Camera Lucida: Apa yang Membuatmu Terpukau?




Tengah berduka atas kematian ibunda, Roland Barthes mencari foto sang ibu. Peristiwa ini mendorongnya untuk menuliskan salah satu buku yang paling berpengaruh dalam wacana kajian fotografi, Camera Lucida, yang juga merupakan karya terakhirnya.

Suatu malam di bulan November, tak lama setelah kematian ibuku, aku membongkar koleksi foto. Aku tak berharap "bertemu" ibuku lewat foto itu, aku tidak mengharapkan apa-apa dari "foto tentang sesuatu yang di hadapannya kita tak mampu mengingat dengan lebih jelas daripada sekadar memikirkan sesuatu itu."

Ada apa dengan sebuah foto. Apa yang kau harap dari melihatnya. Apa yang membuatmu tertegun memperhatikannya. Pesan apa yang disampaikannya, khusus untukmu?

Roland Barthes tidak tertarik dengan apa kata orang. Foto yang kebetulan menarik perhatiannya mungkin tidak tampak istimewa. Tetapi dia tertarik pada selintas perasaan yang dibangkitkan oleh foto itu di dalam dirinya. Dia ingin menggali apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri saat melihat foto itu. Pikiran dan perasaan apa yang terbangkitkan di dalam dirinya. Yang menarik baginya, mungkin tampak acak dan tak penting bagi orang lain.

Coba lihat lagi. Foto yang dikirim seseorang padamu beberapa waktu lalu. Foto di pantai pada saat senja, seekor burung camar terbang melayang di langit jingga. Bagi orang lain itu hanya foto biasa, tapi bagimu bisa jadi penting--penuh teka-teki, mengundang tanya. 

Apakah orang itu membayangkan dirinya sebagai burung camar? Apakah burung itu sendirian? Mungkin dia ingin menjadi seperti burung ini. Mengapa sinar matahari dalam foto ini tampak begitu berbeda dan mengesankan? 

Foto itu seolah sarat dengan arti tersembunyi--mengandung pertanyaan-pertanyaan lebih dalam yang masih belum terungkap. 

Barthes tidak ingin kita cepat-cepat meletakkan foto itu begitu saja, lalu melupakannya. Dia ingin kita terus memperhatikan, melihatnya, mencari kata yang tepat tentang pikiran apa yang terlintas di benak kita saat melihatnya.

Barthes tertarik pada saat-saat kita diam mempertanyakan sesuatu, dan dia ingin memberi kita keberanian untuk memikirkannya lebih lama lagi. Biarpun tak ada orang lain yang berhenti untuk memperhatikannya, tapi nyatanya kamu berhenti dan memperhatikan. Mengapa? Emosi apakah yang membuatmu melihat lekat-lekat pada satu objek di dalam foto itu--sebuah detail di dalamnya, warna yang berbeda, garis yang samar, senyum kecil di sudut bibir subjek foto? 

Foto itu membangkitkan hasrat dan konflik yang tersembunyi jauh di dalam dirimu, yang pada awalnya terabaikan, tak terjangkau. Tapi ia kini muncul ke permukaan, dipicu oleh sebuah detail di dalam foto. Bertahanlah hingga kamu temukan jawabannya. Itulah ajakan Roland Barthes dalam buku ini. 



Info Bibliografis:
Camera Lucida
Tahun pertama terbit: 1980
Penulis: Roland Barthes
Penerbit: Hill & Wang
Penerjemah: Richard Howard
Judul asli: La Chambre claire



Comments

Artikel Baru

Dua Bulan di Langit 1Q84

Dilema Schadenfreude

Nengsih: Kisah Lara dari Cimenyan