Menghargai Pengarang

Ryūnosuke Akutagawa (1892-1927), penulis prolifik Jepang yang dikenal terutama dengan cerita-cerita hitorisnya. Namanya diabadikan dalam Akutagawa Award, salah satu penghargaan paling bergengsi untuk para penulis Jepang.  (Foto: National Diet Library)



Dalam novel 1Q84 kita melihat bagaimana peran editor mempersiapkan seorang penulis muda bernama Fuka-Eri. Naskah Air Chrysalis karya Fuka-Eri dinilainya layak untuk mendapatkan penghargaan untuk penulis muda di Jepang. Komatsu, sang editor, mencarikan ghost writer yang dapat melakukan revisi total atas karya asli Fuka-Eri. Mungkin saja dalam realita, ada upaya revisi anonim semacam itu demi mendapatkan penghargaan sastra di Jepang. Meskipun jika dibandingkan dengan negara lain, Jepang termasuk negara yang memiliki sangat banyak penghargaan untuk pengarang.

Haruki Murakami suatu kali pernah menyebut Pinbal 1973, novelnya yang kedua, sebagai sebuah novel yang lemah, padahal novel ini meraih penghargaan Shinjin Bungaku Prize (penghargaan untuk pengarang baru) pada 1974.

Murakami dengan gampang menepiskan pencapaian itu sebagai sesuatu yang luar biasa.  "Ada sangat banyak jenis penghargaan untuk penulis di Jepang," katanya dalam sebuah wawancara dengan NY Times. "Seorang pengarang dapat dengan mudah meraihnya untuk berbagai kategori." 

Di Jepang saat ini ada sekitar 370 hingga 380 penghargaan untuk pengarang. Jika angka ini dirata-rata, dalam satu tahun berarti ada satu penghargaan untuk setiap hari. Di tengah kondisi industri perbukuan yang terus melorot, berbagai anugerah untuk pengarang tetap bermunculan. Dalam sepuluh tahun terakhir, lahir sejumlah besar penghargaan baru meliputi berbagai genre dan dengan beragam konsep penilaian.


Kebanyakan penghargaan dianugerahkan atas nama seorang novelis terkenal atau penulis yang sudah wafat. Di antara anugerah baru dalam kategori ini adalah Takeshi Kaiko Award yang mulai diberikan sejak 1992 untuk menghormati Kaiko Takeshi (1930-89). Anugerah Nakayama Gishu untuk Sastra dibentuk pada 1993 untuk mengenang penulis fiksi sejarah Nakayama Gishu (1900-69). 

Hadiah Sastra Inoue Yasushi diberikan pertama kali pada 1994 untuk mengenang novelis Inoue Yasushi (1907-91). Anugerah Shiba Ryotaro, 1998, untuk menghormati Shiba Ryotaro (1923-96), seorang penulis yang sangat produktif dan populer.

Untuk mengenang Kuwabara Takeo (1909-88), sarjana sastra Prancis dan salah seorang intelektual terkemuka Jepang abad kedua puluh, dibentuk Anugerah Kuwabara Takeo pada 1998. Anugerah Oyabu Haruhiko (1935-96), pertama kali diberikan pada 1999 untuk para penulis yang meneruskan tradisi fiksi realistik gaya Oyabu Haruhiko.

Ada juga penghargaan yang diberikan atas nama penulis yang masih aktif. Komatsu Sakyo (1931-), pengarang novel sains fiksi, sejak tahun 2000 memberikan Anugerah Komatsu Sakyo yang terbuka untuk para penulis baru dalam kategori sains fiksi, fantasi dan horor.

Beberapa penghargaan disponsori oleh penerbit atau yayasan dan pemerintah daerah. Untuk kategori yang terakhir, misalnya adalah Anugerah Sastra Sejarah Pribadi yang diberikan oleh pemerintah kabupaten Kitakyushu sebagai kompetisi terbuka untuk karya-karya nonfiksi mengenai pengalaman pribadi yang belum diterbitkan. 

Kota Uji di wilayah Kyoto, yang diasosiasikan dengan novel abad kesebelas Genji Monogatari, memberikan Anugerah Murasaki Shikibu sejak 1991. Pemerintahan wilayah Miyazaki, tempat kelahiran penyair tanka Wakayama Bokusui (1885-1928), memberikan Anugerah Wakayama Bokusui sejak 1997.

Sebuah anugerah yang agak tidak biasa diberikan sejak 1991 oleh Tokyu Bunkamura, sebuah kompleks teater dan sinema yang berlokasi di Shibuya, Tokyo. Anugerah itu dinamakan Bunkamura Deux Magots Literary Prize, karena terkait dengan pembukaan cabang restoran Les Deux Magots yang berpusat di Paris di kompleks itu. 

Penghargaan lain yang tak terkait secara khusus dengan soal sastra adalah Anugerah Rennyo untuk karya nonfiksi sejak 1994. Anugerah ini diberikan atas nama seorang pendeta Buddha periode Muromachi bernama Rennyo (1415-99). Bahkan ada pula Ocean Literary Prize yang diberikan sejak 1997, disponsori bersama oleh Japan Maritime Public Relation Center dan Yayasan Nippon untuk memperingati hari libur nasional yang disebut "Hari Laut" (20 Juli).

Penghargaan berdasarkan genre, antara lain adalah The Japan Mystery Prize yang mulai diberikan sejak 1997. Dalam genre fiksi populer (hiburan), ada Kadokawa Haruki Fiction Prize untuk penulis pemula sejak 1999. Untuk puisi, mulai 1999 dibentuk Ono Tozaburo Prize, atas nama penyair asal Osaka yang karya-karyanya mencerminkan budaya daerah tersebut.  Sebuah penghargaan baru untuk naskah drama muncul pada 1998, Tsuruya Namboku Prize, mengambil nama seorang penulis naskah drama terkenal dari penghujung periode Edo Tsuruya Namboku (1796-1852).

Secara umum, anugerah-anugerah sastra di Jepang membentuk hierarki piramid. Seorang penulis dapat mengawali langkahnya dengan ikut berkompetisi dalam salah satu anugerah yang disponsori penerbit untuk kateogri "karya penulis baru yang belum diterbitkan". Anugerah dalam kategori ini antara lain Bungakukai New Writers Award (disponsori oleh penerbit Bungei Shunju), Shincho New Writers Award (Shinchosha), Gunzo New Writers Award (Kodansha), Bungei Award (Kawade Shobo Shinsha), dan Subaru Literary Award (Shueisha).

Untuk pengarang pada tingkat yang lebih lanjut ada anugerah Akutawaga, Mishima Yukio Prize (Shinchosha), atau Noma Literary Prize (Kodansha). Ketiganya ini merupakan anugerah paling prestisius dalam dunia literatur Jepang. 

Akutagawa Prize (Akutagawa Ryunosuke Sho) pertama kali diberikan pada 1935 oleh Kikuchi Kan, editor majalah Bungei Shunju, untuk mengenang novelis Akutagawa Ryunosuke. Pemenangnya menerima hadiah uang tunai sebesar satu juta yen dan mendapat liputan luas dari media.

Shintaro Ishihara yang pada awal 2000-an menjabat gubernur Tokyo adalah seorang novelis yang pernah meraih penghargaan ini dan kini duduk sebagai juri dalam komite seleksinya. Novelis Jepang peraih Nobel di bidang sastra, Oe Kenzaburo, juga pernah mendapatkan anugerah ini. Pada 1999, Akutagawa Prize ke-120 diberikan kepada penulis muda Hirano Keiichiro, untuk novelnya Nisshoku (Gerhana Matahari). Ketiga novelis ini--Shintaro Ishihara, Oe Kenzaburo dan Hirano Keiichiro--meraih anugerah tersebut pada usia yang sama: 23 tahun.

Karya yang berhasil meraih penghargaan prestisius ini biasanya selalu menjadi bestseller di pasaran. Sebuah karya yang meraih Akutagawa Prize, misalnya, bisa dipastikan akan terjual sedikitnya 100 ribu eksemplar. 

Meraih salah satu penghargaan ini seperti mendapat paspor menuju karier yang sukses di dunia penulisan. Dengan cara ini, dunia penerbitan Jepang terus memacu kebutuhan untuk mencari bakat-bakat baru dalam penulisan. Kita dapati kondisi yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia, yang masih minim tradisi pemberian anugerah untuk menghargai pencapaian yang diraih para penulis. 




Comments

Popular posts from this blog

Atonement (Novel)

Bincang Buku-buku Karen Armstrong

The Bone Collector (1999)