kedudukan penting Kanda di masa itu tampak antara lain dengan dibangunnya sekitar tujuh puluh kuil di sana dalam penggal pertama abad ketujuh belas. Namun beberapa peristiwa kebakaran menghancurkan kuil-kuil tersebut, sehingga sejak 1700-an tak satu kuil pun berdiri di wilayah itu.
Sejarah Kanda-Jimbocho sebagai kota buku dimulai pada masa Restorasi Meiji tahun 1880-an.

Wilayah yang tadinya dihuni oleh kalangan daimyo dan samurai, di tangan pemerintahan yang baru dijadikan tempat tinggal pegawai pemerintahan, para dokter dan kalangan intelektual. Beberapa sekolah dan universitas swasta -- Universitas Meiji, Chuo, dan Nihon -- didirikan di sekitarnya.

Ketika itulah mulai bermunculan toko buku di berbagai lokasi di Kanda. Pada 1887, dari 131 anggota Asosiasi Perdagangan Buku Tokyo, 15 di antaranya beralamat di Kanda. Sembilan tahun kemudian, pada 1906, angka statistik itu meningkat menjadi 104 dari 384 anggota, menunjukkan cepatnya pertumbuhan usaha perbukuan di daerah tersebut.

Kota buku ini dapat dicapai dengan mudah dari berbagai tempat di Tokyo. Enam stasiun subway menghubungkannya dengan bagian kota yang lain. Barisan toko buku Kanda-Jimbocho terletak dalam jarak yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun-stasiun itu.

Jalur kereta bawah tanah ke sini mulai dibangun setelah peristiwa kebarakaran besar Kanda pada 1913 yang memberi kesempatan penataan ulang kota. Ketika itulah toko-toko buku yang menempati berbagai lokasi di Kanda mulai dikumpulkan di selatan jalan Yasukuni, sebagaimana lokasinya saat ini.

Dalam perjalanan sejarahnya, berbagai musibah telah melanda Kanda-Jimbocho. Selain kebakaran besar pada 1892 dan 1913, juga Gempa Besar Kanto 1923 yang menghancurkan sebagai besar toko, dan Perang Pasifik 1941 yang telah menghentikan usaha perbukuan di sana selama hampir sepuluh tahun.

Meski demikian, banyak di antara toko buku ini yang berhasil mempertahankan usahanya hingga kini. Sejumlah besar toko di Kanda-Jimbocho telah berbisnis selama dua atau tiga generasi, dan memiliki jaringan yang kuat dengan usaha sejenis di berbagai negara.

Salah satu toko buku tertua itu adalah Ohya Shobo yang didirikan pada 1882. Toko kecil ini gampang dikenali dengan lukisan samurai yang terpampang di atas plat namanya. Di etalase kaca depan terpajang beberapa lukisan kecil dan barang-barang tradisional Jepang lain. Toko ini membanggakan koleksi lengkapnya atas seluruh genre terbitan zaman Edo berupa buku, peta dan lukisan (ukiyo-e).

Harga koleksi-koleksi antik di sini, tentu saja, tidak bisa dibilang murah. Selembar peta tua dijual seharga 120-150 ribu yen (sekitar Rp 9-12 juta), sedangkan untuk buku bervariasi dari 7 ribu yen (Rp 560.000) untuk sebuah buku yang terbit pada Meiji 20 (1887) hingga 1,28 juta yen atau 102 juta rupiah untuk buku sepuluh jilid dari era Bunkyu (1860-an).

Toko lain yang sudah mencapai usia seratus tahun adalah Kitazawa, yang memulai usahanya pertama kali pada 1902. Berbeda dengan Ohya Shobo, Kitazawa justru tidak memiliki satu pun koleksi buku berbahasa Jepang. Toko ini mengkhususkan diri untuk buku-buku sastra dan referensi nonfiksi berbahasa Inggris untuk bidang filsafat dan kajian sosial, terutama sejarah, antropologi dan hubungan internasional. Banyak di antara buku itu berupa edisi perdana yang bernilai tinggi.

Di antara koleksinya yang kaya dapat ditemukan antara lain edisi pertama "Doge of Venice" karya Lord Byron (John Murray, London, 1821) seharga 95 ribu yen, edisi pertama karya Hemingway, "For Whom The Bell Tolls," (Scribner, 1940) seharga 25 ribu yen, dan buku tua "The Life of Francis Bacon" karya MR. Mallet (A. Millar, London, 1740) seharga 65 ribu yen.

Di dalam bangunan berlantai duanya, Kitazawa memiliki 30.000 koleksi buku tua dan 40.000 koleksi buku baru. Buku-buku baru terdapat di lantai bawah yang menyediakan sofa-sofa untuk tempat membaca, sedangkan di lantai dua ada ruang baca khusus untuk pengunjung yang tertarik pada buku langka dan edisi pertama yang mahal.

Di lantai dua inilah tersimpan karya asli maupun ulasan atas buku-buku Faulkner, WH. Auden, DH. Lawrence, Nathaniel Hawthorne, John Keats, TS. Eliot, Jane Austen, Shakespeare, Tennyson, Emerson, Henry James, Joseph Conrad, Edmund Burke -- singkatnya hampir seluruh nama sastrawan benua Eropa dan Amerika abad-abad yang lalu.

Berbagai perpustakaan di Amerika Serikat melengkapi koleksi tentang kajian Jepang mereka melalui toko-toko di Kanda-Jimbocho. Sharon Domier dari Universitas Massachussets di Amherst yang menyusun panduan memilih dan memperoleh buku-buku berbahasa Jepang secara khusus menyebutkan nama dua toko di Kanda-Jimbocho sebagai sumber buku-buku langka di bidang seni dan sastra Jepang, yaitu Isseido Booksellers dan Yagi Shoten. Isseido memiliki koleksi karya antik tentang Jepang, Asia dan Buddhisme dalam bahasa Jepang dan Inggris.

Toko ini juga melayani pemesanan melalui katalog yang diterbitkannya setiap tahun. Yagi Shoten yang berdiri pada 1941 berspesialisasi di bidang buku-buku sastra Jepang dan merupakan satu di antara empat belas toko yang melayani pemesanan secara online lewat situs kota buku Kanda-Jimbocho (www.book-kanda.or.jp).

Literatur dan buku-buku dari berbagai negara lain juga mendapat tempat di Kanda-Jimbocho. Buku-buku dari Cina, meliputi sejarah, kaligrafi, sastra, filsafat, obat-obatan, budaya dan kamus hingga panduan wisata dan biografi Mao, tersedia di Chuka Shoten, Yamamoto Shoten, Ryogen Shoten, Toho Shoten, dan Uchiyama Shoten.

Literatur berbahasa Prancis dapat ditemukan di Omeisha dan Tamura Shoten, yang juga menyediakan buku berbahasa Jerman. Literatur berbahasa Korea terdapat di Koma Shorin dan Rainbow Trading Co. Buku-buku berbahasa Rusia berupa kamus, literatur, buku-buku teori Marxis, dan statistik-statistik negara hingga matematika dan fisika dapat dicari di toko Nauka. Italian Shobo menyediakan buku dari Italia, Spanyol, Portugis, Amerika Tengah dan Selatan. Buku berbahasa Indonesia dan Thailand juga dapat ditemukan di antara koleksi toko buku Asia Bunko.

Beberapa toko mempunyai spesialisasi yang sangat terfokus. Kokusai Shobo, misalnya, adalah sebuah toko kecil yang khusus menyediakan buku-buku tentang hukum dari Amerika, Inggris, Prancis, Jerman dan Cina. Buku-buku kajian militer menjadi spesialiasi toko Bunkado, terutama tentang perang Sino-Jepang (1894-95). Shinsei-do untuk kajian linguistik dan perkamusan.

Penggemar permainan catur, solitaire, kartu tarot, bridge dapat menemukan buku-buku khusus tentang itu di Okuno Karuta. Para penggila manga dan anime bisa memperoleh buku-buku kegemaran mereka di Shosen Bookmart, Takaoka Shoten, dan Nakano Shoten.

Buku langka di bidang sains, terutama matematika, fisika dan pertanian, dapat ditemukan di Meirinkan. Toko bertingkat dua dengan bangunan berwarna perak ini begitu padat dan sesak dengan buku sejak dari luar. Buku-buku bertumpuk di teras sebelah kiri dan kanan pintu masuk, juga di etalase depan, di pinggiran tangga menuju lantai dua, dan di sisi luar dinding samping. Di antara koleksinya terdapat buku tua semacam "Summa de Arithmetica, Geometrica et Proportionale" karya Luca Pacioli (1494), "The Pathe Way to Perfectures in the Accomples and Crediteur" oleh James Peele (1569), dan dua jilid "The Selected Correspondence of Michael Faraday."

Kanda-Jimbocho tentu saja bukan hanya untuk kolektor buku langka yang serius. Novel dan komik bekas juga berlimpah di sini. Untuk mencari novel-novel berbahasa Inggris bekas maupun baru datanglah ke Tuttle Bookshop. Toko ini dikelola oleh penerbit Charles E. Tuttle yang banyak menerbitkan terjemahan buku sastra Jepang dan kajian tentang Jepang. Tuttle merupakan salah satu importir utama buku-buku asing ke Jepang dan menjadi tempat yang paling dikenal untuk mencari buku-buku terbaru dari Barat di Jimbocho. Di teras toko Matsumura dan Ginkeido, keduanya berspesialisasi di bidang buku-buku seni, terutama berbahasa Inggris dan sangat mahal, juga tersedia peti-peti berisi novel dan komik bekas untuk harga miring.

Jika ingin mendapatkan buku-buku langka dengan harga yang lebih murah di Kanda-Jimbocho, datanglah pada akhir bulan Oktober. Pada saat itu digelar acara tahunan Festival Buku Tua Kanda (Kanda Furuhon Matsuri) yang pertama kali diadakan pada 1960. Dalam festival ini dua ratus stand buku berjejer sepanjang Sakura-dori dan Suzuran-dori, dua jalan kecil di pinggiran Yasukuni-dori. Puluhan ribu orang tumpah di sana selama dua hari, saling berdesakan untuk menjangkau buku-buku pilihan mereka yang dijual dengan harga yang lebih murah dari hari-hari biasa.

Berkumpulnya toko-toko buku dengan koleksi yang demikian luas dan dalam di Kanda-Jimbocho adalah salah satu alasan mengapa kota buku ini dapat bertahan selama hampir seratus dua puluh tahun. Orang yang mencari buku di Tokyo mempunyai satu tujuan yang pasti dan memiliki banyak pilihan dengan mendatangi tempat ini, mereka membentuk basis konsumen yang kuat untuk menopang keberlangsungannya. Di samping itu aktivitas perbukuan lain, meliputi usaha penerbitan, desain dan distribusi buku, ikut menghidupkan suasana di kota buku itu.

Berjalan di sepanjang Yasukuni-dori, melihat-lihat kekayaan koleksi buku Kanda-Jimbocho, tak pelak muncul pertanyaan, berapa lama lagi kota buku ini akan bertahan dengan sisa suasana zaman Edonya. Tokyo adalah metropolis dengan wajah yang cepat berubah. Kanda-Jimbocho pun tak luput dari gelombang peremajaan kota yang terus merambah ke mana-mana di kota ini. Dalam beberapa tahun ke depan, sebagian besar distributor buku di wilayah ini akan dikumpulkan dalam satu bangunan. Perubahan di distrik perbukuan ini tampaknya tak terelakkan.

Di berbagai bagian dunia kini telah berdiri beberapa kota buku dalam usia yang relatif baru -- misalnya, lima kota buku di Eropa: Hye-on-Wye (1960), Redu (1984), Bredevoort (1993), Montolieu (1989), dan Fjaerland (1996)-- Kanda-Jimbocho dengan sejarahnya yang panjang pantas disebut sebagai pelopor dalam barisan kota buku dunia. Pertanyaannya, akankah Jimbocho terus bertahan menjadi penjaga mesin-waktu ratusan tahun lagi di tengah arus digital yang menyapu dunia perbukuan?


Tokyo, September 2002. 
(Pernah dimuat di suplemen Ruang Baca Koran Tempo, edisi November 2002)

Comments

Artikel Baru

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan

Jangan Berani Menerjemahkan, Kecuali..

Momen Serendipitas